Search results for: mencari+rejeki
Marhaban ya Rajab
Terhitung sejak kemarin Maghrib kita sudah memasuki bulan Rajab. Sangat disunnahkan untuk memperbanyak puasa sunnah di bulan Rajab dan Sya’ban nanti. Bulan Rajab adalah salah satu diantara bulan-bulan yang dimuliakan Allah SWT. Bahkan ada yang menganggap, sukses kita di bulan Ramadhan nanti, tergantung bagaimana kita mempersiapkan diri di bulan Rajab dan Sya’ban ini.
Saya mungkin tidak membahas keutamaan bulan Rajab disini, karena saya yakin sudah banyak yang membahasnya. Anda bisa googling sebentar dan menemukan banyak artikel tentang keutamaan bulan rajab dari berbagai madzhab yang ada. Tapi yang ingin saya bahas disini adalah bagaimana kita memanfaatkan moment Rajab ini sebagai jembatan atau tolakan menuju suksesi Ramadhan nanti.
Diakses dengan kata kunci:
Keep Anonymous
Anonymous artinya penyamaran atau kalau biasanya orang ngasih sedekah tuh pakai nama Hamba Allah. Dulu, dimasa-masa saya mulai internetan, semua orang menggunakan nama-nama samaran. Sangat jarang kita tahu nama seseorang hanya lewat internet. Kita harus melakukan interaksi dulu, misalnya kirim-kiriman email atau chatting baru kita bisa tahu namanya. Untuk tahu fotonya, wah lebih susah lagi. Kita musti dekat banget baru deh bisa tahu fotonya. Itupun biasanya dikirim via surat..
Tapi di masa sekarang, kita bisa tahu data pribadi seseorang lengkap dengan foto dan status bahkan mungkin keluhan-keluhan maupun perasaannya saat ini. Dengan menjadi temannya di facebook, kita bisa dengan mudah mengetahui apa kebutuhannya.
Diakses dengan kata kunci:
Dua Cara Mencari Rejeki
Ini cerita lama yang dulu diceritakan oleh guru ngaji saya waktu kecil. Beliau berkisah tentang dua orang yang sedang berkemah di sebuah gunung. Lama kelamaan bekal yang mereka bawa sudah habis. Akhirnya salah seorang diantaranya sebut saja Panjul bermaksud untuk turun ke desa mencari rejeki.
Tapi seorang lagi sebut saja Bejo mengatakan akan coba berdoa pada Allah untuk mendatangkan rejeki bagi mereka. Si Panjul tertawa, mana bisa rejeki datang cuma dengan berdoa? Kita harus tetap berusaha agar mendapatkan rejeki.
Bejo tetap bersikukuh bahwa rejeki datang dari Allah, bukan dari manusia. Dan Panjul tetap juga dengan pendapatnya bahwa rejeki itu harus dicari, harus bekerja. Rejeki tidak mungkin datang tiba-tiba begitu saja. Karena tidak juga menemukan kesamaan pendapat, akhirnya mereka sepakat membuktikan siapa yang paling benar.
Diakses dengan kata kunci:
Anda Kerja untuk Apa?
Ini pertanyaan penting sebelum anda memulai suatu pekerjaan apapun. Jawaban pertanyaan ini sangat menentukan kualitas pekerjaan yang anda hasilkan nantinya. Dan kualitas ini tentunya berbanding lurus dengan rejekin yang bakal anda dapatkan.
Ada suatu cerita 3 orang tukang batu. Pekerjaan mereka sama, gaji sama, tapi niat lain. Ya, jawaban mereka atas pertanyaan untuk apa anda bekerja benar-benar lain. Dan mari kita lihat bagaimana mereka bekerja.
Pekerja pertama menumpuk bata-bata begitu saja. Dia bekerja dengan sangat cepat tapi sama sekali tidak rapi. Diapun kerja dengan bibir yang jauh dari senyum
Pekerja kedua menumpuk bata satu per satu dengan senyum. Meluruskan letaknya dan mulai melapisinya dengan semen. Pekerja inipun bekerja dengan cepat tapi masih sedikit santai
Pekerja ketiga menumpuk bata dengan lamban. Dia meletakkan bata-bata begitu rupa sehingga nampak artistik. Diapun melapisinya dengan semen dan memolesnya dengan begitu halus. Semen yang dipakaipun nampak begitu lembut seolah-olah disaring menggunakan saringan paling halus.
Diakses dengan kata kunci:
Jangan Persempit Rejeki Anda
Kali ini kita akan coba kembangkan sedikit ilmu syukur kita untuk memperluas rejeki. Hati-hati dengan judul diatas karena merupakan kalimat negatif yang biasanya sering jadi salah kaprah.
Tahukah anda? Bahwa banyak sekali diantara kita yang menyempitkan rejekinya sendiri. Maksudnya gimana?
Rejeki itu sebenarnya luas bahkan amat luas hingga Allah sendiri berkata:
“Dan sekiranya kamu menghitung nikmat Allah, niscaya tidak dapat menghitungnya. Sesungguhnya Tuhan itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (Surah an-Nahl, ayat 18)
Tapi kita sendiri yang kemudian menyempitkannya dengan membatasi bahwa rejeki itu hanyalah berupa uang. Kita mengecilkan makna rejeki hanya dalam hitungan angka-angka rupiah, dollar, euro, dll. Kita mengecilkan rejeki dengan memberi makna bahwa rejeki itu hanya berupa harta kekayaan saja.
