Jadilah Subyek, Bukan Obyek

May 11th, 2010 | By Lutvi Avandi | Category: Sharing

Gaji nggak naik-naik padahal kebutuhan hidup naik semua. Harga-harga melambung tinggi, beras sudah susah dibeli. Pengangguran dimana-mana. Kejahatan merajalela. Sungguh hidup ini tiada artinya. Ini semua salah pemerintah yang nggak becus mengurus rakyatnya. Ini salah bos yang gak peduli nasib karyawan dan hanya menjadikan buruh sebagai sapi perah semata.

Sering dengar kata-kata atau baca tulisan-tulisan seperti diatas? Saya yakin sering. Saya aja yang jarang ketemu orang juga sering dapat kok. Dan maaf, walaupun anda terus mengatakan hal-hal diatas, perubahan yang anda inginkan justru akan semakin jauh.

Lalu bagaimana agar ada perubahan?

Pertama adalah dengan menjadikan diri kita subyek dari perubahan itu sendiri. Saat gaji anda tak kunjung naik dan anda berpikir sebagai korban gaji tak naik itu, maka saat itu anda sudah menjadi obyek.

Untuk bisa menjadi subyek, kita perlu berpikir seperti ini. “Wah, saya harus melakukan sesuatu agar gaji sedikit ini bisa berlipat atau minimal cukup untuk kebutuhan sebulan”.

Sementara bila kita jadi obyek, maka pikiran kita akan seperti ini. “Wah, gaji cuma segini, gak mungkin cukup deh buat sebulan”.

Bisa anda bedakan?

Bila kita menghendaki perubahan, maka mari kita mulai dari diri kita sendiri. Tak perlu menghabiskan energi dan waktu untuk memikirkan bagaimana kondisi ekonomi negara ini. Tak perlu kita pusing mengurus masalah century yang gak kunjung selesai dan cobalah untuk berpikir lebih mikro dan lebih bermanfaat.

Kita sadar pengangguran di negeri ini merajalela. Jika kita cuma berkomentar dan menuding pemerintah sebagai biang kerok masalah ini, maka kita sudah menempatkan diri sebagai obyek. Tapi jika kita mulai memikirkan bagaimana membuat lapangan pekerjaan, atau bagaimana mengajari para pengangguran agar punya bekal ilmu cukup untuk memulai usaha, maka kita sudah bertindak sebagai subyek.

Kita sadar harga-harga naik. Jika cuma berkomentar dan mengeluh, maka kita sudah bertindak sebagai obyek. Tapi jika kita melakukan usaha-usaha sampingan untuk mendapat penghasilan tambahan, maka kita sudah menjadi subyek.

Kita sadar korupsi di negeri ini sudah merajalela. Jika cuma menyalahkan si ini dan si itu, maka kita sudah menjadi obyek. Tapi bila kita mulai bertindak jujur, berkata jujur kepada anak dan istri kita, berkata jujur kepada atasan dan rekan kerja kita apapun resikonya, maka kita sudah menjadi subyek.

Bayangkan, jika hal-hal kecil itu dijalankan oleh 1/2 penduduk negeri ini. Saya jamin negeri ini akan jauh lebih baik. Kata Aa’ Gym, “Mulailah dari yang Kecil, Mulailah dari Diri Sendiri dan Mulailah dari Sekarang”.

Diakses dengan kata kunci:

TWEET THIS!

4 Responses to Jadilah Subyek, Bukan Obyek