Bad News is Good News
May 12th, 2010 | By Lutvi Avandi | Category: Sabar dan Syukur
Dalam dunia jurnalis, dikenal istilah Bad News is Good News. Maksudnya adalah setiap berita yang buruk adalah berita yang bagus bagi para jurnalis. Maka, jangan heran jika koran-koran, acara televisi atau majalah yang membahas hal-hal yang buruk biasanya juga banyak peminatnya.
Berita-berita baik seperti 100% siswa Indonesia lulus ujian atau Ujian berjalan aman tanpa ada yang mencontek atau para siswa belajar dengan baik di sekolahnya yang bagus. Justru gak akan dilirik oleh wartawan. Berita-berita yang akan diambil haruslah yang jelek-jelek. Contohnya: pemerkosaan, pencurian, perampokan, kecelakaan lalu lintas, korupsi, markus, tingkah pejabat yang buruk, dll.
Nah, ternyata berita jelek itu, juga bisa jadi sarana marketing yang sangat handal. Contohnya film Menculik Miyabi. Karena film itu dihujat habis-habisan, di demo dimana-mana sehingga menjadi berita buruk (bad news), maka para wartawan dengan senang hati meliputnya. Akibatnya, film ini justru makin terkenal dan ini jadi pemasaran gratis yang dahsyat bagi mereka.
Contoh lagi adalah hebohnya kartun Muhammad. Sebenarnya kalau kita percaya bahwa Rasulullah itu gak bisa digambarkan karena tidak ada satu saksi matapun yang masih hidup yang benar-benar pernah melihat sosok Rasulullah, maka berarti gambar-gambar yang dibuat oleh orang-orang iseng itu sudah pasti bukan Muhammad Rasul kita kan? Siapa tahu itu bapak mereka sendiri yang dipasangi jubah dan diolok-olok.
Kalau soal tulisan Prophet Muhammad di dekat gambar, kan bisa aja kita anggap orang sedang berdiri di bawah tulisan kan? Jadi buat apa kita marah. Yang akhirnya justru membuat mereka makin gembira. Kita telah membuat bad news yang menjadi good news bagi para wartawan. Dan menjadi alasan musuh-musuh Islam untuk menekan Islam.
Gini deh, coba anda perhatikan anak-anak yang sedang bermain. Dulu saya suka menggoda teman saya yang wataknya memang pemarah. Diolok-olok dikit aja udah marah. Dia lalu mengejar-ngejar saya. Apakah saya kapok untuk tidak mengolok-olok dia? Oo tidak. Saya justru senang. Makin dia marah saya makin senang. Dan teman-teman yang lihat itu, justru ikut-ikutan menggoda. Akibatnya dia yang kebingungan sendiri. Dia ngejar saya, teman saya yang lain godain. Dia ngejar teman itu, teman lain gantian godain.
Karena kesel, diapun nangis. Apakah kami berhenti? Oo tidak, justru kami makin semangat.. hehehe.. Dan saudara-saudaraku, itulah yang terjadi dengan kita umat Islam. Jika kita menunjukkan kemarahan saat rasulullah diolok-olok, maka kita telah memberi HIBURAN GRATIS kepada mereka. Makin kita marah, makin menjadi olok-olokan mereka.
Jadi, hentikan membuat bad news yang justru akan membuat sesuatu yang tidak kita sukai makin populer. Saran saya jika anda menemukan hal yang demikian, sembunyikan saja. Didiamkan dan berdoa kepada Allah agar diberi keputusan yang terbaik. Jika anda mengecamnya, membuat grup-grup di facebook dan mengundang banyak orang untuk ramai-ramai mengecamnya, maka secara tidak sadar anda sudah memasarkan keburukan itu. Boleh jadi yang membuat film menculik miyabi makin populer adalah kita-kita sendiri. Boleh jadi yang membuat kartun-kartun muhammad makin marak adalah ulah kita sendiri. So, cobalah menahan diri dan jadikan Allah satu-satunya yang berhak mengecam dan menghukum mereka. Anda percaya sama Allah kan?

Ini yg sangat kita sesalkan. Mengapa saudara2 kita yg muslim di negeri ini kurang bisa menahan amarah.
Sy pernah baca di salah satu situs yg menghina dan meremehkan nabi dan islam serta tidak mengakui adanya Allah. Bahwa Allah adalah hanya sebongkah batu yg ada di ka’bah.
Yg komentar ratusan dari saudara2 muslimin. Mereka marah dan berkata jelek2 dan mengumpat dgn kata2 yg kotor pada si admin situs tsb.
Dari reply Si Admin tsb, dia semakin bangga. Dan terus memancing supaya yg komentar semakin marah.
Akhirnya apa? Berita tsb semakin menyebar.
Ini yg tidak di sadari oleh saudara2 kita dan lupa akan ajaran Nabi.
Coba aja mrk diam dan tidak mereply artikel tsb..tidak akan heboh..
Semoga mrk sadar akan kekeliruannya.
Ma’af mas Lutvi. Sedikit menyimpang.
Trims
alih2 marah ngga jelas, mungkin lebih baik kita meningkatkan produktivitas hingga bisa memberikan yang terbaik.
Membuktikan dengan ahlaq yang baik tentu lebih kerasa efeknya ketimbang emosi sana sini yang ngga jelas.
Betul. Daripada pusing ngurusi bad news, mending kita kasih good news
Gak menyimpang, sudah searah kok. Malah melengkapi
dan good news is a bad news
bad news is good news?
bad news: rek bank sudah diblokir paypal, gak bisa dipake verifikasi paypal.
good news: jualan vcc rame lagi deh
Saat PayPal bisa di verifikasi pake rek bank, penjual vcc di caci jg.
Saat sekarang ini sdh diblokir, penjual vcc di puja-puja. hehehahe
sepakat
hello mas Lutvi -
memang semua ada strategi nya….
semakin pandai kita mengolah nya semakin baik hasilnya……
no bad no news.
setuju, siapa sih yang ingin membaca hal2 buruk terus? gak ada kan, yang baik yang bermanfaat, itu yang malah berbobot.
saya juga orang yang suka usil. setelah baca artikel ini jadi kepikiran nyentil kawan-kawan blogger nih. hehehe…
Saya juga membaca beberapa grup di FB saling hujat dan caci antar agam, ugh ngeri juga melihatnya..
Dengan adanya dunia maya sekarang hal-hal tabu pun jadi mudah dilakukan tanpa takut ketahuan…
“Boleh jadi yang membuat film menculik miyabi makin populer adalah kita-kita sendiri.”
Yup, apalagi dengan adanya artikel ini jadi makin mempopulerkan film itu.
Dan sadarlah, karena bisa jadi yang diolok olok adalah jauh lebih baik daripada yang mengolok olok.
makanya bad news laku karena karakter SMS pada diri kita yaitu :
SMS(Senang Melihat oranglain Susah)
atau
SMS (Susah Melihat oranglain Senang)
………hehehe