Antara Sabar, Terpaksa dan Putus Asa
Jan 3rd, 2011 | By Lutvi Avandi | Category: Sabar dan SyukurSekilas sulit sekali membedakan antara sabar, terpaksa dan putus asa. Apalagi kalau cuma bermodal ucapan dan tingkah laku dari yang bersangkutan. Padahal kenyataannya, ketiganya benar-benar berbeda. Dan efek ketiganya juga sangat berbeda. Mudah-mudahan artikel ini bisa menjadi cermin, termasuk yang manakah anda saat mengalami cobaan?
Guru saya dulu mengumpamakan sabar itu seperti petinju. Dan saya pikir, ini bisa dijadikan gambaran jelas untuk membedakan ketiga kata tersebut. Karena saya mengamati (terutama di twitter), banyak tweeps yang keliru mengartikan ketiga kata tersebut. Mereka mengatakan sabar, padahal kenyataannya terpaksa. Mereka bilang sabar, padahal udah putus aja. Nah, mari kita perjelas dengan contoh berikut.
Seorang anak TK bertanding tinju melawan Mike Tyson. Si Anak terus menerus memukuli Mike Tyson. Apa yang dilakukan Tyson? Dia hanya diam saja. Pukulan anak itu terasa seperti pijatan saja di tubuhnya. Walau sekeras apapun pukulan si anak, Tyson menanggapinya dengan tenang dan hanya tertawa saja. Apa yang dilakukan oleh Tyson adalah bentuk nyata kesabaran. Sabar punya potensi tapi sengaja di tahan demi kebaikan yang lebih besar. Anda Tyson tidak sabar, sekali pukul tuh anak pasti KO. Tapi apa manfaatnya buat Tyson? Dia jelas tidak akan dapat pijatan gratis lagi. Bangga? Jelas tidak.
Kali ini ada seorang pemuda. Pas di gang dia di kepung 10 preman yang badannya segede Ade Rai. Tuh preman minta duit sang pemuda. Apa yang dilakukannya? Dia menyerahkan semua uangnya pada mereka. Yang seperti ini disebut terpaksa. Aslinya dia ingin sekali menolak, tapi karena merasa tak mampu dia serahkan juga duitnya.
Yang ketiga adalah kebalikan dari kisah Tyson tadi. Karena berkali-kali mukul Tyson tapi dianya gak berkutik, akhirnya si Anak nangis dan pulang ke rumahnya. Inilah contoh putus asa.
Saat mengalami musibah kita selalu dihadapkan dengan 3 pilihan diatas. Apakah kita bersabar, walaupun kita punya potensi dan peluang untuk membalas dendam tapi justru memikirkan langkah terbaik yang lebih bermanfaat. Atau apakah kita terima saja karena kita menganggap tak mungkin melakukan apa-apa. Kita biarkan itu terjadi tanpa melakukan apapun untuk mengevaluasi dan melakukan yang terbaik. Atau jangan-jangan kita lebih drop lagi yaitu berputus asa. Sampai-sampai merasa dunia telah berakhir sudah.
Didalam sabar, ada pasukan yang siap menyerang balik. Ada potensi yang siap meledak dan hanya menunggu waktu yang tepat. Terpaksa ibarat benteng yang sudah tak punya pasukan lagi, atau kalaupun ada semuanya telah kehilangan keberanian dan semangat. Sedangkan putus asa ibarat benteng yang sudah jebol dan pasukan yang tersisa ramai-ramai bunuh diri karena malu dengan kekalahannya.
Mudah-mudahan kita semua termasuk orang-orang yang sabar dan mencintai kesabaran

mas kalo misalnya pemuda tadi yang lagi mo dirampok make ilmu sabar, yang harus dilakuin apaan mestinya?
Sabar itu potensi yang tidak harus dikeluarkan saat itu. Kalau langsung dikeluarkan itu namanya emosi. Bila musibah yang terjadi adalah perampokan maka langkah sabarnya bisa seperti ini:
- Tenang dan mulai mengamati ciri-ciri salah satu pelaku
- Menyerahkan segala sesuatunya pada Allah dengan keyakinan penuh bahwa musibah ini dari Allah semata.
tambahan.. catet plat nomornya kalo bawa motor ato mobil.. ^^