Menyikapi Pemberitaan Media

Jan 7th, 2011 | By Lutvi Avandi | Category: Sharing

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa media massa saat ini selalu membawa misi-misi tertentu di belakangnya. Bagaimana sebuah stasiun televisi tak pernah menyiarkan berita tentang musibah tertentu karena berhubungan dengan pemiliknya. Bagaimana media yang lain menggembor-gemborkan pemberitaan sebuah “LSM” baru karena pemiliknya adalah pendiri LSM itu.

Apakah semua berita itu mutlak salah? Tidak juga. Sebagian ada yang benar, tapi ada juga benar tapi disampaikan dengan cara tertentu sehingga menghasilkan pandangan yang salah. Salah satu contoh kasus yang saat ini sedang marak adalah issue “perceraian” Aa’ Gym dan Teh Ninih. Seharusnya informasi semacam ini sumbernya haruslah yang bersangkutan. Tapi kenapa dalam kasus ini, sumbernya selalu “orang dekat” yang tidak pernah disebutkan siapa dengan alasan privacy dan kode etik.

Bahkan kemarin saya melihat infotaintment yang gak nyambung isinya antara yang disampaikan Yusuf Mansur dengan yang disampaikan oleh Reporter. Reporter dengan seenaknya bilang Aa’ Gym menjual aset-asetnya. Padahal Yusuf Mansur bilang cuma dipinjami saja untuk dipakai sebagai Pesantren Penghafal Al-Quran sebagaimana donatur-donatur rumah tahfiz yang lain.

Saya sendiri juga pernah “terjebak” dengan permainan licik awak media waktu kampanye PKS dulu. Untungnya ada polisi yang melihat kejadian sebenarnya sehingga masalah itu tidak sampai membesar. Dan sepertinya wartawannya juga gak jadi menyiarkan karena kurang greng gara-gara banyak polisi yang tahu.. hehehe..

Kejadiannya waktu kami sedang sebar brosur kampanye. Tiba-tiba ada 2 anak berpakaian seragam minta brosur, katanya dia senang dia PKS. Setelah saya kasih, eh sama kameramennya disuruh membagikan ke pengendara jalan. Maka dibagilah brosur itu sambil di rekam. Ini tentu bisa jadi semacam “bukti otentik” bahwa PKS mengajak anak sekolah kampanye. Edan kan?

Sebenarnya sebagai seorang muslim, kita punya benteng kuat untuk melawan upaya-upaya media dalam menyerang tokoh-tokoh maupun organisasi Islam. Benteng itu adalah “Tabayyun” atau cross-check dan “Khusnudzon” alias Berbaik sangka. Dua benteng ini begitu kokoh saat jaman nabi hingga runtuhnya ke-khalifahan Ustmaniyyah. Dan terima kasih untuk televisi dan media massa yang telah membantu umat Islam meruntuhkan bentengnya sendiri.

Jika kita merasa masih menjadi umat Rasulullah dan masih mengakui syahadat kita serta masih memegang teguh ukhuwah Islamiyah, maka mari kita bangun kembali 2 benteng tersebut. Biarlah media mau ngomong apa soal ulama-ulama kita, tokoh-tokoh kita. Walaupun mulutnya berbusa dengan bau bangkai yang disebarkan oleh mulut-mulut mereka, benteng Tabayyun dan Khusnudzon jangan sampai runtuh.

Lagipula gak ada untungnya percaya sama mereka kan? Apa coba untungnya? Kalaupun yang mereka sampaikan benar, apa kita tiba-tiba mau pindah agama atau tiba-tiba jadi kaya atau apa untungnya? Tapi kalau mereka salah dan kita percaya pada mereka lalu meyakini sebagai kebenaran maka kita telah IKUT MEMFITNAH ULAMA dan silahkan anda pikirkan sendiri apa yang akan anda katakan pada Allah di hari akhir kelak.

Terakhir jika anda masih mau dianggap umat Islam, silahkan baca ini:

“Janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Quran Surat Al-Hujurat: 12)

Dan pesan dari Rasulullah Muhammad SAW:

“Ketika saya dibawa naik, saya melewati suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga yang dengannya mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka. Aku bertanya:’Hai Jibril, siapakah mereka?’ Jibril menjawab: ‘Mereka adalah kaum yang telah memakan daging orang lain dan menginjak-injak kehormatan mereka’.” (HR. Abu Dawud no. 4878 dari shahabat Anas bin Malik dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 4082 dan dalam Ash-Shahihah no. 533)

Mudah-mudahan kita dihindarkan dari fitnah media dan dari dosa Ghibah. Aamiin..

TWEET THIS!

6 Responses to Menyikapi Pemberitaan Media

  • pertamax ni mas!

    iya, sekarang media memnag sudah jauh menyimpang dari tujuannya. Semuanya selalu ke arah komersial tanpa memandang segi moral dan etika.

    jangan kan menggosip, setiap hari dengar gossip aja udah dosa

    brrrrrrrr

  • eser says:

    Beginilah tingkah wartawan kita mas. Yang lebih parah lagi dalam memberitakan sebuah kasus sering sudah dipublikasikan terlebih dahulu barulah kemudian meminta konfirmasi…

  • bobby says:

    Bagusnya nggak nonton TV dengan infotainmentnya, mending denger RRI aja kali ya, pak Lutvi.. seperti nenek saya.. hehehe.. beritanya nggak nyleneh..

  • Abu Furqan says:

    ikut comment.

    Saya sangat sepakat dengan pandangan mas Lutvi tentang media. Untuk media televisi berbasis news, sering mereka sok berposisi netral dan pro rakyat, namun bagi saya cukup kelihatan mereka lebih pro pemilik dan sponsor. Bahkan dalam beberapa peristiwa, terkesan pemberitaannya terlalu berlebihan. Efeknya adalah membingungkan masyarakat awam yang mengakses berita-berita tersebut.

    Semoga masyarakat tambah cerdas memahami dunia pers dan media sehingga tak mudah terbawa arus informasi yang kadang menyesatkan.

  • Klikedukasi says:

    kritis mas lutvi, memang sperti itulah kenyatannya, dilematis kebebasan pers yang kebablasan. Semoga tulisan ini dibaca juga oleh pihak media.

  • Jaman Dulu says:

    Hidupkan kembali Departemen Penerangan !! Buat lagi pasukan pembredel media… tapi jangan yang ngaco kaya’ jamannya Pak Harto ya…!!!

    Inilah kenyataan orang Indonesia Islamnya masih cekak. Harus kita akui… memang aneh 70% muslim Indonesia kok nurut sama yang minoritas. ADA APA INI…???

    Sudah betulkah Islam kita? Kok beda banget sama jaman dulu. Jamannya kakek nenek kita. Ada apa ya..??

    Apa kiamat sudah dekat? Kok makin banyak saja tanda-tanda yang muncul. Astaghfirulloh…!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

[+] kaskus emoticons nartzco