Yang Penting Berbuat Sesuatu

Nov 19th, 2010 | By Lutvi Avandi | Category: Sharing

Seringkali saat kita coba menasehati seseorang akan tindakannya yang salah, kita mendapatkan counter balik berupa kalimat diatas. Anda pernah mengalaminya juga? Sekilas memang pernyataan itu bisa diterima. Apalagi kalau ditambah menjadi seperti ini:

“Yang penting berbuat sesuatu daripada mereka yang nggak berbuat apa-apa”

Akal sementara kita akan langsung menyetujui pernyataan tersebut. Tapi benarkah demikian? Benarkah yang penting berbuat sesuatu lebih baik daripada tidak berbuat? Jawabannya adalah “BELUM TENTU”.

Anda mungkin masih ingat saat mengikuti ujian nasional. Entah bagaimana aturan saat ini, tapi di jaman saya dulu, kalau kita menjawab salah, maka nilainya adalah minus satu. Kalau menjawab benar, nilainya 2. Itu sebabnya kita dituntut benar-benar konsentrasi waktu mengerjakan. Jangan sampai kita menjawab dengan asal (yang penting berbuat) sehingga justru nilai kita makin berkurang dan berkurang.

Saya juga teringat waktu di remaja masjid. Waktu itu ada issue kalau nama organisasi remaja masjid kami mau dirubah. Akhirnya dengan semangat “yang penting berbuat sesuatu”, akhirnya sayapun membuat selebaran dan saya bagi-bagikan bersama dengan majalah bulanan remaja masjid kami. Tidak butuh waktu lama, saat istirahat di sekretariat remas, kami mendapatkan beberapa telp. Hal yang sama juga terjadi pada pengurus takmir yang di pagi buta itu diserbu telp dari jamaah terkait dengan penggusuran remaja masjid.

Memang remas tidak jadi diusik oleh takmir. Tapi yang jelas, saya disidang oleh takmir malam harinya.. hehehe.. Untungnya saya ini cakep jadi masalah itu langsung selesai malam itu juga :D

Usai sidang, saya dapat tips dari pembina remas. Beliau mengatakan kalau niat yang bagus itu harus diiringi dengan tindakan yang bagus. Jangan sampai niat itu justru ternoda gara-gara tindakan kita yang salah. Di satu sisi apa yang saya lakukan bisa dibenarkan tapi dalam kasus ini kegiatan itu termasuk over dosis. Artinya masih ada cara yang lebih elegan untuk mengatasi ini.

Tiap perbuatan itu pasti punya konsekuensi yang harus kita tanggung di kemudian hari. Konsekuensinya boleh jadi menjauhkan kita dari tujuan semula atau mungkin juga mendekatkan kita pada tujuan yang hendak kita capai.

Contoh paling simple mungkin begini. Kita ingin cepat naik haji. Lalu kita coba bersekongkol dengan pihak-pihak tertentu agar bisa mengegolkan proyek yang kita target. Setelah uang bicara, proyek itu memang jadi milik kita dan kita dapat untung besar sehingga bisa naik haji.

Anda lihat? Naik hajinya bagus. Mengerjakan proyek dengan baik dan tepat waktu juga bagus. Tapi melakukan suap agar proyek itu goal, itu yang mengurangi nilai semua tindakan kita. Lalu bagaimana juga dengan Calon PNS yang melakukan suap agar bisa masuk jadi PNS? Coba anda jawab :)

Diakses dengan kata kunci:

TWEET THIS!

10 Responses to Yang Penting Berbuat Sesuatu

  • zaki says:

    yang jadi pertanyaan sekarang mas, gimana bisa tau kalo yang kita perbuat itu bener ato salah kalo kita ndak berbuat? Soalnya kadang saya berpikir hal tersebut benar, tapi setelah di action kan justru malah kebalikannya. Emang sih ada beberapa hal yang udah jelas salahnya, tapi gak sedikit juga yang masih dalam tidak sepengetahuan kita baik dari sisi agama, norma ato apalah namanya

    thanks
    zaki

    • Lutvi Avandi says:

      Kan ada Al-Quran dan Sunnah. Kalau nggak paham, masih ada ulama di tiap RW malah untuk ditanyai. Tuh ulama juga punya guru yang lebih tinggi lagi ilmunya. Jadi, sebelum kena masalah, sebaiknya simpan tuh nomor HP ulama terutama ulama fiqh biar nggak salah langkah. Action cepat itu baik, tapi buru-buru itu buruk

  • wah klo pns saya punya pengalaman yang sangat menyesakkan mas.
    hampir semua persyaratan kita bikin pake duit.
    contoh aja SKCK pengantarnya dari RT, kelurahan, kecamatan itu udah pasti kena Rp. 30.000,-
    belum lagi persyaratan yang lain spt kartu kuning.
    rata2 yang kita keluarkan untuk biaya untuk pengurusan pendaftaran hampir Rp.100.000
    gila banget, kasian orang yang pada daftar. mo cari duit malah keluar duit.
    bahkan saya sempet ngobrol sama orang dia bilang klo pingin jadi PNS harus punya 3D
    Duit Dekeng Dukun… ha ha ha.
    parah.

  • Ayo bersatu, pepatah mengatakan ‘Berasatu Kita Teguh, Bercerai kita Runtuh’

    Diskusi Internet Sehat yu
    http://cucuhermaone.blogdetik.com/umum/membangun-peradaban-indonesia-dengan-internet-sehat/

  • eserzone says:

    Ngga juga kok bro, mungkin pengurusan yang bertele-tele itu di tempatnya bro. Ditempat saya birokrasi untuk pengurusan KTP, SKCK ngga sampe 50.000. Untuk kartu kuning kan ngga dipungut biaya bro?
    Saya jadi PNS ngga keluar biaya yang banyak bro, ngga sampe 200.000 dan saya ngga mempunyai bekengan. Percayakan saja pada kemampuan kita, kalo kita punya keahlian ngapain juga mau suap sana suap sini?

  • situsonline says:

    hidup kita seperti ini !kita tau kelasahan orng lain tapi kesalahan kita sendiri ndak bs kita koreksi

  • Sayang banget yah mas, kalau niat yang bagus dinodai dengan perbuatan yg kurang baik. Bagus tulisannya…

  • Agung Online says:

    Gak tahu deh mas, tapi jika memang ingin membayar untuk masuk PNS tapi kita juga punya keahlian disana. Apakah tetap termasuk perbuatan tidak baik?

    • Lutvi Avandi says:

      Kata kyai saya dulu gini. Kalau mau ngetes perbuatan kita baik atau ndak gampang. Berani ndak ada mengumumkan perbuatan anda pada umum? Gitu aja. Waktu anda bayar untuk bisa masuk PNS walau skill anda mempuni, berani ndak anda katakan pada orang2 bahwa anda membayar Gitu aja deh