Pengorbanan.. inti sari agama Allah

Nov 17th, 2010 | By Lutvi Avandi | Category: Sabar dan Syukur

Mulai kemarin dan hari ini (karena kebetulan beda), umat Islam merayakan hari raya besar - hari raya Idul Adha. Di bulan ini ada amalan yang tak bisa dikerjakan di bulan manapun yaitu Haji dan Qurban. Ramadhan walaupun dianggap bulan mulia, tapi ibadah didalamnya masih bisa dilakukan di bulan lain. Seandainya anda tidak bisa puasa Ramadhan karena sebab syar’i, maka anda bisa menggantinya di bulan lain. Tapi kalau haji dan qurban, kalau anda berhalangan tahun ini, maka anda hanya bisa menggantinya di tahun mendatang. Anda tidak bisa mengganti haji di bulan lain atau berqurban di bulan lain.

Tapi tahu tidak kalau inti sari semua peribadatan kepada Allah adalah qurban. Bukan hanya pengorbanan harta, tapi juga waktu bahkan jiwa. Ketika kita bersyahadat, kita telah mengorbankan kebebasan kita dalam memilih agama yang kita yakini, tuhan2 yang kita sembah, nabi-nabi yang kita anut. Kita korbankan semuanya dan hanya menyembah pada Allah dan hanya mengikuti syari’at yang dibawa rasulullah Muhammad SAW.

Saat kita sholat, kita mengorbankan waktu kita untuk bekerja dan menyembah Allah walau cuma 5 menit dan 5 kali sehari. Saat ramadhan, kita mengorbankan kesenangan kita menyantap makanan, berhubungan dengan suami atau istri. Kita korbankan untuk bisa mentaati perintah Allah untuk berpuasa. Dan kita juga mengorbankan harta kita untuk berzakat dan berinfaq. Harta yang kita cari dengan susah payah kita berikan begitu saja pada mereka yang berhak menerimanya.

Saat haji, tak terbilang lagi besarnya pengorbanannya. Mulai harta, waktu, tenaga bahkan sebagian lagi nyawa. Kita rela berdesak-desakan saat tawaf, sai dan saat melempar jumrah. Kita rela berdiam diri di padang Arafah semua demi menjalankan perintah Allah.

Bagi mereka yang hanya mementingkan urusan dunia, apa yang kita lakukan ini akan dianggap kegiatan bodoh dan sia-sia. Bayangkan aja, ngapain juga berjuta-juta orang berdesak-desakan gitu. Kenapa nggak cari hari lain aja yang lebih sepi.

Mungkin kita akan tertawa (atau malah marah) ketika mendengar orang berkata demikian. Tapi para penyembah Allah, dengan jiwa pengorbanan di dalamnya seharusnya menghadapinya dengan kesabaran. Minimal mengingatkan mereka akan kekeliruan yang mereka perbuat. Kalau mereka tidak mau berubah, maka kita kembalikan lagi urusannya pada Allah. Tugas seorang muslim adalah mengingatkan. Kita hanya diminta menyampaikan kabar gembira dan peringatan.

Dan berdakwah adalah pengorbanan juga. Saat menyampaikan kebenaran, kita pasti akan mendapatkan hujatan. Jangan harap kita mendapatkan feed back yang sopan karena yang kita hadapi bukan kyai. Tapi kebenaran tetap harus disampaikan, pengorbanan harus diberikan. Siapa tahu diantara orang-orang itu walaupun saat ini belum sadar, tapi suatu ketika akan sadar juga. Mungkin juga ada orang lain yang mampu menyampaikan dengan lebih baik sehingga pondasi yang telah kita tanamkan terwujud menjadi istana keimanan dihatinya.

Seorang muslim harus berkorban. Bukan cuma sapi atau kambing, tapi lebih dari itu. Karena kita sendiri yang berikrar tiap sholat, “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku, hanya untuk Allah Rabb seluruh alam”. Apakah setelah 5x sehari kita mengucap itu, lalu kemudian kita tarik lagi setelah sholat usai? Mudah-mudahan tidak. Mari kita belajar untuk berkorban. Minimal mengorbankan waktu kita atau space blog kita untuk mengingatkan saudara-saudara kita yang tengah terbuai mimpi indah kenikmatan duniawi.

Diakses dengan kata kunci:

TWEET THIS!

Comments are closed.