Melayani Tuan yang Lain
Nov 15th, 2010 | By Lutvi Avandi | Category: Sabar dan Syukur
Alkisah ada seorang buruh tani bernama Bejo yang telah dikontrak oleh pak Panjul untuk menggarap sawahnya yang berhektar-hektar. Si Bejo pun dengan semangat menggarap sawah, menanami dan memupuk. Dia bekerja dari pagi hingga sore dan hanya beristirahat sebentar saja.
Semua orang dikampung mengatakan si Bejo adalah petani teladan. Pekerja keras dan tak kenal lelah mengolah sawah.
Saat masa Panen tiba, Bejo datang ke rumah pas Panjul untuk meminta upah mengolah sawah. Pak Panjul justru marah besar. Bejo heran, kenapa pak Panjul marah? Bukankah dia adalah pekerja keras, petani hebat dan rajin?
Selidik punya selidik ternyata Bejo memang bekerja keras, tapi dia bukan bekerja keras di sawah pak Panjul, melainkan di sawah orang lain. Ada banyak sawah dia garap, tapi tak satupun sawah milik pak Panjul disentuhnya.
Kita semua ini ibarat Bejo yang punya kontrak dengan Allah. Kita lahir ke dunia ini bukan kebetulan, tapi dengan misi dan dengan kontrak yang jelas yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya.
Tak peduli sebaik apapun anda, berapa milyar atau trilyun uang yang anda berikan untuk orang lain tapi kalau dilakukan di luar jalur yang ditentukan Allah dan bukan untuk Allah, maka sama seperti bejo yang menggarap sawah milik orang lain.
Namun sayang, banyak sekali dari kita ini lupa akan hal mendasar dalam hidup ini. Bahwa kita hidup ini karena Allah, untuk Allah dan akan kembali pada Allah. Dengan sombongnya kita sering berkata, kalau cuma berdoa saja mana bisa kita dapat solusi. Kalau cuma berdoa saja apa rejeki akan turun dari langit? Persis sekali dengan omongan para atheis yang berusaha mendoktrin untuk tidak menyembah Allah. Lebih parah lagi, doktrin bahwa doa itu cuma pelengkap atau istilahnya cuma legalitas aja juga banyak dianut oleh para ulama.
Cara mudah atau cara susah
Saya selalu percaya ada 2 jalan menggapai tujuan. Cara mudah dan cara susah. Hebatnya, kebanyakan manusia lebih memilih cara susah daripada cara mudah. Apa cara mudah? Dan apa cara susah?
Cara mudah adalah menyerahkan sepenuhnya urusan pada Allah. Melakukan apa yang perlu dilakukan selama itu ada di jalan Allah. Menyerahkan seluruh proses pada Allah dan mengikuti petunjuk Allah. Cara ini lebih banyak menguras energi hati dan pikiran karena Allah seringkali menguji kesungguhan permintaan kita. Tapi cara ini justru menghasilkan hasil-hasil yang luar biasa dan takkan bisa ditangkap nalar para pecinta dunia.
Cara susah adalah singkirkan Allah dulu, kerja dulu, usaha dulu, berusaha sekeras mungkin. Banting tulang peras keringat. Kalau sudah gagal, mengalami jalan buntuk, baru deh cari Allah (istilah kerennya tawakkal). Dan biasanya penganut cara ini, sering menabrak-nabrak hukum Allah. Buka aurat bagi wanitanya (dengan alasan profesional), meninggalkan sholat dan yang paling parah ya itu tadi, menyingkirkan Allah untuk sementara.
Pilihan di tangan anda
Untungnya Allah itu Maha Penyayang. Tak peduli jalan manapun yang kita pilih Allah membebaskan kita. Jika anda lebih suka jalan susah, maka silahkan lalui dan jika anda ingin jalan mudah, anda pun boleh melewatinya. Artikel ini bukan mengajak anda untuk jadi pemalas, karena memilih jalan mudah. Artikel ini juga tidak berusaha menyalahkan anda yang berangkat pagi pulang malam meninggalkan anak istri karena memilih jalan susah.
Tapi artikel ini berusaha menyadarkan kita semua bahwa kita punya kontrak yang harus dipenuhi. Dan kita tak pernah tahu kapan Allah akan memanggil kita. Apakah saat kita sedang melupakan-Nya? Atau saat kita sedang mengingat-Nya.
Dunia cuma ujian, semua ini cuma hayalan. Dunia itu fana’ dan fana’ artinya rusak atau tidak kekal. Jika anda pernah nonton film, maka seharusnya seperti itulah sikap anda terhadap dunia ini. Ini semua hanyalah film dan cepat atau lambat film itu akan berakhir, tirai akan ditutup dan kita akan terbangun dari mimpi indah dunia ini… di alam kekal..

the best posting of the week mas lutvi….saya langsung mengkerutkan alis + garuk2 kepala pas baca 2 paragraf terakhir….
thanks atas pencerahannya
saya sendiri juga merinding pas membaca lagi. rasanya mau nangis.. kuatir kalau saat itu datang pas ketika kita lupa sama Allah
Terkadang kita ini ga tahu ada cara mudah yg bisa dilakukan..!
terima kasih sudah mengingatkan mas..!