Menikmati Musibah

Nov 13th, 2010 | By Lutvi Avandi | Category: Sabar dan Syukur

Judul yang aneh ya? Tapi sebenarnya itulah yang harus dilakukan tiap kali kita mendapatkan musibah. Apapun itu baik yang kecil maupun yang besar. Saya teringat cerita guru saya dulu tentang Umar bin Khattab yang begitu gembira bila mendapat musibah. Kenapa?

menikmati-musibah

Musibah mengurangi Dosa

Tidak perlu repot-repot sholat taubat, istighfar berkali-kali, dengan mendapat musibah maka otomatis dosa berkurang. Bagaimana Umar ndak senang dengan tawaran ini? Bahkan kalau bisa dia ingin dapat musibah bertubi-tubi agar dosanya berkurang bahkan kalau perlu masih utang alias kalau nanti berbuat dosa sudah ada cadangan musibah heheheh…

Jika kita bertaubat, belum tentu dosa kita berkurang. Tapi dengan mendapat musibah, sudah pasti dosa kita akan berkurang. Tentu saja tergantung besar kecilnya musibah yang kita alami.

Musibah akan Membawa Ganti yang Lebih baik

Anda kehilangan benda, kehilangan orang yang anda sayangi atau mungkin kehilangan kesempatan-kesempatan bisnis? Tenang bro, itu berarti Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Umar begitu senang mendapatkan musibah karena berarti dia akan mendapatkan ganti yang lebih baik.

Misalnya kita punya motor jelek nih. Trus ada orang datang, pak saya bawa motornya ya? Nanti saya ganti motor baru. Kira-kira anda gimana? Apakah anda akan pertahankan motor itu atau anda berikan? saya jamin anda akan berikan motor jelek itu untuk diganti motor yang lebih bagus. Begitu juga dengan musibah, setiap musibah akan diganti oleh Allah dengan yang lebih baik. Maka jangan heran kalau Umar bin Khattab begitu senangnya ketika menerima musibah

Musibah menandakan Naiknya Derajat Seseorang

Jika anda merasa hidup anda gitu-gitu aja. Anak sehat, istri cantik, harta banyak, semua oke, pekerjaan lancar, kawan banyak, maka hati-hatilah karena bisa jadi anda sedang diacuhkan oleh Allah. Musibah adalah cara Allah menaikkan derajat keimanan seseorang. Seringkali orang itu jatuh imannya karena mendapatkan begitu banyak nikmat. Tapi begitu banyak yang berhasil ketika diuji dengan musibah.

Umar bin Khattab amat sangat senang mendapat musibah karena itu berarti Allah sedang menaikkan derajatnya. Jika dia sabar aja maka naik deh derajatnya. Begitu mudah naik derajat lewat jalur musibah.

Tapi jika anda mendapat ujian nikmat, ada banyak hal yang harus dilakukan seperti sedekah, memanfaatkan nikmat itu untuk kemanfaatan orang banyak, dll. Banyak sekali pekerjaan. Sementara kalau dapat musibah, asal kita sabar aja, tidak mengeluh alias komplain ke Allah, dapat deh derajat yang lebih tinggi.

Bisa dikata naik derajat lewat jalur musibah itu ibarat naik lift. Pelan memang tapi gak perlu banyak kerja. Cukup sabar menanti saja. Sedangkan kalau lewat jalur nikmat, ibarat naik tangga :)

Saat ini negeri kita tengah dilanda musibah. Bukan cuma musibah tsunami di Mentawai atau musibah akibat aktifitas vulkanik Gunung Merapi, tapi musibah yang jauh lebih besar adalah musibah serbuan kemaksiatan. Tayangan-tayangan dari kotak pengendali pikiran bernama televisi tak henti-hentinya menyerbu.

Diakses dengan kata kunci:

TWEET THIS!

Tags:

2 Responses to Menikmati Musibah