Hari Raya Pekanan Umat Islam
Jun 25th, 2010 | By Lutvi Avandi | Category: SharingHari Jum’at.. hari mulia
bagi umat Islam sedunia
Sembahyang.. bersama…
Tak seorangpun.. umat Islam
Dibolehkan.. meninggalkan..
Itulah sedikit lirik lagu Hari Jum’at yang dipopulerkan oleh mbak Ida Laila. Selanjutnya silahkan dengerin sendiri deh lagunya. Anda bisa download MP3-nya disini.. hehehe
Sebagai seorang muslim sudah seharusnya hari Jum’at ini menjadi hari yang dinanti dan berusaha sekuat tenaga untuk memuliakannya. Saya teringat dengan penjual sayur yang sering berkeliling di komplek perkampungan kami. Dia selalu libur tiap hari Jum’at. Seolah-olah hari Jum’at benar-benar merupakan hari libur nasional umat Islam.
Hari Jum’at Hari Libur Nasional?
Dulu ada beberapa usulan yang ingin menjadikan hari libur yang biasanya tiap Ahad, diganti tiap Jum’at. Tapi terus terang saat itu saya kurang setuju. Kenapa? Justru dengan meminta semua orang beraktifitas seperti biasa, kita bisa memaksimalkan hari Jum’at. Bagaimana itu?
Seharusnya bukan diliburkan, tapi menjadikan hari Jum’at sebagai hari pembinaan mental spiritual. Bukan hanya bagi umat Islam, tapi juga umat lain. Saat itu pelajaran-pelajaran di sekolah diisi dengan pembinaan akhlak dan perbaikan mental.
Dimulai pagi misalnya dengan senam atau olahraga, kemudian dilanjutkan dengan sholat dhuha dan ceramah agama atau diskusi antar siswa dan guru. Menjelang sholat Jum’at bisa diberikan materi-materi tentang akhlak dan pergaulan. Ini yang aneh, banyak orang-orang pinter, pengamat dan pemerhati anak mengatakan pentingnya pendidikan pergaulan tapi kok ya cuma berhenti di talk show doang nggak ada kelajutannya. So, kalau nyari sekolah buat anak, tanyakan tuh gimana mereka mendidik cara bergaul murid-muridnya.
Nah, setelah panjang lebar jelasin soal bagaimana bergaul dan berakhlakul karimah langsung ditutup dengan sholat Jum’at berjamaah. Akur deh… kalau tiap jum’at seperti itu, masak sih kelak kita nggak punya pemimpin yang berakhlak mulia dan baik dalam pergaulannya?
Lha anak sekarang idolanya kayak gitu. Baju aja melas banget sampe robek-robek gitu nggak mau ganti. Katanya ngetrend. Kalaupun ada yang bagus tapi karena kurang bahan hasil akhirnya baju yang cukup buat anak SD dipaksakan dipakai juga.
Lalu betapa banyaknya saat ini beredar video-video dan foto-foto parno yang dimodeli oleh siswa-siswi kita. Ini mustinya jadi perhatian penuh para pendidik kalau mereka masih bangga dengan sebutan pendidik. Ataukah guru-guru sekarang sudah bukan pendidik lagi? Tapi lebih kepada pelajar atau lebih parah lagi sebagai pegawai departemen pendidikan saja? Menyalahkan orang tua juga percuma, lha orang tuanya juga hasil didikan guru-gurunya terdahulu kok. Yang menjadikan pelajaran agama sebagai hafalan dan wacana saja. Yang menjadikan pancasila hanya sebagai sarana mendapatkan nilai dan kelulusan.
Yuk, kita jadikan hari Jum’at hari mulia. Kita tata lagi agenda-agenda di hari mulia ini. Kita bikin syaten dan tentara-tentara serta antek-anteknya marah, blingsatan dan makin benci dengan kita. Bukan dengan hafalan teori-teori, tapi dengan tindakan nyata, aksi nyata dan bukti nyata. Moga Allah memberkahi kita semua di hari yang mulia ini.. Aaamiin


Amiiin ..
Wah belum beruntung mendapat pertamaxx…
Saya sangat setujuh mas Lutvi dengan usulan mas lutvi di atas. Kadang kita pandai memberi contoh tapi gak bisa Menjadi contoh.
Saya usul, gimana kalau Mas Lutvi diangkat jadi Menteri Pendidikan?
giliran berbau religius langsung komennya dikit.
Setuju mas, mesti ada semacam program pembinaan spiritual yg baik.
Guru2 sekarang mayoritas bukan pendidik, hanya pengajar. Ngga mau tau atau seakan2 lepas tanggung jawab klo disinggung masalah moral. Paling2 guru agama dan PKN saja yg turun.