World is Just a Game
Aug 3rd, 2010 | By Lutvi Avandi | Category: Sabar dan Syukur
Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan sendagurau. Dan jika kamu beriman dan bertaqwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. (QS.47:36).
Banyak ustad atau kyai yang mengartikan ayat itu dengan menjadikan akherat sebagai tujuan utama hidup ini. Dunia ini hanyalah jalan saja yang akan segera berlalu. Rata-rata ulama membahas masalah keutamaan akherat dibandingkan dunia. Tapi ketika ayat ini saya dengar dulu, saya lebih suka pada kata-kata permainan dan senda gurau.
Intinya sih sebenarnya sama antara yang saya tangkap dan yang disampaikan oleh para ulama kita. Tapi mungkin kalau anda melihatnya dari sisi saya, anda akan lebih asyik menjalani kehidupan di dunia ini.
Coba telan ayat itu mentah-mentah atau kalau anda tak suka istilah ini, anggap saja itu ayat yang matang dan siap santap tanpa perlu penjelasan lebih dalam lagi. Dunia hanyalah permainan. Atau boleh juga kita katakan Dunia adalah Permainan. Kalau mau lebih keren lagi World is Just a Game. Nah, saya yakin anda tahu apa itu game dan apa itu permainan. Saya yakin anda semua pasti pernah bermain-main tak peduli waktu kecil atau sampai usia kepala 3 seperti saya.
Oke, bayangkan sebagaimana ayat diatas. Bayangkan anda sebagai mario bross atau luigi. Sayang nggak ada game bejo dan panjul ya? hehehe.. Game dimulai, anda berjalan menyusuri jalur yang ada. Eh di tengah jalan ada jamur yang siap memangsa anda. Hup, dengan satu lompatan saja anda berhasil menggulingkan jamur itu. Ssst.. ternyata ada tembok rahasia yang kalau anda menyundulnya anda akan mendapatkan kekuatan baru. Anda jadi besar dan lebih kuat.
Di tembok yang lain anda juga menemukan rejeki, koin-koin yang terus menambah pundi harta anda. Bahkan anda juga akhirnya bisa memiliki api yang siap menyingkirkan musuh dari jarak jauh. Level 1 anda selesaikan dengan baik. Berlanjut ke level berikutnya. Kali ini musuhnya lebih kuat dan punya kekuatan yang dahsyat. Level 2 bisa anda tuntaskan dengan cepat. Berlanjut ke level 3, 4 dan akhirnya sampailah pada level terakhir dimana anda harus berhadapan dengan raja Coopa (bener ndak ya nulisnya).
Banng..bang.. duaar apa boleh dikata ternyata anda kalah padahal hanya tinggal selangkah lagi menuju kemenangan. Tak menyerah dan penuh penasaran anda mulai lagi game dari level 1. Terus sampai level 3. Eh ternyata karena sedikit salah pencet andapun terjatuh dan harus mengulang level lagi. Demikian seterusnya hingga anda berhasil menamatkan game Mario Bross edisi menyelamatkan Bejo dan Panjul.. hehehe..
Bagaimana perasaan anda waktu itu? Stress? Pengen bunuh diri? Atau mungkin melakukan tindakan curang? Apakah anda lalu menghajar TV anda karena kalah dari raja Coopa? Jawabnya pasti tidak. Biasanya anda akan tertawa-tawa sendiri lalu mengulang lagi, mencoba lagi, kalah, coba lagi, ulang lagi. Bahkan ketika anda berhasil menamatkan seri inipun, anda pengen cari seri yang lain lagi. Yang lebih menantang, lebih sulit dan lebih banyak rintangan.
Allah sejak game belum ada sudah ngasih tahu kita, kalau dunia itu kayak game. Anda kalah, anda menang itu sama aja. Kalau kalah harusnya anda coba lagi sampai menang sebagaimana anda bermain game. Kalau menang, mustinya ya jangan berhenti tapi coba tantangan baru, rintangan baru yang lebih sulit. Rasanya nggak ada deh gamers sejati yang setelah menamatkan seri game lalu cari tetris level 0. Pasti cari yang lebih dahsyat lagi, lebih sulit dan melibatkan nyali yang lebih tinggi.
Tapi karena Allah udah bilang dunia itu cuma game, ya apa yang ada di dunia ini persis seperti game. Bukan cuma di dalam gamenya, tapi juga pemain-pemainnya. Coba perhatikan di rental-rental PS. Kalau yang mainnya cenderung nekat, biasanya mampu meraih level yang lebih tinggi. Justru yang penakut dan gak berani ambil resiko biasanya berkutat di level2 itu aja nggak naik-naik.
Apa coba yang harus di eman di dunia ini? Harta? Istri? Anak? Emang kalau kita bisa menyelamatkan mereka itu kita dijamin masuk surga? Emangnya kalau kita menjaga harta dengan baik kita nggak bakal mati? Kalau kita nurut apa kata Allah, itu baru ada jaminannya. Allah nyuruh sholat padahal di saat yang sama lagi ada meeting dengan client dari luar negeri. Hayoo gimana?
Bila kita menganggap dunia hanya permainan, maka kita juga akan anggap client dari luar negeri itu bagian dari permainan juga. Itu tantangan, bagaimana caranya tetap sholat, tapi client gak kecewa. Banyak kok caranya? Misalnya nih langsung bilang, Maaf saya harus sholat dulu. Beri saya waktu 10 menit ya? Saya yakin deh tuh bule akan mengijinkan. Apalagi kalau kita suguhi dengan menu santap siang yang lezat. Bahkan boleh jadi kedisplinan kita dalam mengemban perintah Allah akan diartikan sebagai bentuk kejujuran kita.
Lha siapa coba yang nggak percaya dengan pengawasan Allah. Nih orang yakin banget lagi dipanggil sama Allah sampai meetingpun digusur hanya gara-gara dipanggil Allah. Berarti kalau bisnis ama dia nggak usah pusing-pusing deh melakukan pengawasan. Invest besarpun gak masalah karena dia terpercaya. Gimana gan? Masih takut-takut action di dunia ini? Gak pengen naik level yang lebih tinggi dengan tantangan yang lebih besar? Atau kalau semua tantangan sudah dilalui apa nggak pengen cari game baru dengan petualangan dan tantangan yang baru lagi?

wah ternyata mas lutvi suka maen games mario bross ya??
keingetan jaman SD dulu…
btw, mantap mas menyadarkan saya bahwa sebenarnya kita hidup di dunia ini cuma sekedar maen game..
ngomong2 game untuk menjadi seorang gamers sejati meski berjuang mati2 an dulu kalau nggak ya jd looser..
salam kenal mas..
Setuju gan, setiap fase dari anak, remaja kemudian dewasa itu ibarat naik level n semakin berat tantangannya. Mampir dong gan.thnx
hem..Istiqomah ya Mas..Iya si, terkadanga ane juga sering kalah di Game Dunia ini Kalaw udah Merasa putus asa susah bener jadi minder segala macam deh, padahal dulu enggak aneh memang
maaf mas komentar saya jauh dari topik di atas, saya mau bicara soal cafezine yang di kaskus.. lebih baik 1 trit bisa mewakili semua edisi majalahnya.. dan alangkah baiknya lagi jika para kaskuser yang memberikan komentar dibalas (quote) agar terjadi hubungan dengan kaskuser lain..
terima kasih
Wah iya gan. Udah jarang banget ngaskus soalnya. Lha kalau udah kesana bawaannya males ngapa-ngapain, maunya balesin threat terus.. hehehe.. Padahal PR masih numpuk nih untuk persiapan Ramadhan
Komentar saya juga cuma main-main kok mas. Hahaha…
Bulan ini kok belum ada acara kopdar ya? Padahal saya ingin sharing banyak hal tentang penulisan, khususnya obsesi mas Lutvi menulis menembus media massa.
Oh ya, mas Lutvi dapat salam dari Pak Jonru. Kemarin sempat menanyakan mas Lutvi. Kalau ada waktu sebenarnya beliau pengen sekali ketemuan bareng-bareng.
Boleh tuh diadain. Tapi karena sekarang gak FB-an jadi undangan via email aja atau via blog saling colek2an
Oke, mumpung belum masuk Ramadhan. Mas Arief tadi sudah konfirm bisa datang. Sabtu ini ya. Royal Plaza jam 4. Nanti mas Udin ku kasih tahu juga.
ok siap! Insya Allah saya juga datang
wah… mantap sekali artikelnya…
bener juga ya gan… saya seorang gamers…
tapi ga sekalipun bisa menghubungkan game dengan kehidupan layaknya yang dituliskan diartkel ini…
jadi melek nih mata dan pikiran saya..
World is Just a Game..
ngga boleh takut dengan kehidupan..
ngga boleh takut ambil resiko..
maen game aja berani ambil2 resiko…
masa dikehidupan nyata ga berani…
wong hidup itu “JUST a GAME”
jadi inget maenan nitendo
Benar sekali….