Puasa = Kesempatan Bermalasan?

Aug 10th, 2010 | By Lutvi Avandi | Category: Ramadhan

Dilarang Tidur di Masjid?

Ada budaya di negeri kita (gak tahu kalau negeri lain), bahwa saat awal ramadhan sekolah-sekolah diliburkan. Beberapa kantor juga menerapkan libur awal puasa. Dan yang juga menjadi pemandangan rutin tiap ramadhan adalah jam masuk kerja dan jam sekolah diundur hingga 1/2 - 1 jam. Kemudian jam pulang dimajukan sehingga praktis selama ramadhan jam kerja kita berkurang. Belum lagi kenyataan bahwa jam istirahat juga diperpanjang.

Mungkin niat para pembuat aturan adalah agar para siswa atau karyawannya bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik dan dapat konsentrasi dalam beribadah. Namun sangat disayangkan ternyata berbagai kemudahan-kemudahan itu justru menjadi alasan untuk bermalas-malasan selama bulan Ramadhan. Padahal.. ini adalah bulan yang amat mulia, yang tiap detiknya begitu berharga.

Bukankah bekerja dengan niat memberikan pelayanan terbaik bagi para klien merupakan ibadah juga? Bukankah melayani warga yang mengurus dokumen-dokumen juga merupakan ibadah? Bukankah menunaikan amanah sebagai seorang pelajar dan karyawan dengan sebaik-baiknya juga merupakan ibadah?

Nah, kenapa kesempatan ibadah itu kita sia-siakan dengan bermalas-malasan. Memang sih ada hadist yang menyatakan bahwa tidurnya orang puasa adalah ibadah. Tapi maksudnya bukan kita disuruh tidur. Itu adalah sebuah ungkapan motivasi untuk kita. Lha tidur aja udah dinilai ibadah kok, apalagi kerja dan menunaikan amanah di tempat kerja kita? Bukankah makin besar aja tuh pahalanya?

Puasa adalah ibadah yang bisa disatukan dengan ibadah lainnya. Ini berbeda dengan ibadah yang lain. Sholat misalnya, nggak bisa digabung dengan zakat. Gak mungkin kita sholat sekaligus membayar zakat. Juga gak mungkin pula saat menjalankan rukun2 haji sambil sholat. Tapi kita bisa puasa sambil sholat, kita juga bisa puasa sambil umrah, bahkan kita bisa puasa sambil bekerja.

Seharusnya di bulan ramadhan ini kita lebih keras lagi dalam bekerja. Jadilah harimau saat siang dan jadilah para ahli salaf yang begitu tunduk pada Allah saat malam. Saat siang kita bekerja dengan maksimal seolah-olah kita punya begitu banyak energi dalam diri. Dan saat malam kita menunduk sedalam-dalamnya seolah-olah kematian sudah berada di samping kita.

Saya ingat kata seorang ustadz bahwa seorang muslim itu baru bisa istirahat tenang saat dia sudah benar-benar di surga. Artinya, seorang muslim seharusnya memanfaatkan semua waktunya untuk memberikan manfaat kepada sebanyak mungkin makhluk Allah. Dan di saat-saat sendirinya, dia berusaha mendekatkan diri pada Allah.

Waktu mendapat tausiyah itu saya sempat lemes juga. Padahal ada begitu banyak waktu yang saya miliki sekarang, tapi hampir semuanya habis untuk hal-hal yang kurang manfaat. Tidur terlalu banyak, main game terlalu sering, dll. Yah, ramadhan adalah bulan pelatihan. Inilah moment bagi kita untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitas diri sebagai manusia. Yuk, mari kita sama-sama belajar. Belajar menjadi hamba Allah yang disayang oleh Nya. Belajar menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungan.

Diakses dengan kata kunci:

TWEET THIS!

18 Responses to Puasa = Kesempatan Bermalasan?