Menaklukkan Macan

Apr 4th, 2010 | By Lutvi Avandi | Category: Family

Ada cerita dari negeri cina yang disampaikan oleh pak Ahmad Faiz. Ini kisah tentang Yun - Oh. Dia menikah dengan seorang lelaki yang tampan dan gagah. Suatu ketika, ada perintah perang dari kerajaan. Semua laki-laki dewasa wajib mengikuti wajib militer ini.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Akhirnya suami Yun - Oh pulang. Tapi rupanya, kerasnya medan perang telah mengubah perangainya. Suaminya yang dulu lembut dan penyayang berubah jadi kasar dan galak. Yun-Oh jadi serba salah.

Lalu dari desas-desus tetangga, mereka menyarankan Yun-Oh untuk pergi ke seorang pertapa tua. Karena cintanya pada sang suami, diapun pergi menemui pertapa itu.

“Hayyaah… suami galak gampang mah..”, kata pertapa itu. “Oe punya bumbu-bumbu mujarab aa..”. Tapi lu musti cari satu bahan lagi.

“Siap mbah.. eh.. guru… bahan apa yang kurang?”, kata Yun-Oh

“Cuma 3 helai kumis.. ”

“Kumis siapa?”

“Kumis macan!”

“Haaa?? Macan beneran??”

“Ya iyalah.. masak ya iya dong”, tegas pertapa “makin galak macan itu, makin mujarab bumbunya. Dan ingat, kumisnya musti dicabut dalam keadaan hidup”

Akhirnya Yun-Oh pulang ke kampungnya dan bertanya kepada tetangga-tetangganya dimana dia bisa temukan macan paling galak.

Maka Yun-Oh mendapat informasi macan tergalak di daerahnya. Konon katanya, macan ini sudah makan manusia juga… wedew…

Dengan berbekal daging segar, Yun-Oh berburu macan itu. Sepanjang perjalanan Yun-Oh mencari akal, bagaimana caranya mendapatkan kumis macan tanpa membunuhnya. Apalagi macan itu doyan daging manusia… hii…ngerii..

Tak terasa, Yun-Oh sudah jauh memasuki hutan dan sampailah dia di goa sarang macan itu. Yun-Oh meletakkan daging segar di mulut goa lalu larii dan bersembunyi di balik batu untuk mengamati.

Macan itu keluar goa dan agak bingung karena ada daging empuk di depannya. Dimakannya daging itu dengan lahap dan dia masuk goa lagi.

Esoknya Yun-Oh datang lagi. Dia meletakkan daging lalu lari agak jauh tapi tidak sembunyi. Sang macan keluar gua. Dia melihat Yun-Oh tapi lebih memilih daging di depannya. “Ada makanan siap makan kok, ngapain ngerjar-ngejar”, pikir si Macan. Itu dilakukan Yun-Oh tiap hari. Tapi jaraknya makin dekat dan makin dekat.

Seminggu setelah itu, Yun-Oh meletakkan daging tapi tidak pergi. Dia malah duduk di dekat daging itu. Sang macan yang sudah keenakan dengan daging kiriman Yun-Oh dengan santai memakan daging itu dan tidak terganggu dengan kehadiran Yun-Oh. Terus dilakukan selama seminggu.

Minggu berikutnya, saat macan makan, Yun-Oh mengelus-elus kepala si macan hingga sang macan asyik dan ketiduran didekat Yun-Oh. Saat itu dengan pelan, Yun-Oh mencabut kumis sang macan.

“WWWAAAAUUUMMM!!” macan mengaum. Matanya merah karena marah. Tapi karena dilihatnya Yun-Oh yang masih memegang kumisnya, sang Macan memaafkan lalu tidur lagi. Yun-Oh senang sekali.

Seminggu berikutnya saat luka kumisnya sudah sembuh, Yun-Oh mencabut 1 kumis lagi. Dan minggu berikutnya 1 kumis lagi hingga genaplah 3 kumis dia dapatkan.

Dengan riang Yun-Oh menemui pertapa tua dan memberikan 3 kumis itu.

“Hayyah.. hebat kali lu”….

Tiba-tiba aja pertapa itu melempar kumis itu ke perapian. Tentu aja kumisnya terbakar habis tak tersisa. Yun-Oh kaget, kenapa kok dibakar? Dia menangis dan sedih karena pengorbanannya ternyata sia-sia.

“Hayyah.. kalau lu bisa cabut kumis dari macan galak, mustinya lu gak perlu lagi ramuanku. Galak mana macan itu dengan suamimu Yun-Oh?”

Yun-Oh tersadar.. ha benar juga. Dia pun mulai memperhatikan suaminya dan keluarga merekapun hidup harmonis seperti semula :)

Maka, jika ada macan di keluarga anda, jangan hadapi dengan garang dan langsung cabut kumisnya. Tapi dekati dan perhatikan. Insya Allah sekeras-kerasnya hati pasti akan lembut juga :)

Diakses dengan kata kunci:

TWEET THIS!

2 Responses to Menaklukkan Macan