Salah Siapa?

Apr 14th, 2010 | By Lutvi Avandi | Category: Sabar dan Syukur

Ini salah siapa?

Ini salah siapa? Secara sadar atau tidak, seringkali kita mengajukan pertanyaan itu saat ada kesulitan atau masalah yang menimpa kita. Tapi tenang.. itu bukan salah anda sepenuhnya kok.. hehehe… Ada peran serta orang lain dalam pembentukan watak suka menyalahkan ini. Kayak gimana sih? Yuk kita cari tahu dan telusuri penyebabnya.

Apapun yang ada dipikiran kita pada dasarnya adalah buah dari apapun yang diterima oleh panca indera kita. Apapun yang dilihat mata, didengarkan oleh telinga, dirasakan oleh kulit tubuh, dirasakan oleh mulut sampai yang tercium hidung, akan tersimpan secara otomatis.

Kemampuan menyimpan ini jauh lebih kuat saat kita masih anak-anak. Kenapa? Karena kondisi otaknya masih kosong dan belum membentuk nilai-nilai apapun. Karena itu, sangatlah keliru bila kita menyalahkan anak atas apa yang dia lakukan.

Nah, karena kita dulu lahir gak langsung gede dan mengalami masa kanak-kanak, maka kita juga mengalami masa-masa dimana otak kita mampu menyimpan informasi apapun dengan sangat cepat dan kuat. Catat ini.. CEPAT dan KUAT.

Semua hal, mulai kata-kata ibu kita, tingkah laku orang-orang di sekeliling kita sampai pengalaman-pengalaman pribadi yang kita temui masuk dan tersimpan dengan baik di otak. Nah, materi-materi dalam otak itu, kemudian membentuk yang namanya nilai-nilai kehidupan. Kita jadi tahu apa yang boleh dan apa yang dilarang. Kita tahu ini benar dan ini salah. Yang pada akhirnya saat kita sudah dewasa kita pun mampu membedakan ini salah dan ini benar.

Tapi sayangnya, kemampuan otak yang luar biasa ini, seringkali tidak didukung oleh lingkungan yang luar biasa juga. Saat kita jatuh, ortu kadang menyalahkan batu, lantai atau air yang membuat kita jatuh. Saat kita berantem dengan teman lalu menangis, ortu pasti akan menyalahkan teman kita padahal tak pernah tahu duduk persoalannya.

Hal itu terus kita dapatkan dan kita latih. Saat kita berbuat salah, kita cenderung menyalahkan keadaan yang membuat kita jadi salah. Kita terlambat sekolah, maka kita buat alasan bahwa seragam belum diseterika. Kita lupa mengerjakan PR, maka kita bikin alasan rumahnya lampu mati. Sangat jarang kita dilatih untuk mengatakan, “Maaf pak Guru saya belum mengerjakan PR”. Jarang kita menyampaikan alasan HANYA jika ditanya saja.

Seringkali kita cenderung menyampaikan alasan sebelum ditanya. Kenapa? Untuk menutupi kesalahan dan kelemahan kita. Dan hebatnya lagi contoh nyata latihan ini ada di sekeliling kita. Dan kerennya, kita tahu banget kalau itu hanya alasan dan seringkali membiarkannya. Maka makin tertanamlah dalam otak kita bahwa:

“Agar selamat dan tidak disalahkan, maka salahkan pihak lain”

Suka menyalahkan pihak lain ini, harus sedikit demi sedikit kita kikis. Caranya? Dengan sering mengucapkan kata “MAAF”. Terus terang, walaupun saya menyampaikan ini, saya sendiri juga belum mampu menerapkannya. Seringkali sayapun juga menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi pada diri saya.

Tapi itulah… kata maaf adalah kata dahsyat yang mampu memporak porandakan ajaran buruk dalam otak kita.

Apakah nanti kita nggak malah jadi suka menyalahkan diri sendiri?

Nah, ini lagi satu ajaran yang kurang baik. Sering kita menangkap informasi bahwa orang yang suka menyalahkan diri sendiri adalah orang yang pesimis dan kurang baik. Padahal justru sebaliknya, orang yang mudah menyalahkan dirinya sendiri adalah orang terhebat dan pintu sukses telah berada selangkah didepannya.

Mari kita simak cerita tokoh kita Bejo dan Panjul.

Bejo adalah seorang penjual pizza. Suatu ketika Panjul menelpon bejo untuk memesan 2 porsi pizza ukuran Jumbo. Karena ada tamu jauh di rumahnya dan kelihatan kelaparan sekali, maka Panjul meminta supaya Bejo mengirimnya dengan cepat.

Menunggu adalah pekerjaan membosankan kata orang, demikian juga Panjul. Karena lapar, waktu 10 menit rasanya seperti 1 jam. Padahal, biasanya Panjul kalau beli Pizza paling cepet ya 20 menit datangnya. Maka saat Bejo mengantar Pizza 11 menit setelah pemesanan Panjul, diapun kena damprat habis-habisan. “KOK LAMA BANGET SIH !! KAMI KAN UDAH LAPAR SEKALIII !!”, bentak Panjul.

“Maaf pak, insya Allah ke depan akan kami perbaiki layanan kami. Kami janji kalau di pesanan mendatang Pizza tidak ada dalam 10 menit, anda boleh ambil pizzanya gratis”.

Panjul senang dan mereda emosinya. Bagaimana dengan Bejo? Maafnya bukan cuma di bibir. Diapun membuat spanduk besar di depan tokonya, “PIZZA PANAS DALAM 10 MENIT ATAU GRATIS !!”.

Gara-gara spanduk itu, omset Pizza Bejo naik berlipat-lipat. Bahkan slogan pizzanya ini amat sangat terkenal hingga ke seluruh dunia. Sampai-sampai ada gurauan, semua tim delivery Pizza Bejo kendaraannya gak pakai rem.. hehehe..

Anda mungkin pernah dengar kisah Bejo dan Panjul diatas tapi dalam versi lain. Tapi yang jelas, seandainya waktu itu Bejo menyalahkan Panjul yang pesannya terlalu mendadak dan mengatakan bahwa “PIZZA ITU BIASANYA SAMPAI DALAM 20 MENIT PAK”. Maka bisa dipastikan, Bejo akan kehilangan seorang pelanggan setia bernama Panjul. Dan buka tidak mungkin Panjul yang cerewet ini mengatakan ulah Bejo yang telat mengantar Pizza kepada kawan2nya.

Nah, yuk kita mulai membiasakan diri untuk minta maaf, walaupun kondisinya benar-benar salah orang lain. :)

Diakses dengan kata kunci:

24 Responses to Salah Siapa?