Injury Time
Sep 8th, 2010 | By Lutvi Avandi | Category: RamadhanInsya Allah besok adalah hari terakhir kita berpuasa, mengingat di beberapa tempat melihat hilal ternyata hilal tidak terlihat sama sekali. Karena itu sesuai hadist Rasul, maka kita harus menyempurnakannya menjadi 30 hari.
Kalau dalam pertandingan, saat-saat seperti ini bisa disebut injury time. Bahkan mungkin juga bisa dikatakan sebagai babak perpanjangan waktu. Kira-kira apa yang dilakukan seorang pemain bola profesional saat injury time ini? Apakah mereka santai-santai? Ataukah mereka berusaha untuk menambah gol?
Jika klubnya sudah unggul, biasanya mereka akan berusaha mengulur waktu supaya klubnya tetap unggul. Tapi jika klubnya ketinggalan angka, maka bisa dipastikan serangan ke lawan akan semakin meningkat.
Hal yang sama juga terjadi pada supir angkot. Semakin sore jika setoran masih kurang, dia akan nyopir dengan lebih semangat, berusaha mendapatkan penghasilan sebesar mungkin.Lalu bagaimana kalau penghasilan yang kita dapatkan jauh lebih besar dari supir angkot. Kemenangan yang kita dapatkan jauh lebih berharga daripada menjadi pemenang piala dunia. Kira-kira apa yang akan kita lakukan menjelang kepergian bulan Ramadhan ini?
Sebagian besar dari kita mungkin membiarkan Ramadhan pergi begitu saja. Bahkan mungkin justru malah menanti-nantikan kepergiannya. Tapi sebagian yang lain mungkin akan menangis malam ini karena malam ini adalah malam terakhir bulan Ramadhan. Besok malam, dia sudah tak berjumpa lagi dengannya. Besok malam pahala berlipat-lipat akan di reset lagi menjadi harga normal. Besok malam, pintu neraka kembali di buka dan syetan-syetan dilepaskan dari belenggunya. Besok malam mungkin kita tak akan melihat lagi mushola dengan shaf-shaf yang penuh. Mungkin kita sudah tak mendengar lagi suara lantunan ayat suci Al-Quran dari masjid dan mushola-mushola.
Ya, bagaimanapun Ramadhan akan pergi. Tak ada yang bisa kita lakukan selain memanfaatkan malam ini dengan sebaik-baiknya. Melakukan apapun yang diperlukan mumpung masih Ramadhan walau hanya kurang dari 24 jam.
Mudah-mudahan kita bisa memanfaatkan jam-jam akhir Ramadhan ini. Detik-detik ramadhan yang tersisa dan mudah-mudahan ibadah kita sepanjang Ramadhan diterima Allah SWT. Dan mudah-mudahan kita bisa menjadi semangat ibadah Ramadhan ini di bulan-bulan berikutnya. Dan semoga Allah mengijinkan kita untuk bertemu kembali dengan Ramadhan.
Terakhir, Lutvi Avandi dan keluarga mengucapkan “Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan bathin… “
ya semoga kita dipertemukan lagi dengan Ramadhan berikutnya.
Taqabbalallahu minna wa minkum mas.