Riba dalam Investasi

Investasi harusnya adalah kerjasama saling menguntungkan antara pemilik usaha dengan pemodal (investor). Namun, karena ketidaktahuan tentang bagaimana cara kerja sama investasi, bukannya jadi kerjasama saling menguntungkan, tapi malah kerjasama saling menghancurkan yang berujung pada percepatan kebangkrutan perusahaan.

Dahulu saya pernah menjalankan bisnis kerjasama dengan beberapa teman dengan model investasi sederhana. Mereka modal uang, saya modal tenaga dan pikiran. Disepakati bagi hasilnya 60:40. Saya dapat 60% dan mereka 40%.

Sayangnya, kerjasama dengan akad asal-asalan ini justru keliru dan ujung2-nya jadi buruk. Saat usaha untung, uang sudah habis dibagikan. Pas lagi rugi lebih parah lagi, modalpun tergerus. Lebih parahnya lagi ketika kena kerugian 3 bulan berturut2, kocar-kacir deh semuanya.

Yang lebih parah lagi investor minta dibalikin duitnya. Ketika semua aset dijualpun ternyata tidak mencukupi dan akhirnya keluar deh uang dari kantong pribadi. Modyar.

Cara diatas sebenarnya adalah pinjaman riba berkedok investasi. Kenapa? Karena pemodal tidak mau rugi. Maunya bagi untung saja. Disinilah masalah demi masalah akhirnya timbul.

Membuka Peluang Investasi yang Adil

Investasi yang baik seharusnya bagi hasil apapun hasilnya. Kalau untung ya bagi untung, kalau rugi ya bagi rugi. Dan pembagian hasilnya pun harus dihitung cermat. Tidak asal bagi 60:40 gitu saja.

Contohnya anda punya rumah makan dan ingin cari investor untuk memperluas rumah makan sekaligus meningkatkan kapasitas rumah makan.

Nah, sebelum cari investor, anda harus hitung dulu semua aset rumah makan yang anda miliki. Mulai rumah, peralatan dapur, meja kursi, tanah, dll. Semua dihitung dan dipisahkan dari harta pribadi. Kenapa begitu? Karena nanti ketika investor masuk, semua aset itu sudah bukan lagi aset milik anda tetapi aset milik perusahaan.

Misalnya seluruh total aset anda adalah 1 milyar, maka anda bisa mencari investor yang mau memberikan dana maksimal 1 milyar. Kenapa maksimal 1 milyar? Agar pada saat perhitungan komposisi bagi hasilnya nanti anda adalah pemegang saham mayoritas.

Jangan sampai investasi jauh lebih besar daripada aset anda. Itu artinya anda sudah menyerahkan usaha anda ke orang lain walaupun anda tetap masih mendapatkan keuntungan dari aset yg anda miliki, tapi tak punya kontrol penuh.

Anggaplah kita akhirnya dapat investor dengan nilai 500 juta. Sehingga total aset perusahaan adalah 1,5 Milyar. Ini dimanakan valuasi atau nilai perusahaan.

Nah, karena ini baru awal investasi, maka anda bisa tentukan berapa harga per lembar saham. Misalnya 10.000 berarti ada 150.000 lembar saham. Anda sebagai pemilik aset senilai 1 milyar mendapatkan 100rb lembar saham dan investor mendapatkan 50rb lembar saham.

Dari sini bisa dihitung kepemilikan modalnya. Anda menguasai 100/150 x 100% = 66,66% dan investor menguasai 33,33% kepemilikan modal.

Bisnis berjalan selama 1 tahun. Di akhir tahun hitung semua total aset + cash perusahaan lalu kurang dengan:

  1. Tagihan-tagihan dan hutang
  2. Gaji karyawan dan operasional lain
  3. Penyusutan aset

Maka muncullah nilai perusahaan di akhir tahun misalnya 2 milyar. Artinya ada pertumbuhan nilai perusahaan sebesar 500 juta. Buatlah RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham). Dana 500 juta ini mau dibagi habis atau dikembalikan ke perusahaan untuk menambah aset dan kemampuan produksi?

Jika diputuskan membagi keuntungan ya dibagi sesuai porsi kepemilikan sahamnya. Dalam hal ini adalah 66,66% untuk anda dan 33,33% untuk investor.

Jika dikembalikan ke perusahaan, maka nilai perusahaan menjadi 2 milyar, sehingga harga per lembar saham menjadi naik. Jika sebelumnya hanya 10rb, maka setelah kenaikan valuasi ini menjadi 2 milyar / 150rb = 13.333 per lembar atau naik sekitar 30%

Bagaimana kalau rugi?

Jika perusahaan merugi, maka kita lihat dulu seberapa besar kerugiaannya. Berapa penyusutan asetnya dan apakah perusahaan masih mampu berjalan.

Jika masih mampu ya tinggal dihitung asetnya dan dibagi jumlah saham. Misalnya asetnya tinggal 1,3 milyar atau menyusut 200 juta. Maka harga per saham menjadi 1,3 milyar / 150rb = 8.666. Perusahaan bisa tetap berjalan seperti biasa dan tidak perlu ada bagi hasil

Tapi jika kerugian parah dan dari hasil rapat RUPS dinyatakan bangkrut, maka seluruh aset harus dijual, kemudian hasilnya dibagi:

  1. Membayar hutang2 perusahaan
  2. Membayar gaji dan pesangon karyawan

Sisanya baru dibagi berdasarkan prosentase kepemilikan saham

Bagaimana Jika Saya Hanya Punya Konsep Bisnis Saja?

Ini yang sering terjadi. Cuma punya konsep bisnis tapi gak punya dana lalu cari investor. Bagaimana cara menghitungnya?

Ada 2 macam cara. Pertama anda hargai ide anda sebagai aset misalnya 100 juta. Dari sini sudah bisa langsung dihitung prosentasenya.

Cara kedua, anda tidak mendapatkan bagi hasil keuntungan alias kepemilikan modal anda nol persen. Tapi anda mendapatkan gaji perusahaan. Dengan gaji itu anda bisa sedikit demi sedikit mengakuisisi modal perusahaan dari investor

Membatasi Screening dg LQ45

LQ45 adalah daftar saham-saham yang memiliki tingkat liquiditas yg tinggi. Saham-saham yang ada dalam daftar ini volume perdagangannya selalu tinggi sehingga pergerakannya lebih dinamis.

Nah, saya iseng2 coba melakukan riset berapa sih kenaikan saham2 LQ45 di 10 tahun terakhir yaitu mulai tanggal 24 Juni 2008 – 24 Juni 2018.

Dan hasilnya ternyata cukup banyak yg meraih growth lebih dari 200% (asumsi per tahun 20%). Artinya jika anda membeli saham2 tersebut, maka dalam waktu 10 tahun uang anda akan jadi 2x lipat. Continue reading Membatasi Screening dg LQ45

Belajar Disiplin sebelum Investasi

Investasi adalah kegiatan jangka panjang. Bagi anda yang suka hasil cepat, investasi bukanlah bidang yang cocok. Maka, sebelum belajar investasi, anda harus belajar disiplin terlebih dahulu. Disiplin menunda kesenangan dan disiplin melatih kesabaran.

Seorang bapak investasi dunia, Warren Buffet, memulai investasi di umur 14 tahun. Dan ternyata 95% aset-nya baru didapatkan ketika umur 50 tahun. Sebuah kesabaran luar biasa karena harus menahan diri selama 36 tahun untuk tidak menggunakan dana investasinya. Continue reading Belajar Disiplin sebelum Investasi

Meminimalisir Resiko Bisnis Saham

Sering kita dengar ungkapan, high risk high gain yang artinya resiko yang besar berpeluang mendapatkan keuntungan yang besar. Dan bisnis saham termasuk dalam kategori investasi high risk.

Tapi…..

Itu kalau berbisnis sahamnya ngawur alias tanpa perencanaan sejak awal. Beli karena ngandalin insting atau ikut-ikutan. Tanpa sistem dan tanpa strategi.

Bagaimana caranya mendapatkan untung besar dari saham tapi dengan resiko yang kecil? Continue reading Meminimalisir Resiko Bisnis Saham

Cara Melihat Performa Kinerja Portofolio

Di grup-grup dan channel telegram sering kita lihat para analis memberikan berbagai macam rekomendasi saham dan juga menunjukkan saham-saham yang naik setelah dia rekomendasikan.

Cara ini sebenarnya kurang transparan, dan tidak bisa secara jelas menunjukkan bahwa sistem trading yang dia pakai mampu menghasilkan pertumbuhan modal kita.

Bukankah kita berbisnis saham itu ingin mendapatkan keuntungan? Dan arti dari keuntungan adalah kita mendapatkan hasil dari modal yang sudah kita keluarkan. Continue reading Cara Melihat Performa Kinerja Portofolio

Risk and Reward

Sebagai seorang pebisnis dan juga trader, saya selalu memperhitungan risk and reward saat mengambil sebuah keputusan. Baik itu keputusan bisnis maupun keputusan penting dalam hidup. Dan untuk mendapatkan risk and reward ini saya selalu menggunakan patokan yang bisa diukur dan dipantau.

Contohnya ketika anak saya ngambek gak mau sekolah. Keputusan yg harus saya buat adalah menuruti dia gak usah sekolah atau saya paksa sekolah. Saat itu saya mulai memperhitungkan risk dari kedua pilihan itu. Kalau saya paksa sekolah resikonya apa, kalau saya turuti resikonya apa. Lalu reward yg saya dapat apa jika dia sekolah dan jika dia gak sekolah. Continue reading Risk and Reward

Benarkah Kita Rugi kalau Cutloss?

Pernahkan anda membeli saham yang menurut para pakar diprediksi akan naik dalam 1-2 pekan ke depan. Anda beli cukup banyak eh kemudian sahamnya malah turun. Anda jual saham yg harganya naik dan anda belikan saham yg lagi turun itu untuk avg down. 1-2 pekan berlalu dan saham itupun terus turun. Sementara cash anda sudah habis, sehingga dana anda nyangkut di saham tersebut.

Padahal dalam dunia trading, saat kita menjual saham yg dalam kondisi rugi lalu membeli saham lain yg sedang naik, sebenarnya kita tidak benar-benar rugi lho. Lho kok bisa? Continue reading Benarkah Kita Rugi kalau Cutloss?

Asyiknya Nyicil Saham

Ketika anda melakukan analisa saham dan kemudian menemukan saham yang menurut anda bagus, apa yang anda lakukan? Langsung membeli menggunakan jatah belanja saham anda ataukah mencicil dulu? Saya terus terang biasanya pilih yang pertama hehehe… Dan baru nyadar sekarang bahwa lebih aman dengan cara mencicil wkwkwk… Kayak gimana tuh caranya?

Ok, kita balik ke pembahasan risk management. Di sana dikatakan bahwa kita perlu melakukan diversifikasi atau membagi portofolio dlm beberapa saham. Katakanlah kita hanya akan pegang maksimal 5 saja. Sehingga dengan uang modal 10 juta, kita akan bagi masing2 saham mendapat jatah 2 juta saja.

Biasanya kalau saya nemu saham bagus, saya akan langsung taruh jatah 2 juta ini ke saham tersebut. Alhamdulillah.. pakai cara ini saya sudah loss sampai hampir 10% dari modal saya wkwkwk.. Kalau naik sih enak, tapi kalau kebanyakan turun, akhirnya cutloss berkali-kali dan cukup mempengaruhi portofolio hahaha… Continue reading Asyiknya Nyicil Saham