Berikan dan Lupakan

Jul 13th, 2010 | By Lutvi Avandi | Category: Sabar dan Syukur

Ini adalah jawaban kecil atas komentar-komentar di blog mas Udin. Ada beberapa komentar yang sebenarnya perlu diluruskan. Ini sekaligus juga meluruskan pendapat dan gerakan yang saat ini cukup banyak terjadi. Hebatnya lagi malah didukung oleh media-media.

Memberi uang receh kepada pengemis atau pengamen jalanan sering dianggap sebagai tindakan yang salah. Pertimbangannya hal itu akan membuat mereka jadi malas dan tidak mau bekerja. Memberi uang receh pada mereka sering dianggap sebagai tindakan kurang mendidik.

Tapi maaf, “tindakan tidak mendidik” itu menurut saya lebih bernilai daripada tidak bertindak atau bahkan mencibir mereka. Memberi adalah perintah dan sunnah Rasul. Mencibir dan menghina (kalau tidak mau disebut sombong) adalah perbuatan syetan.

Biar nggak dikira asal ngecap, nih saya tunjukkan bagaimana besarnya penghargaan Allah terhadap orang yang mau memberi. Dan Allah sama sekali nggak meminta kita berpikir lebih jauh tentang siapa yang kita beri:

Hafash bin Maisarah bercerita kepadaku, dari Musa bin ‘Uqbah, dari Abi Azzinad, dari Al-A’raj, diterima dari Abu Hurairah, bersumber dari Nabi saw, beliau bersabda : Seorang lelaki berkata : Sungguh aku akan mengeluarkan sedekah pada malam ini. Lalu ia keluar membawa sedekahnya dan jatuh ke tangan seorang wanita pezina. Pada pagi harinya, orang banyak membicarakan: Tadi malam, seorang wanita pezina mendapatkan sedekah. Lelaki itu mengucap: Ya Allah, hanya bagi-Mu segala puji, (sedekahku jatuh pada wanita pezina). Aku akan bersedekah lagi. Dia keluar membawa sedekahnya dan jatuh ke tangan orang kaya. Pada pagi harinya, orang banyak membicarakan: Sedekah diberikan kepada orang kaya. Orang itu mengucap: Ya Allah, hanya bagi-Mu segala puji, (sedekahku jatuh pada orang kaya). Aku akan bersedekah lagi. Kemudian ia keluar membawa sedekah dan jatuh ke tangan pencuri. Pada pagi harinya, orang banyak membicarakan: Sedekah diberikan kepada pencuri. Orang itu mengucap: Ya Allah, hanya bagi-Mu segala puji, sedekahku ternyata jatuh pada wanita pezina, pada orang kaya dan pada pencuri. Lalu ia didatangi (malaikat) dan dikatakan kepadanya: Sedekahmu benar-benar telah diterima. Boleh jadi wanita pezina itu akan menghentikan perbuatan zinanya, karena sedekahmu, orang kaya dapat mengambil pelajaran dan mau memberikan sebagian apa yang telah diberikan Allah kepadanya. Dan mungkin saja si pencuri menghentikan perbuatan mencurinya, karena sedekahmu. (HR.Muslim : 1698, Shahih Muslim, Bab Tsubuti Ajril Mutashadiq wa in waqa’at Ash-Shadaqatu fi yadi ghairi, juz 5, hal. 209)

Anda sudah baca? Bisa anda simpulkan bagaimana konsep sedekah itu? Pernahkah anda mendapat hadits atau Al-Quran yang melarang memberi sedekah pada pengemis?

Dan asal tahu aja, di jaman nabi dulu ada orang-orang yang hidupnya hanya dari pemberian orang lain. Mereka ini tinggal di masjid nabi, tidak punya keluarga dan tidak punya pekerjaan. Mereka hanya makan hasil sedekah. Apakah nabi melarang para sahabatnya untuk memberi kepada mereka dengan alasan tidak mendidik dan membuat mereka malas?

KONSEP SEDEKAH adalah PEMBERSIHAN HARTA

Konsep dasar sedekah adalah pembersihan harta kita. Bukan sarana mendidik atau apalah istilah yang mau anda pakai. Sedekah adalah urusan pribadi kita dengan Allah. Kita takkan mendapatkan dosa apapun jika sedekah kita hanya membuat mereka jadi malas. Kita juga tidak akan dituntut Allah bila sedekah kita jatuh ke tangan penipu misalnya.

Sedekah adalah sedekah. Kepada siapapun dia diberikan nilainya tetaplah sedekah. :)

Diakses dengan kata kunci:

14 Responses to Berikan dan Lupakan

  • wah bagus sekali artikelnya.
    Soalnya kadang masih suka pilih2 kalau kasih sedekah. Cenderung ke yg agak renta ketimbang yg muda2.

  • Khair1 says:

    bagus Artikelnya mas!

  • Erdien says:

    Sepakat Mas!
    Ini merupakan konsep yang diajarkan dalam surat Ad Duha: Wa ammas saila fa la tanhar. Siapa pun penerima sedekah itu, bagaimana pun keadaan mereka, itu bukan urusan kita. Kita sepantasnya hanya berharap bahwa apa yang kita berikan dapat membawa kebaikan bagi jiwa dan harta kita juga bagi penerima sedekah tersebut

    • Lutvi Avandi says:

      Benar. Yang penting saat memberi jangan sambil mencibir atau menyakiti hati penerimanya

      • mh says:

        saya terima email anda dan merasa disakiti dengan promo VCC anda.. jadi gimana tuh mas? anda nggak konsisten dong?

        • Lutvi Avandi says:

          Yeee.. siapa juga yang promo VCC. Itu kan cuma salah satu bab yang dibahas di ebook aja. Lagipula bukan saya yang jual kok

          Kalau memang VCC Indo kulakan ditempat yang lebih mahal, berarti kan bisa jadi lahan kulakan baru tuh.

          Lagipula ngapain orang kulakan VCC kalau cuma butuh 1 ya toh?

  • RyanBian says:

    Saya lebih cenderung ngasih yang tua mas. Salahkah?
    Salam kenal ya mas

    • Lutvi Avandi says:

      Kalau dana terbatas, ya ndak ada salahnya menentukan prioritas. Islam juga memberikan prioritas kok saat kita memberi

  • fadil says:

    Terima kasih banyak mas Lutvi,setelah membaca tulisan mas Lutvifikiran saya jadi terbuka.

  • Makasih Gan telah dibahas lebih lengkap lagi disini..

  • 100% tidak ada penyangkalan terhadap yang telah mas Lutvi jabarkan diatas….

    menyambung komentar saya di artikel mas Udin…
    Ada cara yang lebih baik untuk bersedekah.Kenapa tidak melalui lembaga-lembaga amal. InsyaAllah itu lebih tepat guna dan tepat sasaran.

    Ada sabda nabi :
    “Sungguh, seseorang dari kalian mengambil talinya lalu membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya, kemudian ia menjualnya sehingga dengannya Allah menjaga wajahnya (kehormatannya), itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain, mereka memberinya atau tidak memberinya”.

    Bukankah memberikan umpan dan kail lebih baik dari pada langsung memberi ikan.

    Nah, itu yang saya maksud dengan memberi dengan pertimbangan… Memberi bukan hanya sekedar memberi tapi memberi yang mendidik.

    Sekali lagi saya tekankan mas.. 100% saya tidak menyangkal apa yang mas Lutvi jabarkan diatas..

    Dengan memberi pastilah akan mendapatkan pahala dari Allah. Tapi, dengan tidak memberi pun dengan niat mendidik, tidak akan mendapatkan dosa juga kan. Tentunya tidak memberi dan tidak mencibir pula…. Memberi dengan senyum, tidak memberi pun dengan senyum….

    Seandainya banyak orang yang mengerti manfaat dari memberi/bersedekah, pastilah akan banyak orang yang akan memberi/bersedekah. Tapi saya lebih memilih memberi yang lebih tepat guna dan tepat sasaran (melalui lembaga amal misalnya)… Apakah itu salah mas ???

    Mohon bimbingannya mas…..

    • Lutvi Avandi says:

      Benar sekali. Kalau banyak yang bisa diberikan, memang butuh pertimbangan dan efisiensi. Tapi kalau sekedar 100 atau 200 rupiah saya pikir tak perlulah