Adil itu Relatif

Aug 15th, 2010 | By Lutvi Avandi | Category: Sabar dan Syukur

Sudah lama saya mencoba membuat konsep sederhana tentang keadilan. Walaupun saya sudah menjadi anggota Partai Keadilan Sejahtera sejak partai ini masih bernama Partai Keadilan dan walaupun sudah sering mendengar konsep tentang keadilan, tapi saya masih belum puas dengan konsep-konsep tersebut. Karena kecenderungannya justru malah tidak adil dan susah diterapkan dalam kehidupan nyata.

Untuk sementara ini, saya menganggap keadilan itu adalah sama-sama ikhlas diantara kedua pihak saat transaksi berlangsung. Inipun belum sepenuhnya benar, karena boleh jadi ada situasi dan kondisi tertentu sehingga seseorang itu merasa ikhlas saat transaksi.

Sebagai contoh saat ada 2 orang berhutang. Menurut hukum Islam, kita tidak boleh meminta tambahan nilai atas hutang yang kita berikan. Contohnya hutang Rp. 100 juta, maka harus dikembalikan Rp. 100 juta. Gak boleh kita minta mereka mengembalikan Rp. 110 juta. Nah, saat transaksi hutang piutang, maka pemberi hutang mungkin ikhlas memberikan uangnya dengan akad akan dikembalikan dalam tempo tertentu dan nilainya tetap.

Tapi jika kemudian si penghutang mangkir dan molor dari jadwal pembayaran, maka pemilik uang kemungkinan akan kesal. Dan jika penghutang mencoba minta hutang lagi dengan alasan apapun, kemungkinan akan ditolak. Saat itu akad yang awalnya sama-sama ikhlas kemudian menjadi tidak ikhlas salah satunya akibat suatu kondisi tertentu.

Adil = Menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya / kondisinya

Maka adil itu mungkin seperti kalimat diatas. Menempatkan sesuatu sesuai kondisi atau tempatnya. Atau lebih sederhananya lagi, adil itu relatif. Kita harus mampu membaca situasi dan kondisi agar bisa berlaku adil. Dalam kasus hutang diatas, untuk akad kedua kita bisa mengubah kursnya bukan dengan rupiah, tapi menggunakan emas.

Saat akad, kita gunakan nilai yang akan senantiasa stabil dari waktu ke waktu contohnya emas. Jadi akadnya anda hutang 100 gr emas. Maka dia harus mengembalikan dalam bentuk 100 gr emas juga. Jadi jika suatu saat dia mangkir maka nilainya akan tetap. Inipun sebenarnya rugi bagi pemilik uang karena dia tak bisa memanfaatkan uangnya untuk hal lain yang mungkin lebih menghasilkan.

Yah, memang itulah keadilan di dunia ini. Sangat relatif dan karena menyangkut hubungan dengan orang lain, maka jadilah makin membingungkan. Karena boleh jadi yang menurut kita sudah adil, tapi menurut orang lain sangat tidak adil. Karena adil itu relatif.

So, bagaimana caranya berlaku adil?

Tak ada teori yang bisa dipakai sebagai patokan dalam hal ini. Bahkan pengadilan di negeri kita pun seringkali mendzolimi pihak-pihak tertentu. Tapi untunglah bagi umat Islam kita mengenal pengadilan hari akhir. Dan kita juga sudah yakin bahwa dunia ini hanyalah sementara.

Jika kita yang memiliki kekuasaan dalam menentukan pilihan, maka selalulah istighfar setelah memberi keputusan. Karena boleh jadi, apa yang kita putuskan belum tentu adil bagi pihak-pihak tertentu. Jangan sampai keputusan yang benar menurut kita, justru akan menyeret kita ke gerbang neraka. Islam mengenal sholat istikharah untuk memohon kemantapan hati dalam menentukan keputusan. Kita juga punya Allah yang senantiasa membimbing kita. Kita juga punya Al-Quran dan Sunnah sebagai bahan pertimbangan. Kita juga punya ulama-ulama yang begitu banyak dan begitu mudah ditemui untuk menambah pertimbangan-pertimbangan.

Berlaku adil memang sulit tapi kita harus memutuskan sesuatu. Maka, musyawarahlah jalan terbaik mengatasi semuanya :)

Diakses dengan kata kunci:

8 Responses to Adil itu Relatif

  • Salam Kenal dariku, nice artikel Sekalian mau bilang Met Puasa bagi yang puasa. Met sejahtera bagi yang gak njalanin. Semoga selamat & damai dimuka Bumi. Amin

  • cucu says:

    Bener banget mas, adil itu memang harus memperhatikan kebutuhan dan kondisi juga

    artikel nya bagus,,
    like

  • Agus Siswoyo says:

    Benar mas, relatif. Relatif mahal harganya maksudnya.

  • A Fauzi says:

    Hanya Tuhan yg maha adil, kita serahkan saja semua urusan padaNya. Soalnya pengadilan sini sudah dikuasai mafia …
    Dan hubungan sosial itu mestinya bisa lebih indah bila kita mau saling bantu, tidak ada motif explorasi bisnis …

  • Erdien says:

    Adil retalif = untuk mendapatkan keadilan kadang harus rela memberikan “TIP”

  • tawjackson says:

    there’s no justice in world.
    saya merupakan pengecam kehidupan dunia.
    saya tidak miskin tidak kaya, namun dgn melihat keadaan dunia yang carut adul, buat apa dunia diciptakan?
    nabi adam lah yg tanggung jawab, kenapa dia memangan buah khuldun, hrsnya kita semua ada di sawarga, di bawah lindungan keadilan tuhan, goro2 nabi adam kita semua dibuang ke dunia yg tercela ini.

    • Lutvi Avandi says:

      Gak ada yang bersalah. Makan ndak makan, Adam harus turun ke Bumi karena untuk itulah dia diciptakan. Lha kalau ndak diturunkan trus buat apa Adam diciptakan? Soal makan buah khuldi itu mah cuma penyebab aja dan memang buah itu adalah ujian buat Adam. hehehe…

      Kenapa dunia diciptakan? Dunia ini adalah ujian buat semua manusia. Untuk memilih siapa yang layak kembali ke surga dan siapa yang tidak. Kalau kita lulus ujian ini, ya kita akan balik lagi ke surga. Gampang toh. Carut marut dunia ini, semua hanyalah skenario dan tantangan-tantangan Allah. Sengaja Allah melepas syetan sebagai bagian dari dunia. Tapi Allah gak tinggal diam, Dia mengirimkan nabi-nabi membawa petunjuk-petunjuk-Nya. Istilahnya cheat supaya kita bisa lolos dari godaan syetan..