Output tergantung input.

Jika terlalu sering menerima bantuan, maka suatu saat nanti pemberi bantuan akan minta imbalan dan mau gak mau harus mau membantunya.

Itulah sebabnya, ulama dulu gak pernah mau terima bantuan. Bahkan di beberapa pondok semua makanan santri, semua bangunan dibiayai pondok sendiri dari hasil pertanian dan peternakan serta beberapa bisnis yang dikelola pondok sendiri.

Bahkan SPP-pun digratiskan sehingga pondok punya power kuat untuk menyeleksi santri-santri yang masuk dan orang tuapun gak merasa berhak ngatur-ngatur pondok.

Hasilnya apa? Pondok itu mandiri, kuat dan berwibawa. Pondok membantu selalu secara sukarela bukan bantuan terpaksa karena balas budi.

Kyainya pun kalau ngomong ya berbobot dan gak sarat akan kepentingan macem-macem. Salah dia bilang salah, benar ya dibilang benar.

Demikian juga dengan kita. Jadilah manusia mandiri yang mencukupi kebutuhan sendiri. Selama kita hidup hanya dari bantuan orang lain, selama itu pula kita harus siap2 jadi budaknya.

Enaknya jadi Muslim

Jadi muslim itu enak. Jika kondisi kurang mendukung dan dia bersabar, maka baginya pahala. Jika kondisi mendukung dan dia bersyukur, maka baginyapun pahala.

Mau oposisi, jadilah oposisi yang baik. Dengan niat tulus menasehati saudara sendiri yg mungkin menurut kita keputusannya beresiko.

Mau jadi pendukung pemerintah, jadilah pendukung pemerintah yang baik. Dengan niat tulus ikut mewarnai jalannya pemerintahan agar bisa lebih baik.

Toh jadi oposan maupun simpatisan, akhirnya nanti juga sama. Sama-sama dihisab, sama-sama dimintai pertanggung jawaban.

Yang penting jangan pernah membenci. Apalagi dendam. Itu gak akan pernah bawa kebaikan. Gak peduli kamu oposan atau simpatisan, benci dan dendam cuma akan menghancurkan diri sendiri.

Bersyukurlah
Bersabarlah
Karena dalam keduanya, ada rahmat Allah.
InsyaaLlah…

Pendidikan Sampah Usia Dini

Di Surabaya ini lucu. Sampah disediakan 2 tempat, organik dan non organik. Tapi pas petugas pemungutnya datang eh dicampur wkwkwk…

Edukasi soal memilah sampahpun sangat sangat dan amat sangat kurang banget.

Memilah sampah

Harusnya urusan-urusan kayak gini itu dibiasakan di TK dan SD kelas 1-2. Anak2 kecil itu gak usah diajarin macem2 dulu. Percuma, gak semua anak bisa menangkap dg baik.

Anak2 itu harus ditanamkan disiplin dan aturan-aturan yg berlaku di masyarakat.

Buang sampah, perhatian pada tanda2 dan rambu2, antri, adab, sopan santun, tata bahasa, harusnya itu aja yg diajarkan.

Lha anak masih seuprit udah diajarin bahasa Inggris, bahasa Arab, matematika, macem-macem. Akhirnya gak ada waktu belajar adab2 dan aturan di masyarakat.

Jadi ya jangan kaget kalau generasi yg terbentuk adalah generasi yang punya ilmu, pinter tapi gak punya sopan santun. Mobil boleh mentereng, tap kelakuan kayak orang primitif, buang sampah seenaknya, lempar aja dari mobil seolah dunia cuma sebatas sekotak mobilnya dan gak ada orang lain di luar.

Abis itu baru teriak2 Adab dulu baru Ilmu. Preketeeek

Mulai dari Rumah Sendiri

Setelah sukses ngajari buang sampah di tempatnya. Saatnya mengajari Aqila untuk memilah sampah jadi 2. Organik dan non organik.

Beruntung kami punya sedikit tanah utk menimbun sampah organik. Saya belum membuat composter, karena ingin tahu dulu volume sampah organik di rumah kami seberapa.

Dengan lubang sekecil ini saja yg bisa dibuat kurang dari 10 menit, ternyata sudah cukup untuk sampah organik selama 4 hari dan masih belum penuh. Mungkin besok baru penuh.

Jadi sepertinya blm terlalu butuh composter, tinggal manage lokasi penggalian saja agar bisa muat sampah banyak.

Sampah organik bisa terurai dalam waktu 30 hari. Jadi, jika menyediakan 4-5 lubang saja insyaaLlah cukup untuk kebutuhan sampah keluarga.

Maka insyaaLlah sampah-sampah yang keluar dari rumah kami tinggal sampah non organik.

Untuk itu, sayapun berencana membuat semacam alat pembakaran sampah mandiri yang sudah pernah saya ujicoba dengan pembakaran yang sangat cepat karena suply oksigen ke ruang pembakaran lancar.

Pembakaran sampah hanya menggunakan seng bekas, kawat dan bata ringan

Saya sedang coba bikin yg bisa dilipat-lipat sehingga ringkas dan bisa disimpan. Punya saya dulu lumayan ribet memasangnya dan harus pakai bata ringan segala hehehe…

Mengajari orang lain mungkin sulit, tapi setidaknya saya bisa menyumbangkan manusia2 yg peduli pengelolaan sampah dari keluarga ini.

Saya sering ketemu ibu-ibu dengan anaknya yang justru mengajari anaknya membuang sampah sembarang. Semoga lekas sadar…

Kenapa sih Perlu Passive Income?

Sebenarnya apa sih ARTI PASSIVE INCOME?

Secara teori, passive income artinya penghasilan yang bisa didapatkan walaupun pelakunya tidak hadir di sana atau melakukan sesuatu.

Contohnya uang sewa kos2-an, deviden saham, royalti, dll.

Apakah punya passive income = tidak usah kerja lagi?

NO! Passive income justru agar kita bisa kerja lebih giat dan lebih semangat lagi. Kok bisa?

Jadi gini lho, ketika anda dapat penghasilan hanya karena bekerja, maka biasanya kerjanya gak bisa maksimal.

Kenapa?

Karena takut ada resiko. Kuatir kecapekan sehingga gak bisa kerja lagi besok. Kuatir gagal, kuatir ada masalah, dll. Karena bekerja adalah satu-satunya cara anda bertahan hidup. Maka anda berusaha agar bisa tetap bekerja. Anda takut kehilangan pekerjaan sehingga cenderung melakukan hal-hal yang anda pikir aman.

Nah, ketika anda punya passive income, kekhawatiran itu akan berkurang. Anda akan punya pemahaman bahwa sekarang anda bisa coba hal2 baru yang lebih menantang, lebih beresiko untuk hasil yang lebih besar lagi.

Berani capek2 kerja karena anda tahu kalaupun kecapekan anda tinggal berlibur atau istirahat dan gak ada masalah dengan urusan keuangan.

Maka sangat keliru kalau menanyakan katanya udah passive income kok kerjanya masih kayak gitu, kayak gak punya duit aja.

Hehehe… justru karena dia punya passive income yang sangat aman makanya dia berani take a risk yang maksimal untuk hasil yang lebih besar dan untuk bawa manfaat yang jauh lebih besar lagi.

Apakah karyawan bisa punya passive income?

SANGAT BISA! Asal mau menyisihkan dana tiap kali gajian. Contoh gampangnya begitu dapat gaji, langsung potong 5% untuk dana investasi. Bisa dibelikan emas dulu.

Sampai kapan?

Sampai emas anda setara dengan 3 bulan kebutuhan hidup standart. Misalnya kebutuhan makan, tagihan, bayar SPP, dll adalah 4 juta per bulan, maka cadangan dana 3 bulan artinya 12 juta.

Kalau sekarang harga emas 700rb ya berarti butuh sekitar 17 gram emas. Nah, mulai deh nabung emas dari potongan 5% gaji.

Jika gaji sebulan 5 juta, berarti 500rb belikan emas. Terus gitu sampai emas yang anda punya nilainya melebihi kebutuhan hidup 3 bulan. Kalau butuhnya 12 juta kan paling 2 tahun kelar tuh. Belum lagi harga emasnya kalau naik, bisa-bisa gak nyampe 2 tahun selesai.

Saat itu, anda sudah boleh dibilang aman secara financial. Selanjutnya bisa beralih ke investasi yang lebih beresiko. Misalnya reksadana dan saham.

Mulai nabung lagi tapi kali ini dialokasikan ke reksadana atau saham. tentu sambil nabung juga mulai belajar-belajar dong. Kan belajar gak harus punya duit dulu.

Pendapatan Pas-pasan bisa Investasi?

BISA! Caranyapun sebenarnya mudah dan semua orang sejatinya bisa melakukannya asalkan punya perencanaan yang baik.

Pepatah mengatakan, “Gagal dan merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan”.

Bagaimana caranya agar pendapatan pas-pasan bisa berinvestasi?

BUAT JURNAL KEUANGAN

Apa yang tidak dapat diukur maka tidak dapat ditingkatkan. Bagaimana anda tahu bahwa anda sudah berhemat kalau gak pernah dicatat? Mengandalkan ingatan saja itu omong kosong. Manusia tempatnya lupa jadi gak usah sok ingat semua pengeluaran anda selama sebulan penuh.

CATAT… CATAT dan CATAT… SEMUA PENGELUARAN

Anda mungkin tidak harus mencatat semua secara detil. Tapi cukup secara global dulu. Misalnya, makan di warung habis berapa? Catat. Ke minimarket habis berapa? Catat. Anak minta jajan sehari ini habis berapa? Catat.

Catat jumlah2-nya saja. Tidak perlu detil per item-nya.

Setelah 1 bulan, review catatan anda, apakah pengeluaran di bawah pendapatan atau malah di atas penghasilan?

Jika masih besar pasak daripada tiang, maka mulai buat kolom di samping kolom pengeluaran anda lalu tuliskan harusnya bisa dihemat sampai berapa?

Misalnya makan di warung selama sebulan ini kok tiap malam, jika makan di rumah bisa hemat, maka coret makan di warung, ganti dengan makan di rumah dg budget berapa.

Lalu ke minimarket kok ternyata selalu habis banyak, inget2 lagi seringnya ke minimarket beli apa yang gak perlu? Contohnya saya dulu tiap ke minimarket selalu beli minuman botol. Sekali mungkin murah, tapi kalau tiap ke minimarket beli itu ya jadinya lumayan juga selama sebulan wkwkwk…

Lha minumannya 7rb, sehari paling gak 2x jadi 14rb. Sebulan bisa 40x ke minimarket. Artinya pemborosannya 40 x 7rb = 280rb. Lha kalau gaji cuma 2,8 juta kan berarti 10%-nya hanya buat beli minuman doang hahaha…

Nah, coret kebiasaan yg gak perlu saat di minimarket.

FINANCIAL PLANNING

Kalau sudah coret2 dan kelihatan budgetnya yang alhamdulillah sudah di bawah penghasilan, hitung sisanya berapa. Misalnya sisa 500rb. Maka bulan depan, begitu dapat gaji langsung potong 500rb.

Cuma sisa 100rb doang mas? Gpp, ambil dulu.

Bisa langsung belikan emas atau nabung emas online sehingga uang itu tidak gampang terpakai lagi.

Jika pilih emas online, bisa pakai aplikasi Tamasia. Silahkan download di sini: https://cb8.me/tamasia lalu saat pendaftaran gunakan kode referral: ISXOT6B

Lalu setiap kali mau ke minimarket atau warung atau ingin beli hal-hal yang tidak anda inginkan, cek selalu budgetnya.

Budget utk belanja wajib seperti bayar tagihan, hutang, bayar sekolah, dll harus dipotong dulu di awal semua. Masukkan dalam amplop khusus.

Budget belanja sehari-hari langsung dibagi 31 hari dan jangan pernah habiskan lebih dari jatah hari itu.

TURUNKAN EGO dan GENGSI

Kebanyakan orang belanjanya melebihi penghasilan bukan karena butuh, tapi karena gengsi, ego, dll. Ke minimarket butuhnya cuma beli sabun eh beli minuman juga, beli promo di rak kasir juga. Padahal gak perlu. Akhirnya belanja membengkak.

Tapi malu mas masak ke minimarket cuma beli 1 doang?

Lha emang siapa yang coba menghina sampeyan ke minimarket beli 1 doang? Saya sering tuh beli cuma 1 doang, itupun gak nyampe 5.000 harganya. Santai aja tuh. Dan belum pernah saya tahu ada yang nyeletuk kok cuma 1 aja. Kalaupun ada ya tinggal bilang, iya cuma 1 aja. Beres.

Wong dia gak ikut bayarin belanja kita kok. Ngapain sewot dengan omongan orang?

BERI REWARD PADA DIRI SENDIRI

Jika berhasil melakukan penghematan bulan ini, cek berapa sisanya? Nah, manfaatkan itu untuk reward pada diri sendiri atau keluarga. Bisa ajak makan, belikan sesuatu yang disuka atau yang lainnya.

Tapi inget! Hanya gunakan uang sisa belanja yang berhasil dihemat saja.

Kalau gak ada sisa gimana? Gpp, bulan depan dicoba lagi.

Kontroversi Iklan Rabbani

Ada 2 hal di iklan Rabbani yang diperdebatkan atau diprotes atau disayangkan atau dianggap menghina agama atau dianggap menghina pemakai jilbab dan atau-atau yang lainnya.

No photo description available.
Iklan Rabbani yang kontroversial

1. Soal foto kambing memakai kerudung
2. Soal tulisan Korban ga wajib, dst..

Pertama tarik nafas dulu… tarik yang dalaaaam lalu lepaskan. Ijinkan pikiran tertinggi anda hadir membaca tulisan ini. Selama otak mamalia yang dipakai maka sebaiknya berhenti membaca. Percuma, otak mamalia gak akan mampu memahami tulisan ini.

Otak mamalia adalah bagian otak manusia yang bertugas melindungi kelompok. Bisa keluarga, organisasi, partai, klub agama, atau kelompok2 lain.

Ditambah lagi mindset yg berkembang bahwa tengah ada upaya menghancurkan umat Islam lewat propaganda-propaganda sionis, mamaria dan silumati.

Taruh itu semua dan mari mulai berpikir bijaksana… cieee… sok bijak.

1. Kambing memakai kerudung = melecehkan agama?

Saya paham bahwa bagi sebagian orang, pakaian adalah simbol agama. Jilbab, sajadah, bendera tauhid, dianggap simbol agama. Anehnya sarung dan kopyah nggak hehehe… Ntahlah saya gak paham.

Saya memilih tidak meletakkan agama pada simbol-simbol. Karena Rasulullah sendiri meletakkan agama ini dalam pondasi aqidah dan akhlak. Dan itu ditunjukkan lewat perilaku sehari-hari.

Kerudung itu bukan Islam. Itu cuma pakaian. Hanya alat untuk menjalankan syariat. Sama seperti sajadah, sarung, kopyah, dll. Jika ada wanita menutup auratnya pakai sarung apakah dia disebut tidak punya agama atau gak mengikut syariat?

Dulu waktu masih kecil, kami suka main2 dengan kambing qurban. Kami pakaikan dia kopyah di tanduknya. Jadi mirip tukang jual sate. Apakah penjual sate marah? Nggak tuh, beliau yg juga guru ngaji kami ketawa-tawa aja.

Karena kami paham mana agama dan mana alat pelengkap. gak ada kopyah bisa pakai ikat kepala atau sekalian rambutnya dipendekin beres.

Kalau anda mudah banget merasa terhina hanya gara2 ada kambing pakai jilbab, ya ampuun betapa naif-nya. Sesuci itukah anda sampai2 ada kambing pakai jilbab aja anda merasa terhina? Jilbabnya juga bukan jilbab sampeyan yg dipakai.

2. Kalimat Korban Ga Wajib…. dst

Ya emang betul korban itu gak wajib. Bahkan kalau bisa dihindari. Ngapain sampai jatuh korban? Sebisa mungkin dalam peristiwa seberat apapun jangan sampai jatuh korban.

Kalaupun kata korban dianggap qurban ya tetep sama gak wajib juga. Hukum berqurban itu sunnah mu’akkad.

Dah, itu penjelasan saya. Hutang lunas. Kewajiban menyampaikan sudah dilakukan. Perkara masih tetep dongkol, marah yo urusanmu. wkwkwk… Saya lebih memilih stay cool menatap masa depan Islam yang penuh gemilang insyaaLlah.

Memanfaatkan Sentimen Negatif Umat Islam

Sejak peristiwa pelecehan atas ayat Al-Quran yang dilakukan Ahok dan disambut dengan pelecehan-pelecehan yang dilakukan oleh pendukung-pendukungnya serta ditambah lagi pihak kepolisian yang kurang begitu tanggap atas isu-isu seperti ini, sentimen umat Islam terhadap hal-hal yang berbau pelecehan agama menjadi sangat sensitif.

Sedikit aja menyentuh hal-hal yang berbau agama, apalagi yang bisa dihubungkan dengan agama pasti akan langsung tersulut amarahnya.

Rupanya reaksi sebagian kalangan umat Islam yang seperti ini dimanfaatkan betul oleh Rabbani.

Kalau dilihat dengan pikiran tenang sih harusnya iklan itu ya biasa-biasa aja. Tapi bagi yang pikirannya merasa bahkan agamanya sedang terancam dan sedikit sentuhan saja akan langsung menimbulkan reaksi.

Contohnya kucing ketika santai, anda pegang ya dia cuma noleh doang. Tapi ketika dia lagi hadap-hadapan sama kucing lain dan sama-sama marah serta waspada lalu anda coba sentuh, pasti akan langsung bereaksi.

Jangan Terlalu reaktif

Sosmed memang media yang sangat cepat bereaksi. Kadang kita gak mampu berpikir panjang saat membaca tulisan-tulisan di layar. Begitu ada yang menyulut emosi, langsung share lengkap dengan caption.

Caption-caption ini ditambah dan dikurang hingga membuat persepsi bagi penerima berikutnya.

Bahkan saking yakinnya itu sebuah pelecehan agama, dijelaskan kayak ginipun masih gak mau terima. Otak sudah mendidih, gak bisa didinginkan lagi. Lihat saja Ahok, walaupun sudah dipenjara masih aja dendam.

Padahal sejatinya Islam itu damai. Ketika ada tindakan kriminal maka dihukum. Menghukumpun tidak boleh dengan emosi, tidak boleh dengan marah-marah.

Lihat saja di Arab Saudi, walaupun hukuman pancung sekalipun, dilakukan dengan profesional. Gak peduli seberapa bejat pelakunya, hukuman pancung tetap harus sesuai prosedur. Sekali tebas dengan sangat cepat dan selesai.

Itulah Islam.

Sampai Sayidina Ali r.a pernah dalam keadaan perang dan musuhnya sudah jatuh hingga tinggal sekali tebas saja. Tapi sepersekian detik kemudian musuhnya meludahinya. Apa yang dilakukan Ali? Dia urung menebas orang itu. Dia takut jihad-nya ternodai oleh amarah.

Itu kondisi perang lho dan musuhnya adalah orang yang siap membunuhnya. Bukan sekedar melecehkan. Tapi para sahabat berjihad bukan karena emosi. Mereka berjuang karena Allah. Menjemput syahid dengan senyuman, bukan dengan kepala mendidih penuh amarah.

Uang hanyalah Alat Tukar

Uang sudah kita kenal sejak lamaa sekali. Bahkan sebelum kita lahir. Uang udah kita pergunakan sehari-hari untuk beli ini dan itu. Tapi sayangnya, walaupun kita pegang uang tiap hari, ternyata gak banyak yang tahu sebenarnya uang itu apa sih?

Banyak orang menganggap bahwa uang adalah harta. Makin banyak uang artinya makin banyak hartanya.

Padahal belum tentu.

Sejarah Alat Tukar

Barter barang

Kalau kita kembali ke jaman sebelum ditemukan uang, orang-orang dahulu untuk berdagang menggunakan sistem barter. Tukar menukar barang.

Anda punya sayur, saya punya beras. Kitapun saling menukar barang. Saya dapat sayur, anda mendapatkan beras.

Awalnya tidak ada masalah sampai kemudian kebutuhan manusia semakin banyak sementara tidak setiap pertukaran bisa dilakukan.

Si A punya daging, dia butuh beras
Si B punya beras, tapi dia butuh sayur
Si C punya sayur, tapi dia butuh daging

Harusnya ketiga orang ini bisa saling menukar barang kan? Tapi karena si A tidak bisa menukarkan dagingnya dengan beras karena si B butuhnya adalah sayur, maka pertukaran tidak terjadi.

Ini baru 3 kebutuhan saja. Bagaimana ketika ada 50 macam kebutuhan dengan kepemilikan barang yang lebih kompleks lagi.

Belum lagi tentang nilai barang. Dalam sistem barter nilai barang ditentukan berdasarkan kebutuhan. Kalau orang yang kita tawari tidak butuh ya nilai barang jadi kecil banget. Mau aja dituker dengan barang kecil.

Akhirnya dibuatlah sebuah alat tukar yang memiliki dua fungsi sekaligus. Sebagai alat untuk menukar, juga sebagai alat untuk menilai suatu barang atau biasa disebut Harga.

Sejarah penggunaan alat tukar ini bermacam-macam. Mulai menggunakan garam, gandum, emas, perak, permata, dll. Biasanya dicari barang yang susah didapatkan agar nilainya cenderung stabil.

Barang-barang itu dijadikan patokan nilai barang dan disepakati bersama seluruh komunitas. Dengan alat tukar inilah transaksi bisa terjadi.

Lahirnya Uang sebagai Alat Tukar

Mengingat alat tukar berupa barang ini ternyata bisa diperbanyak dengan mudah, misalnya garam.

Awal-awal garam di Eropa termasuk barang yang susah didapatkan. Tapi seiring waktu ternyata mudah mendapatkan garam. Tidak harus menjual sesuatu untuk mendapatkan garam, bisa langsung mengeringkan air laut.

Atau emas, ternyata makin hari makin banyak orang mencari emas makin banyak orang yang kemudian mencari emas. Ya daripada repot-repot bikin barang dulu untuk mendapatkan emas, kenapa gak langsung aja cari emasnya? Ya toh?

Akibat alat tukar yang bisa bertambah banyak gara-gara orang mencarinya sendiri tanpa melalui proses jual beli, maka nilai alat tukar menjadi semakin kecil. Lha barangnya tersedia banyak. Hukum ekonomi berlaku, makin banyak barang tersedia, nilainya semakin kecil.

Inflasi jadi tak terkendali. Kamu jual sayur hari ini dapat 3 keping emas, eh pas butuh beras besoknya ternyata harga beras sudah 10 keping emas gara-gara barusan ditemukan tambang emas baru dekat situ sehingga nilai emas turun.

Maka kemudian diciptakanlah uang. Uang ini disepakati hanya bisa dikeluarkan oleh raja. Dibuat khusus agar tidak bisa ditiru oleh siapapun. Dengan uang ini, jumlah alat tukar dapat dikendalikan sehingga jumlahnya tidak bertambah sendiri seperti barang-barang yang lain.

Related image
Mata uang jaman kerajaan Majapahit

Awalnya uang berbahan dasar emas karena waktu itu emas adalah logam yang paling populer dipakai sebagai alat tukar. Untuk membedakan mana emas biasa dan mana emas sebagai alat tukar, dibuatlah cetakan emas.

Tapi ini tidak menyelesaikan masalah. Dengan mudah orang bisa membuat cetakan serupa sehingga lagi-lagi ketersediaan alat tukar jadi tak terkendali

Akhirnya lahirlah uang kertas. Dengan cetakan yang dibuat sangat unik, sulit dan tidak bisa ditiru. Hanya orang-orang tertentu yang mampu membuatnya. Semakin hari semakin canggih pembuatan uang sehingga semakin susah ditiru.

Image result for uang kertas
Uang Kertas Jaman Sekarang

Karena itulah uang jangan dianggap barang. Saya geli sendiri ketika ada yang membandingkan biaya pembuatan uang dengan emas. Ya jelas beda jauhlah. Kan uang itu cuma sebuah alat, sedangkan emas adalah barang.

Biaya pembuatan uang cukup hanya agar uang tidak mudah ditiru dan diperbanyak sendiri. Karena seperti emas atau garam tadi, jika jumlahnya terlampau banyak, harga-harga akan jatuh nilainya.

Lha kalau terlampau sedikit, misalnya ada proyek pembuatan patung emas oleh raja, ya akhirnya harga-harga akan melonjak naik karena ketersediaan alat tukar berkurang.

Maka uang harus dibuat agar tidak dapat diperbanyak oleh sembarang orang. Hanya lembaga pemerintahan saja yang boleh membuatnya dan mengesahkannya sebagai alat tukar.

Itulah sebabnya ketika membahas hadits nabi ini:

emas dengan emas, perak dengan perak, burr dengan burr, sya’ir dengan sya’ir, tamr dengan tamr, garam dengan garam, kadarnya harus semisal dan sama, harus dari tangan ke tangan (kontan). Jika jenisnya berbeda, maka juallah sesuka kalian, selama dilakukan dari tangan ke tangan (kontan)” (HR. Al Bukhari, Muslim no. 1587, dan ini adalah lafadz Muslim).

Harus dipahami bahwa saat itu, emas, perak, burr, sya’ir, tamr, garam adalah alat tukar. Karena sebagai alat tukar ya harus hand by hand. Dari tangan ke tangan alias kontan.

Tapi di jaman sekarang, sudah tidak ada lagi jual beli menggunakan emas, perak apalagi garam. Semua negara menggunakan uang sebagai alat tukarnya. Karena ya itu tadi, sifat alat tukar itu harus mampu dikendalikan peredarannya.

Maka barang-barang yang disebutkan dalam hadist tersebut statusnya sudah bukan sebagai alat tukar lagi, tapi sebagai barang.

Karena itu Dewan Syariah Nasional MUI melalui fatwanya Nomor: 77/DSN-MUI/V/2010 memberikan hukum jual beli emas secara tidak tunai adalah mubah alias diperbolehkan. Karena status emas adalah barang.

Jangan Menabung Uang

Kembali ke Uang sebagai Alat Tukar, dengan menyadari bahwa uang itu hanyalah sebagai alat tukar atau bisa juga dikatakan uang adalah alat untuk menilai suatu barang. Maka mengumpulkan uang adalah hal yang keliru.

Lho kok?

Ingat.. uang hanyalah nilai suatu barang. Mengumpulkan uang, artinya cuma mengumpulkan nilai barang-barang yang sudah kita jual. Lalu nilai itu buat apa?

Uang baru punya fungsi ketika sudah ditukarkan. Maka jangan menyimpan harta dalam bentuk uang. Simpanlah dalam bentuk barang. Terutama barang yang nilainya terus naik.

Contohnya emas, saham, property, tanah, dll.

Atau jadikan dia modal usaha, putar lagi agar bisa menghasilkan uang lagi.

Orang kaya berpikirnya bukan, wah saya mendapat uang. Tapi mereka berpikir, bagaimana dengan nilai segini bisa mendapatkan barang yang nilainya lebih tinggi lagi.