Harta itu Rejeki Receh

Di berbagai ayat, Allah selalu memakai kata “kami” saat menyampaikan proses pemberian rejeki. Itu menunjukkan bahwa Allah tak pernah memberikan rejeki one on one alias selalu ada perantara.

Perantara ini bukan hanya person tapi juga proses dan waktu.

Rejeki makanan misalnya, betapa banyaknya orang, kerja keras, sumber daya dan waktu yang dikerahkan untuk menjadikan seporsi makanan di piring kita.

Dari mulai nasi aja udah melibatkan begitu banyak pihak. Mulai pengadaan benihnya, mengolah tanahnya, pembibitan, penanaman, perawatan sampai panen lalu masih ada lagi proses pengolahan hingga jadi beras siap masak, belum lagi proses distribusi yg melibatkan bagian transportasi, kuli-kuli panggul, hingga pedagang kecil tempat kita membeli beras.

Makanya Rasulullah melarang kita mencaci makanan walaupun mungkin makanan itu tak sesuai selera kita. Karena ketika kita mencaci makanan, pada hakikatnya kita mencaci semua proses panjang terwujudnya makanan itu.

Akibatnya ketika udah dicaci maki eh kok dimakan juga, makanan itu jadi racun dalam tubuh. Jadi penyakit.

Itu baru rejeki makanan ya gaes yang insyaaLlah semua orang baik kafir maupun mukmin pasti dapat. Bahkan hewan yg tinggal di bawah batu di dasar lautan pun dapat.

Maka kalau bicara soal urusan dunia, sebenarnya kan sama aja toh antara punya mobil mewah harga milyaran dengan hanya punya kaki aja?

Boleh jadi yg kemana2 jalan kepanasan justru jarang banget sakit, umurnya lebih lama dan selalu bahagia. Udah banyak toh contoh orang2 desa yg hidupnya jauh dari kemewahan eh umurnya panjang2 karena rajin jalan kaki dan panas-panasan.

Bahkan sekarang banyak training2 kesehatan menyuruh membernya jalan kaki dan berjemur wkwkwk…

Para kuli tiap hari workout angkat bata, angkut semen, aduk semen, naik turun tangga workout tiap hari malah dibayar. Sementara orang kaya mau angkat beban, jalan kaki, senam harus bayar club gym jutaan.

So, jangan mempersempit arti rejeki hanya pada perkara dunia saja. Dibanding rejeki lain, harta itu sebenarnya paling murah dan paling kecil.

Betapa banyaknya manusia mendapatkan kesehatan gratis, anak2 yg sehat dan kuat gratis sementara sebagian lain harus bayar jutaan bahkan ratusan juta hanya biar bisa kentut.

Mereka yang pemasukannya besar, pengeluarannyapun besar dan lucunya sebagian besar hartanya dinikmati oleh pembantu-pembantunya.

Rumahnya gedeee banget, tapi sibuk kerja dan sering ke luar kota. Pembantunya nyantai di rumah, menikmati TV ukuran raksasa, menikmati makanan enak di kulkas, menikmati rumah yang megah. Nyantai di pinggir kolam dan menikmati gemulai ikan hias berharga jutaan.

Anak sholeh misalnya… nilainya takkan sebanding dengan kekayaan Bill Gates sekalipun. Bahkan andai ada 7 orang Bill Gates mau menyerahkan semua hartanya untuk ditukar dengan 1 anak sholeh pun takkan cukup. Lha dia sholat sunnah fajar doang aja udah setara dunia seisinya kok, apalagi cuma secuil Bill Gates.

Jantung anda misalnya, jantung sehat anda jika ditawarkan ada begitu banyak orang yang siap bayar milyaran. Mahal banget.

Jadi.. untuk apa kemrungsung hanya gara2 gak punya mobil? Kenapa sedih hanya gara2 tetangga baru beli mobil bagus. Padahal Allah beri kamu banyak hal yang mungkin orang lain gak punya.

Defensive Mode

Kondisi IHSG beberapa bulan terakhir ini memang cukup memprihatinkan. Naik turun gak jelas seperti menanti sesuatu. Bagi trend follower, kondisi seperti ini memang bikin puyeng karena saham akan sering kena cutlose dan setelah cutlose malah naik lagi.

Ada beberapa cara mengatasi ini yaitu mulai mengurangi RPT ketika kondisi IHSG sedang downtrend. Menguranginya bisa bertahap. Misalnya di kondisi normal menggunakan RPT 0,7% maka saat IHSG downtrend, bisa pakai RPT 0,5% dan jika terkonfirmasi downtrend, langsung ubah jadi RPT 0,3%.

Saya sendiri menggunakan semacam metode pembelian bertingkat di tiap trading, sehingga dalam kondisi IHSG seperti apapun tidak masalah. Namun, metode ini baru saya uji secara serius 3 bulan terakhir saja dan alhamdulillah hasilnya lumayan bagus jika dibandingkan dengan system Tapak Naga yang saya ikuti.

Jadi, system Tapak Naga itu memberikan laporan bulanan berapa pertumbuhan kinerja Equity. Laporan inilah yang kita gunakan untuk menilai apakah kinerja kita sudah on the track atau malah melenceng jauh.

Jika selisih dikit-dikit sih boleh dibilang masih on the track. Tapi kalau terlalu jauh, artinya ada masalah dengan cara trading kita.

Selama 3 bulan terakhir, inilah perbandingan kinerja bulanan saya vs Tapak Naga

BulanMy Equity (%)Tapak Naga (%)IHSG (%)
Agustus9.052.862.16
September-1.89-6.85-0.41
Oktober-1.231.250.55

Apakah ini berarti metode saya terbukti lebih bagus? Dalam 3 bulan terakhir iya, tapi ini gak bisa dijadikan patokan mengingat datanya hanya 3 bulan saja.

Kalau dibuat setahun juga gak bisa mengingat beberapa bulan sebelumnya saya masih tambal sulam sistem tradingnya sehingga tidak sepenuhnya menggunakan sistem TN. hehehe…

System yang saya pakai 3 bulan ini adalah dengan cara membeli saham dalam 2x trading. RPT yang saya pakai adalah 1% tapi belinya dalam 2 tahap.

Tahap pertama hanya 0,3% saja. Jika emiten bergerak sesuai kriteria yg saya tentukan, maka baru saya tambahkan lagi dengan RPT 0,7%.

Namun, di saham-saham tertentu dimana false TB-nya terlalu banyak, saya hanya pakai 0,3% saja dan baru nambah lagi jika saham itu muncul di incaran kembali.

Kekurangan metode ini adalah jika saham ditarik tinggi saat TB sehingga secara kriteria termasuk strong TB. Namun ketika saya tambah porsi justru dibanting hehehe…

Itulah yang terjadi di bulan ini dimana beberapa emiten menunjukkan TB yang bagus tapi beberapa hari setelahnya dibanting sehingga floating profit yang sudah ijo berubah jadi mines dalam.

Mengatasi Kecanduan Gadget

Beberapa waktu lalu ada seseorang yang menghubungi saya mengeluhkan tentang anaknya yang kecanduan game online. Katanya, anaknya bisa seharian main game online.

Alih-alih ngurusi anaknya, saya justru bertanya pada beliau. Kira-kira kalau anak bapak gak main game, terus pengennya seperti apa?

Beliau jawab pake jawaban standart ortu ya belajar, olah raga atau apapun yang bermanfaat gitu.

Lalu saya tanya, bapak siap mendampingi dia belajar, olah raga atau apapun yang bermanfaat?

Bapak mau 6 jam bersama dia, mengajari dia, mengajaknya olah raga bareng atau melakukan hal-hal bermanfaat bareng?

Sayangnya beliau gak menjawab

Mengenalkan anak pada teknologi itu kayak ngasih pisau.

Sisi positifnya, anak akan sangat lihai memainkannya kelak ketika dewasa.

Sisi negatifnya, anak bisa terluka.

Solusinya bukan menjauhkan anak dari teknologi, tapi mendampingi dan mengenalkan teknologi dengan baik.

Repotnya kan motivasi ortu ngasih gadget ke anak itu bukan untuk mengenalkan teknologi tapi lebih kepada membuat anak agar gak rewel atau minta yg aneh-aneh atau mengganggu ortu yg lagi kerja.

Akhirnya tujuan “agar anak menguasai teknologi” hanya sekedar alasan klise saat ditanya tetangga 😀

Siapa yang mengenalkan anak pada gadget? Siapa yang membelikan gadget? Siapa yang membelikan pulsa? Orang tuanya toh?

Lalu ketika anak tak terkendali karena asyik memainkan gadget kenapa menyalahkan anak? Bukankah orang tua sendiri yang pertama kali memberikan “pisau” itu pada si anak tanpa mau mengajari cara menggunakannya dengan lebih bermanfaat.

Anak saya hampir sehari-hari pake gadget. Nonton youtube. Tapi ketika ada temannya main dia lebih senang main.

Youtube yg ditonton juga sekarang ini mulai video2 aplikatif.

Sempat suka DIY. Bikin ini dan itu. Yang terbaru dia lagi demennya sama video pembuatan flip book. Bikin beberapa flip book sendiri. Lucu wkwkwk…

Pernah bisnis jualan sticker. Gambarnya ambil dari google lalu dicetak. Saya ajari cara nyari gambar di google gimana, cara save sampai melihat ukuran gambar yang bisa dicetak itu seberapa.

Itu baru namanya mengenalkan anak pada teknologi. Kalau cuma dibelikan HP lalu diawasipun nggak ya jangan ngaku2 mengenalkan anak pada teknologi. Itu namanya menyerahkan anak pada teknologi.

Dan kalau anak sampai kecanduan sampai terjadi hal negatif, maka sebelum menyalahkan anak, goblok-goblokin diri sendiri dulu.

Minta maaf ke anak, maaf ya nak, bapak goblok banget, tolol banget udah ngasih kamu gadget dan males mendampingi kamu.

Wahai orang tua, andalah yang mengendalikan anak sejak awal. Andalah yang mencetak mereka menjadi apapun mereka saat ini. Menyalahkan orang lain, menyalahkan anak, itu sih bukan sikap seorang ayah. Itu sikap PENGECUT !!

Value Added yg Cuma jadi Beban

Beberapa bulan lalu saat naik Gocar, pengemudinya berdiskusi dengan saya. Ia bertanya: “Kalau saya sediakan jajanan dan minuman gratis di mobil ini, menurut bapak bagaimana?”

Saya tanya balik, tujuan melakukan itu apa?

Driver menjawab, “Supaya penumpang senang. Saya bisa dapat lebih banyak order.”

Saya lalu melihat ke aplikasi Gojek. Bapak driver ini rating-nya 4.8. Hampir maksimal. Maksimal menurut saya 4.9.

Tidak pernah saya temukan driver rating 5. Karena tidak semua orang bersedia memberikan rating sempurna. Salah satunya karena menganggap ‘Kesempurnaan itu hanya milik Tuhan semata’ atau ekspektasi penumpang terlampau tinggi.

Kemudian saya beri pendapat.

Di dunia ini hanya ada 3 kunci pertumbuhan usaha melalui 3 tahapan:

  1. Mendapatkan pembeli.
  2. Membuat si pembeli membeli lebih sering.
  3. Membuat si pembeli membeli lebih banyak.

Sudah, itu saja rumus dan tahapannya. Di tahap 1 namanya ‘Pembeli’. Tahap 2 dan 3 namanya ‘Pelanggan’. Yang pada akhirnya menumbuhkan usaha adalah pelanggan yang loyal.

Yang driver hendak lakukan sebenarnya ada di tahap 2 dan 3. Niat ini sudah bagus.

Tapi masalahnya, setiap tahapan ini dikendalikan sepenuhnya oleh operator: Gojek atau Grab.

Mulai dari mendapatkan penumpang, mendapatkan penumpang lebih sering, dan mendapatkan penumpang lebih banyak (nilai order), diatur oleh operator melalui algoritma yang berjalan otomatis.

Algoritma sistem ini tidak mengenal loyalitas penumpang kepada driver.

Kalau saya puas kepada si driver, besoknya ketika saya mengorder Gocar hampir tidak mungkin dapat dia lagi. Karena mungkin dia ada di kawasan lain, sedang ada penumpang, sedang tidak ‘narik’, atau karena hal lain yang ditentukan oleh algoritma Gojek.

Satu-satunya yang mungkin adalah saya mengorder manual lewat telepon tanpa aplikasi Gojek. Itu pun belum tentu berhasil. Karena mungkin si driver lokasinya sedang jauh, sedang ada penumpang, atau sedang tidak aktif.

Selain itu belum tentu juga si driver mau. Karena bila menerima order di luar aplikasi maka driver tidak mendapat poin yang ujungnya adalah bonus uang ‘tutup poin’.

Niat si driver tadi hanya relevan bila ia punya kendali sendiri atas order. Misalnya ia seorang driver rental mobil.

Tapi kalau dikendalikan algoritma-nya operator yang tidak membaca variabel ‘jajanan gratis dalam mobil’, ya sia-sia jadinya.

Si driver masih tidak puas. Ia lanjut bertanya. “Kalau ada jajanan gratis, saya harap saya bisa bintang 5 terus. Kalau selalu bintang 5, maka saya akan selalu dapat order dari Gojek.”

Betul bahwa kalau dia bintang 5 maka order akan selalu datang dari Gojek. Tapi apakah untuk ‘selalu bintang 5’ membutuhkan jajanan gratis? Apa standar ekspektasi konsumen agar memberikan bintang 5?

Standar ekspektasi bintang 5 itu menurut saya: datang tepat waktu sesuai estimasi, mobil bersih rapi dan fit, driver ramah, kabin tenang dan sejuk, serta pemilihan rute. Sudah, itu saja customer exprience yang dibutuhkan.

Kalau terpenuhi insya Allah bintang 5. Bahkan ada sebuah standar yang berlaku di kalangan penumpang kalau tidak ada keluhan serius maka selazimnya beri bintang 5.

Saya sendiri meski kadang sedikit tidak puas, tetap memberi bintang 5. Katanya sih, kalau kurang dari itu bisa ‘mematikan rezeki’ driver. Intinya, toleransi mayoritas penumpang itu cukup tinggi.

Nah, kalau ditambah jajanan gratis, kan tidak membuat jadi bintang 6 apalagi ‘Bintang 7’. Wong mentoknya sampai 5 kok. Artinya, upaya dan biaya atas menyediakan jajanan gratis di dalam mobil menjadi sia-sia kalau dihubungkan pada aspek pertumbuhan usaha. Tidak relevan.

FITUR YANG JADI BEBAN

Hal seperti ini juga umum terjadi di tingkat yang lebih tinggi: layanan skala perusahaan. Mereka menyediakan fitur yang tak ada hubungannya dengan pertumbuhan usaha, tapi sekaligus jadi beban tetap. Baik secara keuangan, operasional, maupun SDM. Contoh: wifi gratis.

Seorang kenalan saya mengepalai sebuah rumah sakit swasta. Di sana ada wifi gratis. Lokasi rumah sakitnya bagus sehingga sinyal mayoritas operator selular selalu full bar.

Lalu saya tanya ke dia: apa hubungannya menyediakan koneksi internet gratis bagi pasien dan keluarganya dengan pertumbuhan usaha?

Dia jawab, itu value added. Ini jawaban paling klasik.

Iya betul, wifi gratis itu value added. Tapi seberapa besar dampak sebuah wifi gratis dapat menciptakan loyalitas pelanggan dibanding value lain dari rumah sakit itu?

Terutama value-value dasar seperti: keramahan, kebersihan, kerapian, kenyamanan, kecepatan, akurasi, kesigapan, dan kejujuran.

Menurut saya sih orang sakit yang datang ke rumah sakit itu utamanya ingin segera sembuh, dapat layanan yang ramah dan cepat, diagnosis akurat, nyaman tempatnya, dan jujur tagihannya.

Saya tidak pernah temukan ada orang memilih sebuah rumah sakit atau klinik karena di sana ada wifi gratis.

Dia jawab lagi, “Soalnya dulu provider internet bilang konsumen itu butuh layanan internet.”

Lha iya. Yang ngomong itu yang jualan bandwidth internet. Jelas dia akan ngomong begitu. Namanya aja ‘bakul bandwidth’. Sebagai ‘bakul’, si orang provider itu tahu betul bahwa kapasitas bandwidth untuk umum itu tidak akan pernah cukup. Akan selalu kurang.

Apalagi tanpa pengaturan bandwidth yang baik di sisi perusahaan. Karena konsumsi di end-user itu sulit terkendali. Akibatnya perusahaan akan selalu beli bandwidth tambahan.

Artinya uang akan terus keluar untuk membayar provider internet untuk sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan pertumbuhan usaha.

Menyediakan wifi gratis itu juga tidak sekadar beli bandwidth dari provier lalu urusannya selesai. Belanja modal dan belanja rutinnya banyak.

Harus beli access point, kabel LAN, alat kelistrikan, mikrotik, dll. Setelah terpasang pun harus di-maintain. Kalau ada keluhan harus di-troubleshoot.

Sementara tiap bulan biaya-biaya ini harus keluar terus dan cenderung makin besar. Tapi apakah semua pengorbanan dan beban ini berdampak langsung pada naiknya jumlah pasien atau nilai transaksi? Jelas tidak.

Sedangkan tidak semudah itu bagi perusahaan untuk menghapus sebuah fitur meski jadi beban dan tak memberikan dampak langsung pada usaha. Apalagi jumlahnya sudah besar.

Kalau layanan wifi gratis dihapuskan, bagaimana dengan penyusutan belanja modal? Misal beli 10 access point wifi gratis yang kemudian dianggap aset lalu disusutkan sampai 4 tahun. Biaya penyusutan selalu timbul tiap bulan.

Lalu tahun ke-2 wifi gratis mau dihapuskan, maka access point jadi menganggur. Tapi beban penyusutan jalan terus tiap bulan. Kalau diaudit bisa jadi masalah: kenapa ada biaya penyusutan tapi barang tidak terpakai.

Makanya biasanya perusahaan akan tetap menggunakan sebuah fitur meski jadi beban dan tak memberi nilai tambah yang diharapkan. Pokoknya hajar saja terus.

***

Tulisan ini tidak sekadar tentang jajanan gratis pada driver ojol. Atau wifi gratis di sebuah rumah sakit. Tapi sesuatu yang lebih fundamental: perkuat core value dan value proposition kita.

Kerahkan semua sumber daya perusahaan untuk memperkuat value itu karena akan berdampak langsung pada pertumbuhan usaha. Jangan ribet dengan ‘dekorasi’ atau ‘ornamen’.

Pembeli datang dan pelanggan jadi loyal karena kita punya kekuatan pada core value dan value proposition. Bukan pada value added.(*)

Oleh: Hilman Fajrian

The Power of Mindset

Bos saya dulu pernah bilang klo penghasilannya dari Bisnis Online adalah 6 juta per bulan. Saya yg masih cupu dengan penghasilan sebulan gak nyampe 1 juta-pun excited toh? Langsung masuk alam bawah sadar wah enaknya punya penghasilan 6 juta sebulan.

Alhamdulillah tercapai juga 6 juta. Tapiii……

Waktu terus berjalan, inflasi nambah terus hingga 6 juta sebulan jadi keciiiil banget. Dan apapun yg saya lakukan gak pernah bisa keluar dari zona 6 juta ini.

Susah banget menghapus program yg sudah kadung tertanam ini. Karena waktu itu disertai emosi yg menggebu, 6 juta adalah segala-galanya.

Namun akhirnya alhamdulillah bisa lepas juga dan gobloknya saya ulangi lagi kesalahan itu wkwkwkwk.. Lepas dari 6 juta eh saya kecantol di 10 juta.

Gara-garanya saya coba hitung2 pengeluaran per bulan udah dilebih-lebihkan udah paling enak deh pokoknya itu muncul angka 10 juta. Gak mau terjebak di 6 juta kayak sebelumnya, saya tambahin toh MINIMAL 10 juta. Maksudnya ya berapapun oke, asal gak di bawah 10 juta.

Hasilnya apa? Ya dapat sih 10 juta tapi lebihnya cuma 100rb wkwkwk… Modyar-o. Hanya dalam waktu setahun aja 10 juta itupun gak cukup. Tahu sendiri kan apa-apa naik sekarang 😀

Sampai akhirnya ikut kopdar-nya BehindSign. Dikasih rahasia bikin mindset yg baik. Apa itu? Minta asset yang mampu menghasilkan pendapatan senilai yg kita inginkan.

Jadi misal pengen 20 juta sebulan atau 240 juta setahun. Jika asset-nya menghasilkan 10% per tahun maka butuh 2,4 Milyar utk menghasilkan 240 jt per tahun.

Begitu ganti mindset kayak gitu, tiba-tiba aja ada aja bisa tiap bulan menyisihkan penghasilan untuk investasi. Tambah asset terus. Ilmu-ilmu investasi juga makin terasah. Beberapa sudah saya share di grup WA.

Awal-awal emang gak nyaman banget, minder sendiri dengan impian punya asset milyaran. Tapi tiap sholat saya bayangin equity saham saya sekian milyar. Saya bayangkan saya input laporan kinerja harian sekian em.

Tapi setelah berulang-ulang akhirnya mulai nyaman dengan kata-kata milyar. Dan ketika tutup mata, bayangkan saldo ATM berapa? Keluar angka sekian milyar hehehe…

Kenapa banyak cerita orang sukses yg dulunya berada di titik mines? Hutang besar sampe milyaran lalu sekarang jadi kaya raya.

Itulah kekuatan mindset. Biasanya ketika udah sangat tertekan, emosi ikut bermain sehingga nancep ke alam bawah sadar itu kuat banget.

Beda dengan mereka yg hidupnya lurus-lurus aja. Flat-flat aja. Biasanya ya flat terus hehehe…. Kayak saya ini.

Resiko kejeblok hutang terbesar yg pernah saya alami aja cuma sekitar 40-an juta. Udah mentok itu paling gede. Akhirnya mindset yg terbangun juga gak jauh-jauh dari angka itu. Ibaratnya batas aman saya cuma segitu doang.

Untuk bisa naik level maka ada 2 pilihan.

1. Kejeblok dulu kayak cerita di atas. Terjebak hutang sampai milyaran sehingga mindset langsung terbangun dengan cepat karena melibatkan emosi. The Power of Kepepet kata motivator

2. Membangun mindset sendiri setiap hari. Mengulang-ulangnya, membayangkannya setiap hari. Ini butuh waktu yg cukup lama apalagi bagi orang yg pikirannya kritis kayak saya. Bagai yg pikirannya mudah disugesti, biasanya lebih cepat. Ini caranya TDW dan Anthony Robins

Saya lebih milih yang kedua hehehe.. Memang lambat banget hasilnya tapi lebih nyaman untuk jantung wkwkwk

High Risk High Return

Ada begitu banyak amalan yg memiliki resiko tinggi tapi berpeluang menghasilkan pahala yang besar.

Menjadi pemimpin misalnya. Jika mampu memanfaatkannya dengan baik, adil dan amanah insyaaLlah pahala besar menanti bahkan pemimpin adil adalah salah satu dari 7 golongan yang mendapatkan naungan di hari perhitungan kelak.

Namun resikonya juga sangat besar. Ketika tidak amanah, maka bukan cuma menanggung dosa pada Allah tapi juga ada hak manusia yang harus siap dipikul. Kezaliman pemimpin artinya zalim pada rakyat. Bayangin jika berbuat zalim pada 1 orang aja udah bikin susah masuk surga, apalagi zalim pada 250 juta rakyat.

Berbakti pada orang tua misalnya. Bila mampu sabar, apalagi jika ortu-nya sakit-sakitan sehingga butuh banyak perhatian, insyaaLlah balasan Allah gak cuma kontan di dunia tapi juga hingga di akherat kelak.

Namun jika gagal berbakti, laknat Allah siap mendera. Bukan cuma di dunia tapi di akherat. Apalagi klo ortunya baperan, modyar kowe.

Bersyukur itu Apa sih?

Bersyukur itu apa sih? Dan kenapa kok kita udah merasa bersyukur eh rejeki gitu-gitu aja. Padahal Allah bilang:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”

Kira-kira Allah yang ingkar janji atau emang kitanya kurang bersyukur?

Kalau ustadz saya dulu mengartikan syukur adalah mengelola semua potensi dan rejeki yang diberikan Allah dengan sebaik-baiknya.

Contoh diberi nikmat sehat, maka dimanfaatkan untuk bekerja dengan niat mensyukuri nikmat Allah berupa kesehatan.

Diberi nikmat harta, dimanfaatkan harta itu, dikelola dengan baik sehingga mampu menghasilkan rejeki yg lebih banyak lagi.

Salah satu cara mensyukuri nikmat harta adalah dengan mencatatnya. Kenapa?

Biasanya kan kita baru bersyukur kalau dapat uang gede. Baru gajian, baru terima job gede baru deh alhamdulillahnya serius. Sementara ketika diberi nikmat kecil-kecil jarang kita syukuri.

Dengan mencatat, maka kita akan selalu bersyukur atas setiap rupiah yang kita terima maupun kita belanjakan.

Dapat 100rb, alhamdulillah… masuk catatan
Dapat lagi 400rb, alhamdulillah… masuk catatan
Dikasih uang proyek, alhamdulillah… masuk catatan
Nanti bayar listrik catat lagi, alhamdulillah bisa bayar listrik
Bayar cicilan, alhamdulillah masih bisa nyicil
Belanja di minimarket, alhamdulillah.. masih bisa belanja di minimarket.

Uang masuk dan keluar selalu tercatat dan bersyukur. Apalagi ketika akhir bulan dihitung ternyata ada kelebihan dana dan bisa investasi, alhamdulillah lagi.

Kira-kira nih, rejeki yg didapat makin gede atau makin mungsret?

Jangan belum apa2 kepedean bilang, alhamdulillah walau gaji cuma segini tapi semua kebutuhan tercukupi. Ini namanya rejeki berkah. Eiiitss… tunggu dulu. Bagaimana bisa tahu itu rejeki dicukupkan Allah atau malah diazab Allah kalau gak pernah dicatat?

Bagaimana jika jatah rejekimu itu harusnya masih cukup buat investasi dan tabungan dana cadangan?

Tapi krn males mencatat, males bersyukur alias syukurnya borongan lalu sama Allah dibuat pengeluarannya mentok menghabiskan semua gaji bulanan? Ada aja yg dibeli sampai gak bisa menyimpan sama sekali.

Hayoo?

Harusnya gaji 3 juta bisa nabung 500rb eh sama Allah dibuat gak bisa nabung sama sekali. Giliran nekat nabung baru dapat beberapa bulan ada aja pengeluaran yg menghabiskan semua tabungan.

Lalu sampai tua kerja terus kerja terus dan kerjaaaa terus.
Berkah dari mana broooh?

Sebab Bahagia

Orang bahagia itu macem-macem sebabnya. Ada yg bahagia dg arloji seharga 11 Milyar, ada yang bahagia hanya dengan tidur nyaman di atas becak tua.

Standart kayapun beda-beda. Bagi sebagian orang kaya berarti punya tas seharga 20 milyar. Tapi bagi sebagian lain kaya adalah ketika narik becak eh ada yg ngasih 100 ribu.

Motivator bilang, kalau mau kaya maka pikirkan hal-hal besar, pikirkan mobil mewah, rumah mewah barang2 mewah.

Tapi hei, banyak lho orang mau kaya tapi gak mau barang2 mewah. Buat mereka makan cukup, tidur enak, kerja tenang sudah dianggap sebuah kemewahan.

Tapi mas, dengan kekayaan kita bisa bantu banyak orang.

Ya itu benar, tapi coba anda perhatikan di kampung-kampung siapa yang paling banyak bantu orang? Kalau saya lihat sih justru orang-orang yang katanya miskin itu yang paling banyak bantu.

Kerja bhakti, dia kerja paling berat.
Masuk gorong2, dia juga
Ngecat gapura, jalan kampung, dia juga
Nyiapin aneka macam makanan kalo ada tetangga punya hajat.. eh dia-dia juga.

Sementara yang katanya kaya itu tiap kegiatan warga cuma cengar-cengir doang nyapu2 ala kadarnya biar dianggap kerja. Itupun cuma sekitar rumahnya doang 😀

Jika Allah memberimu amanah harta yang berlimpah, manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk bekal di akherat. Jangan sampai gara2 amanah itu kamu justru malah kesulitan di hari hisab nanti.

Jika Allah memberimu nikmat waktu luang alias nganggur, manfaatkan untuk sebanyak-banyaknya bantu orang. Niatkan bantu. Jikapun dikasih uang, terimalah, karena itu juga bantuan. Membantu dia menyeimbangkan energi.

Kaya dan sangat kaya itu cuma ukuran manusia. Sementara di akherat nanti, yang dihitung adalah bagaimana memanfaatkan kekayaan itu.