Cara Menggunakan Auto Order RHB Tradesmart

Menggunakan Auto Order RHB Tradesmart sangat mudah, walau untuk pengelolaannya ada yang kurang saya suka sih yaitu tidak bisa update data dengan mudah setelah membuatnya. Jadi kalau mau ubah data, misalnya mengubah trailing stop ya harus bikin lagi dari awal.

Pada artikel ini saya menggunakan RHB Tradesmart yang versi PC Windows ya. Kalau yang versi android silahkan disesuaikan sendiri.

Setelah login di aplikasi RHB Tradesmart, aktifkan dulu logon tradingnya agar bisa membuat auto order

Klik menu Account lalu klik Logon Trading. Setelah itu tinggal masukkan PIN seperti biasa.

Cara Menggunakan Auto Order RHB Tradesmart 1
Logon Trading

Setelah itu klik menu Order lalu pilih Advanced Order dan kalau anda mau auto buy ya pilih Price Conditional Buy atau kalau mau sell ya Price Conditional Sell.

Cara Menggunakan Auto Order RHB Tradesmart 2
Advanced Order

Sekarang tinggal anda atur saja kondisi beli atau sell-nya seperti apa. Misalnya saya mau beli DMAS sebanyak 100 Lot jika harganya turun ke 150. Maka tinggal atur aja Price 150, lalu Vol 100.

Untuk conditional IF saya pilih Last Price. Anda bisa pilih yg lain misalnya Best Bid atau Best Offer. Target Price 150. Jadi kalau harga menyentuh angka 150, maka otomatis dia akan order dengan harga 150 juga.

Kalau sahamnya termasuk cepat, biasanya dibuat mengalah 1 tick di atas, misal target 150, maka di Price anda masukkan 151 atau 152. Jadi, jika kebetulan gerakan naiknya sangat cepat anda masih punya harapan dapat barang.

Ini contoh settingan saya:

Cara Menggunakan Auto Order RHB Tradesmart 3
Auto Order Buy

Sekali lagi saya ingatkan, settingan, nama saham dan angka-angka di sini hanya asal mengisi ya. Bukan untuk ditiru persis. Sesuaikan dengan rule trading masing-masing.

Setelah semua diisi klik Add lalu akan muncul semacam persetujuan, silahkan dibaca lalu OK dan konfirmasi order anda klik juga OK.

Melihat dan Menghapus Auto Order

Untuk melihat apa saja auto order yang sudah anda pasang, silahkan masuk menu Order lalu klik Advanced Order lalu pilih Advanced order list

Di sini anda bisa melihat saham apa saja yang anda pasang auto ordernya. Untuk statusnya juga tersedia. Status Sent berarti order sudah dieksekusi sedangkan Received berarti sudah diterima tapi belum dieksekusi.

Cara Menggunakan Auto Order RHB Tradesmart 4
Advanced Order List

Seperti saya bilang sebelumnya, kelemahan di RHB adalah auto ordernya tidak bisa diedit, jadi kalau mau mengubah angka anda harus hapus dulu auto order sebelumnya.

Caranya tinggal klik kanan ordernya lalu pilih Withdraw

Cara Menggunakan Auto Order RHB Tradesmart 5
Hapus auto order

Sekarang ordernya sudah otomatis di withdraw. Biasanya akan tetap muncul di list dan baru besok hilang. Tapi statusnya sudah berubah jadi withdrawn.

Apakah setelah memasang auto order komputer harus selalu nyala?

Tidak. Setelah anda setting semuanya maka secara otomatis anda telah memberikan perintah kepada sekuritas untuk melakukan order sesuai kondisi yang anda tentukan.

Maka, saat kondisi terpenuhi, sekuritas akan melakukan order untuk anda. Pastikan saja ada saldo di rekening saham. Kalau tidak ada ya berarti hutang dan harus dibayar dalam waktu 2 hari.

Kalau sudah memiliki trading rule, biasanya anda akan lebih sering kerja pakai auto order. Sebab anda sudah tahu betul di kondisi seperti apa anda akan beli, jadi tinggal pasang aja sehingga tidak perlu memantau chart saham setiap hari.

Cobalah latihan menggunakan auto order ini 1 lot dulu sampai anda paham betul bagaimana fungsinya. Soalnya pengalaman saya, seringkali karena berurusan dengan angka itu suka terbolak-balik.

Rencana mau setting sell eh malah dimasukkan ke auto order buy hehehe.. Akhirnya bukannya cutloss malah tambah posisi hehehe..

Perhatikan juga valid date-nya ya. Sebab kalau sudah melewati valid date ya gak akan dieksekusi ordernya. Enaknya RHB, valid date-nya cukup lama bisa sampai 3 bulan.

Saya biasanya melakukan semua setup saat sore. Jadi setelah market tutup, saya langsung melakukan screening saham lalu memasukkan data-data yang diperlukan ke auto order.

Untuk auto order sebelumnya yang sudah tidak dipakai tinggal dihapus-hapus saja.

Dengan memanfaatkan fasilitas auto order ini, keuntungannya adalah anda bisa lebih disiplin dalam menjalankan trading rule.

Sebab kalau lihat chart pas kebetulan nyampe di level target lalu kok melihat pergerakan sahamnya kurang sip, anda jadi ragu mau beli. Padahal boleh jadi itu hanya pergerakan sementara saja.

Cara Melakukan Screening Saham

Screening saham adalah upaya cepat untuk mendapatkan data saham-saham potensial yang sesuai dengan kriteria dan rule trading saham kita.

Sebelum melakukan screening saham, anda wajib membaca cara membuat trading rule terlebih dahulu. Sebab tanpa trading rule, anda akan bingung sendiri nantinya saat melakukan screening.

Nah, anggap saja anda sudah punya trading rule dan sudah tahu saham apa yang sesuai kriteria anda.

Untuk melakukan screening saham, kita bisa memanfaatkan stock screener dari tradingview.com

Cara Menggunakan Auto Order RHB Tradesmart 6
Stock Screener TradingView.com

Silahkan buka https://www.tradingview.com/screener/ lalu anda akan mendapatkan data screening defaultnya. Saya lupa seperti apa defaultnya sebab punya saya udah saya setting hehehe..

Pertama, anda pilih dulu negaranya. Klik pada gambar bendera negara dan carilah Indonesia

Cara Menggunakan Auto Order RHB Tradesmart 7
Klik Gambar Negara

Setelah itu, anda tinggal main-main aja dengan Filters. Cek menu Filters warna biru yang ada pada gambar di atas.

Di filter ini, anda tinggal tentukan kriteria sahamnya saja.

Misalnya saya cari saham yang:

  • PER di bawah 20
  • ROA di atas 20%
  • DER di bawah 1
  • PBV di bawah 1
  • Volume di atas 1 juta

Nah, tinggal setting aja filternya jadi seperti ini:

Cara Menggunakan Auto Order RHB Tradesmart 8
contoh penerapan filter

Lalu kita lihat hasilnya, tinggal klik X aja di jendela filter agar tertutup dan anda akan langsung bisa melihat hasil filternya:

Cara Menggunakan Auto Order RHB Tradesmart 9
Hasil screening

Bisa dilihat, dengan ketentuan sebanyak itu, yang muncul hanya 2 saham ini saja.

Kolom-kolomnya bisa kita hapus dan ganti dengan kolom lain sesuai selera. Ini saya coba atur kolomnya agar semua kriteria bisa muncul

Cara Menggunakan Auto Order RHB Tradesmart 10

Kalau anda tambah lagi patokannya harus ISSI, maka tinggal 1 saham doang yaitu PALM hehehe..

Anda bisa atur sendiri filternya. Kalau filter di atas hanya asal-asalan aja saya menentukan jadi tidak perlu dianggap serius apalagi ditelan mentah-mentah.

Menurut saya, screener tradingview yang paling lengkap sih. Hanya saja dia belum ada ketentuan harus ISSI atau harus LQ45. Jadi harus kita sendiri yang menyaringnya kemudian.

Setelah tahu cara screening ini, anda tinggal menyesuaikan saja trading rule anda. Misalnya tidak tersedia di screening ya anda modifikasi. Atau bisa juga ditambah screening manual per saham.

Contohnya saya di atas, setelah muncul hasilnya hanya 2 saham ya saya pilih yang ISSI saja. Itu kan manual.

Kalau sudah mendapatkan list saham yang masuk kriteria calon target, selanjutnya tinggal menentukan kapan saatnya untuk beli saja.

Jurnal Trading dan Kenapa Anda Harus Punya?

Jurnal Trading adalah catatan detil jual beli saham yang anda lakukan. Semakin detil jurnalnya semakin baik. Jurnal trading biasanya berdampingan dengan Trading Rule. Jika anda memiliki lebih dari 1 trading rule, maka akan sangat bagus jika anda membuat masing-masing 1 jurnal trading.

Kenapa harus punya jurnal trading?

Pertama agar anda bisa memantau langsung saham apa saja yang anda beli atau jual dan mempelajari polanya. Sebab bagaimanapun, ingatan kita terbatas. Dengan adanya jurnal anda bisa melihat kembali trading anda di masa lalu dan alasan kenapa loss atau profit.

Dengan mempelajari lewat jurnal, secara otomatis anda sudah membatasi pemantauan hanya kepada saham-saham yang relevan dengan trading rule anda sendiri. Sehingga bisa semakin fokus dalam mempelajarinya.

Ini seperti anda berburu di hutan. Ada begitu banyak hewan dan anda hanya fokus di hewan berkaki 4 saja misalnya.

Saat sudah mendapatkan buruan anda mulai jadi spesialis, hewan mana yang paling sering anda dapatkan dan ciri-cirinya apa saja hingga ciri-ciri keberadaannya bisa anda pelajari lebih detil.

Sehingga semakin lama, hasil buruan akan semakin banyak sebab anda bisa tahu persis kapan dan di mana hewan buruan anda ada.

Apa saja yang dicatat dalam Jurnal Trading?

Sebaiknya anda mencatat sebanyak mungkin data yang bisa anda dapatkan. Namun, jangan sampai membuat jurnal trading justru lebih menghabiskan waktu.

Saya biasanya mencatat:

  • Tanggal beli
  • Harga beli
  • Jumlah lot
  • Harga saat ini (otomatis by google sheet)
  • Potensi untung/rugi
  • Tanggal jual
  • Harga jual
  • Jumlah lot jual
  • Untung/rugi final
  • Keterangan

Di keterangan biasanya saya isikan kejadian khusus terkait transaksi itu. Misalnya di harga yang tercantum lot-nya sebenarnya lebih kecil dari yang ditargetkan, sehingga ada kemungkinan di real trading tidak dapat.

Atau setelah beli, harga langsung anjlok turun, jadi semacam flase signal gitu aja.

Nah, catatan-catatan yang menurut anda penting ini harus dicatat. Jangan cuma dihafal saja 🙂

Disiplin mengisi Jurnal

Fungsi utama jurnal adalah mencatat segala sesuatu terkait trading saham anda. Jadi, usahakan jurnal dibuat sederhana sehingga andapun nyaman dan mudah mengisinya.

Jurnal yang terlalu kompleks akan membuat anda makin lama makin malas mengisi dan ini tentu kurang baik ke depannya.

Maka, semakin sederhana semakin bagus 🙂

Cara Membuat Trading Rule

Membuat Trading Rule sebenarnya mudah. Karena tinggal anda tentukan sendiri rule-nya seperti apa. Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat anda membuat trading rule agar tidak gampang terpengaruh emosi saat trading.

Kondisi Saham sebelum Beli

Anda perlu menentukan aturan kondisi saham yang akan anda pilih sebelum beli. Kondisi-kondisi ini harus dipenuhi oleh saham itu barulah anda mau beli.

Misalnya anda pakai analisa fundamental, maka boleh jadi anda tentukan bahwa sahamnya harus memiliki syarat sebagai berikut:

  1. Harus terdaftar di ISSI
  2. DER harus di bawah 1
  3. PBV juga harus di bawah 1

Itu contohnya. Gak harus anda tiru persis sebab itu saya hanya mengarang saja angka-angkanya hehehe..

Untuk yang pakai analisa teknikal, boleh jadi syaratnya seperti ini:

  1. Harga harus di atas 60, sebab kalau di bawah 60 kecenderungan untuk parkir di 50 lebih gede 🙂
  2. Harga harus di atas MA200 untuk mengonfirmasi bahwa saham sedang uptrend.
  3. Volume harus di atas 1 juta dan harus di atas VMA 30

Indikator lain silahkan ditambahkan atau digunakan. Yang di atas hanya contoh dan asal mengarang saja jadi tidak perlu ditiru mentah-mentah.

Intinya anda harus punya dulu kriteria saham yang bisa dan boleh anda beli. Dengan kriteria ini, anda akan mengeliminasi saham-saham yang beresiko menurut anda. Sehingga potensi kesalahan juga akan semakin berkurang.

Kondisi Saham Saat Beli

Setelah melakukan penyaringan saham yang sesuai syarat, selanjutnya adalah menentukan aturan pembelian saham. Anda akan beli saham saat apa?

Jangan sampai anda gak punya aturan ini, sebab pasti akan ikut-ikutan. Berarti aturan anda mengatakan bahwa saya beli saham ABCD kalau direkomendasikan oleh si Anu.

Dari semua saham yang sudah masuk kriteria sebelum beli, sekarang menentukan kapan belinya. Gak mungkin dong semua saham yg masuk kriteria anda beli semua. Disamping terlalu banyak, untung yang dihasilkan juga pasti jadi kecil sebab dibagi terlalu banyak saham.

Beda lagi kalau dari saringan pertama aja udah dikit ya okelah ambil semua. Artinya saringan pertama sudah cukup ketat.

Misalnya saya beli saham ini jika harga sudah memotong MA30. Misalnya saat ini harga sudah di atas MA200 seperti aturan di atas, lalu masih di bawah MA30, maka anda akan menunggu harganya naik dulu ke MA30 dan berhasil menembusnya.

atau malah dibalik anda baru akan beli saat harga gagal menembus MA30. Misalnya harga saat ini sudah di atas MA30 dan cenderung turun, maka saat dia sudah mepet di MA30 dan menunjukkan candle rebound anda baru beli.

Kondisi Saat Saham Turun

Jika anda sudah memiliki saham, anda juga harus punya aturan apa yang akan anda lakukan jika harga saham turun setelah anda membelinya.

Apakah anda akan jual?
Apakah anda akan hold?
Apakah anda average down?

Jika anda jual, anda akan jual di harga berapa dan dalam kondisi seperti apa?

Misalnya anda jual sahamnya jika sudah turun 5%. Atau anda jual sahamnya jika menembus support bawah yang anda tentukan. atau alasan lain.

Jika anda hold, anda hold sampai kapan?

Apakah akan hold selamanya sebab anda hanya mengharap deviden saja. Atau anda hold sebab menurut anda harga beli anda sudah sangat wajar dan kebetulan saja kondisi market lagi buruk sehingga ada kemungkinan akan rebound.

Jika anda average up, bagaimana perencanaannya?

Berapa lot yang akan anda beli lagi saat harga saham turun?
Di harga berapa anda akan beli lagi?
Anda akan rencanakan melakukan average down berapa kali?

Jika merencanakan untuk average down, maka rencana anda harus matang dan sesuai dengan situasi pergerakan saham. Jangan sampai anda kehabisan dana duluan sementara penurunan saham masih terus berlangsung.

Kondisi Saat Saham Naik

Anda harus tetapkan juga aturan, apa yang akan anda lakukan jika saham naik setelah anda beli.

Apakah anda akan jual sahamnya? Jika dijual, di kondisi seperti apa jualnya? Apakah setelah naik sekian persen baru jual, atau jika mencapai titik resisten baru dijual atau seperti apa?

Apakah akan hold saja dan menempatkan auto sell di bawah harga saat ini, sehingga bisa mengikuti terus pertumbuhan harga dan baru keluar jika harga tiba-tiba turun.

Atau anda justru akan average up sebab anda menilai potensi kenaikannya masih sangat besar sehingga perlu tambah porsi saham untuk memperbesar keuntungan.

Tulis Semua dalam Jurnal dan Disiplin

Setelah semua kondisi telah anda tentukan, maka tuliskan semua dan disiplin dalam menjalankannya. Sebab percuma saja anda susah-susah bikin rule trading kalau ujung-ujungnya ya ngikut arus opini di grup saham.

Jika anda masih belum yakin dengan rule yang sudah anda buat, maka uji dulu rulenya di google sheet sehingga anda tidak perlu keluar uang dulu. Kalaupun rule anda gagal memberikan profit ya gak masalah toh cuma angka-angka di google sheet saja.

Saya sendiri, sudah 2 tahun ini menguji rule trading saya sendiri di google sheet. Alhamdulillah sudah menghasilkan profit. Tapi ya profit di atas kertas, gak ada duitnya hehehe…

Aktifitas menguji rule trading ini bisa dilakukan sambil terus menabung untuk investasi. Jadi ketika uangnya sudah cukup banyak dan cukup luwes dipakai beli-beli saham potensial, rule-nya juga sudah teruji dengan baik.

Evaluasi Berkala

Tak ada system sempurna, ada kalanya anda perlu melakukan upgrade terhadap rule anda. Saran saya, lakukan evaluasi berkala setidaknya setahun sekali. Jangan terlalu sering juga, apalagi setiap loss evaluasi.

Anda mungkin bisa kasih catatan-catatan di sepanjang jurnal trading kenapa kok loss, ada faktor apa, kenapa kok profit, ada faktor apa.

trading jurnal
Trading Jurnal di Google Sheet

Setelah setahun anda tinggal review kembali faktor apa yang paling banyak menghasilkan loss dan faktor apa yang paling banyak menghasilkan profit.

Misalnya anda tetapkan kalau turun 5% anda cutloss atau jual. Eh ternyata ada banyak trading yang berakhir cutloss tapi kemudian memantul. Misalnya setelah turun 8% dia memantul dan naik kencang.

Maka berarti titik cutloss anda terlalu dekat, tinggal diubah misalnya ke 10%.

Atau mungkin anda terlalu fokus di teknikal sehingga kurang memperhatikan fundamental, maka bisa ditambah lagi aturan sebelum beli sahamnya dengan memasukkan unsur-unsur fundamental.

Dengan terus menerus mengevaluasi rule trading, maka anda akan segera mendapatkan sebuah rule trading yang paling cocok dengan gaya trading anda sendiri.

Istilah dalam Analisa Fundamental Saham

Analisa Fundamental Saham adalah sebuah analisa yang berfokus pada kualitas perusahaan. Ada banyak faktor yang dianalisa, namun di artikel ini saya akan coba tampilkan beberapa yang sering dijadikan acuan oleh para investor dalam memilih saham.

Istilah Pendahuluan

Sebelum bicara banyak istilah untuk analisa fundamental saham, saya ingin coba jelaskan dulu beberapa istilah yang akan sering anda temui di artikel ini:

  1. Asset: adalah kekayaan perusahaan. Jadi, apapun yang dimiliki oleh perusahaan disebut asset. Mulai bangunan, kendaraan, mesin-mesin, dll.
  2. Liabilities: adalah hutang perusahaan, baik hutang jangka panjang maupun jangka pendek serta kewajiban-kewajiban yang lain.
  3. Equity: adalah modal atau jumlah kekayaan bersih perusahaan

Rasio-rasio yang akan saya jelaskan di sini, bisa anda cek nilainya di tiap perusahaan di web investing.com atau biasanya juga disediakan di aplikasi trading sekuritas.

Cara Menggunakan Auto Order RHB Tradesmart 11
Cara mendapatkan data-data fundamental

Jika menggunakan investing, silahkan search emiten yang ingin dianalisa lalu klik menu Financials lalu klik sub menu Ratios. Tinggal scroll aja ke bawah untuk melihat aneka macam rasio yang disajikan 🙂

Ada banyak sekali rasio tapi saya hanya akan jelaskan beberapa yang sering dipakai saja.

Price to Book Value (PBV)

Price to Book Value (PBV) adalah metode membandingkan harga saham dengan Book Value (BV) perusahaan.

Book Value sendiri adalah nilai aset yang tersisa setelah dikurangi sejumlah penyusutan nilai yang dibebankan selama umur penggunaan aset tersebut.

Maka boleh dibilang BV ini adalah nilai sesungguhnya suatu perusahaan jika misalnya suatu ketika perusahaan bangkrut atau ditutup.

Dengan membandingkan harga saham dengan nilai buku / book value, maka anda bisa tahu apakah saham yang anda beli termasuk murah atau sudah terlalu mahal.

Biasanya nilai PBV yang dijadikan patokan adalah 1. Jika PBV bernilai 1, artinya saat perusahaan dilikuidasi, anda masih mendapatkan 100% uang anda kembali. Tapi jika lebih dari 1, maka ada kemungkinan uang anda cuma kembali sebagian saja.

Tapi patokan ini tentu harus dibandingkan dengan perusahaan lain yang sejenis. Sebab di sektor tertentu, PBV-nya rata-rata bisa lebih dari 2 bahkan sampai 7. Maka kalau ada yang nilainya cuma 2 koma ya boleh dibilang harganya sudah paling murah dibanding perusahaan lain di sektor yang sama.

PBV dianggap bagus jika nilainya kecil, itu berarti harga saham saat ini termasuk murah. Maka, anda perlu membandingkan dengan perusahaan lain di sektor yang sama untuk bisa membandingkan mana perusahaan yang harganya saat ini paling murah.

Price to Earning Ratio (PER)

Price to Earning Ratio dalam analisa fundamental adalah membandingkan harga saham dengan earning per share (EPS).

EPS sendiri adalah laba bersih perusahaan dibagi jumlah lembar sahamnya.

Maka jika laba perusahaan besar sedangkan harga sahamnya murah, maka otomatis PER-nya juga kecil. Demikian juga sebaliknya jika laba perusahaan turun atau kecil, ya otomatis PER-nya jadi besar.

PER ini juga bisa dijadikan sebagai patokan BEP. Misalnya PER-nya adalah 5, berarti modal anda baru akan kembali setelah 5 tahun.

Angka ideal untuk PER adalah 20x – 25x. Tapi ini tentu tergantung industrinya ya. Tidak bisa disamakan untuk tiap industri.

PER dianggap bagus jika nilainya kecil, artinya harga sahamnya saat ini murah. Anda perlu membandingkan PER saham ini dengan perusahaan yang lain di sektor yang sama agar bisa menilai dengan lebih akurat.

Return of Equity (ROE)

Return of Equity adalah kemampuan perusahaan untuk mengembalikan modal. Semakin besar kemampuannya tentu semakin baik. Dihitung dari pendapatan bersih dibagi jumlah modal.

ROE akan bagus jika nilainya selalu naik. Ini menunjukkan kalau perusahaan mengalami perkembangan. Kalau cenderung turun atau stagnan berarti perusahaan bisa dianggap tidak berkembang.

Return of Asset (ROA)

Return of Asset sebenarnya sama dengan ROE, hanya saja yang dihitung adalah pendapatan bersih dibanding dengan jumlah asset-nya.

ROA akan bagus jika nilainya selalu naik. Ini menunjukkan kalau perusahaan mengalami perkembangan. Kalau cenderung turun atau stagnan berarti perusahaan bisa dianggap tidak berkembang.

Earning per Share (EPS)

Earning per Share adalah membandingkan penghasilan perusahaan dengan jumlah sahamnya. Jika penghasilannya bertumbuh, otomatis EPS juga naik. Tapi kalau turun ya turun sebab biasanya jumlah saham tetap selama beberapa tahun.

Dengan melihat data EPS anda bisa dengan mudah memantau kinerja perusahaan, apakah terus menerus turun, selalu bertumbuh atau stagnan naik turun di level itu-itu saja.

EPS dianggap bagus, jika ada kenaikan dari periode sebelumnya. Maka anda harus membandingkan EPS periode ini dengan periode sebelumnya.

Debt to Equity Ratio (DER)

Debt to Equity Ratio adalah membandingkan hutang perusahaan dengan equity perusahaan.

Jika nilai DER lebih dari 1, berarti hutang perusahaan lebih besar daripada equity-nya. Artinya jika perusahaan dilikuidasi, otomatis anda tidak kebagian apapun sebab seluruh asset perusahaan dipakai untuk bayar hutang, itupun masih kurang 😀

Jika nilainya kurang dari 1, berarti perusahaan dalam kondisi sehat. Hutangnya tidak terlalu banyak.

Yang repot kalau sampai mines. Walaupun mines itu artinya kurang dari 1, tapi ini terjadi karena equity-nya juga mines. Perusahaan yang kayak gini, sebaiknya ya ditinggalkan saja 🙂

DER dianggap bagus jika nilainya kecil. Ini berarti hutang perusahaan tidak banyak

Dividen Yield (DY)

Dividen Yield adalah perbandingan jumlah deviden dengan harga saham. Dengan memakai patokan ini, anda bisa mengetahui berapa yang akan anda dapatkan jika membeli saham saat ini.

Biasanya DY dipakai saat perusahaan mengumumkan akan membagikan deviden. Saat itu bisa dilihat berapa jumlah deviden yang dibagikan dan berapa harga saham saat ini.

Misalnya saham ABCD harga saat ini adalah 1.000 dan akan membagikan deviden sebesar 50 per saham. Maka DY-nya adalah 50/1.000×100% = 5%.

Maka, jika anda beli saham ABCD sekarang, saat pembagian deviden nanti otomatis anda mendapatkan return sebesar 5%. Dengan catatan harga saham gak berubah ya.

Tapi pada kenyataannya, seringkali setelah cumdate, harga saham justru anjlok lebih besar dari devidennya. Contohnya saham ABCD tadi yg harganya 1.000, ketika selesai cumdate, harganya bisa turun hingga jadi cuma 850.

Maka, anda perlu melakukan perbandingan dengan periode-periode sebelumnya, bagaimana perhitungan perusahaan dalam membagikan deviden. Cek deviden rationya lalu cek pertumbuhan earningnya.

Jika deviden ratio selalu tetap dan earning selalu tumbuh, maka bisa diperkirakan pada periode berikutnya, jumlah deviden akan lebih besar, tinggal cari waktu yang tepat saja untuk masuk yaitu ketika harga saham sedang turun-turunnya 🙂

DY dianggap bagus jika naik. Jadi perlu dibandingkan dengan periode yang lebih lama.

Itulah beberapa macam istilah ratio dan analisa fundamental saham yang banyak dipakai oleh para investor. Untuk menentukan harga yang tepat, biasanya butuh beberapa macam ratio sebelum akhirnya memutuskan harga wajarnya berapa.

Namun, kalau bicara gampang-gampangan sih, menurut saya yg perlu diperhatikan itu cuma 3 saja. PER, DER dan DY.

  • PER harus naik terus
  • DER harus turun terus
  • DY harus naik terus

Kalau itu sudah memenuhi, ya tinggal lihat chart saja dan gunakan analisa teknikal untuk menentukan kapan beli sahamnya 🙂

Average Up dan Average Down

Average Up adalah istilah bagi trader yang membeli saham lagi ketika harga sahamnya naik. Average down membeli saham lagi saat harga sahamnya turun.

Keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing dan tentu kembali pada gaya trading masing-masing orang.

Biasanya average up dipakai oleh para trader penganut trend follower. Saat saham sudah membentuk kriteria yang ditentukan, mereka beli tapi masih dalam porsi sedikit.

Ketika trend terkonfirmasi naik, mereka akan menambah porsi saham. Harapannya tentu keuntungan yang didapatkan semakin besar sebab saham yang sudah dia pegang sudah terkonfirmasi naik.

Dan kalau ternyata trend-nya gagal naik alias malah turun, tidak terlalu banyak dana yang hilang sebab masuknya baru sedikit.

Average Down biasanya dipakai oleh mereka yang memanfaatkan momentum pergerakan harga saham. Misal ada saham nih lagi turun banget hingga pada satu titik dimana diperkirakan harga sudah gak akan turun lagi, atau kalaupun turun ya gak banyak.

Nah, masuk tuh tapi masih sedikit. Ketika ternyata harga masih turun, mereka tambah porsi saham lagi.

Average Up akan membuat harga rata-rata saham menjadi naik.

Contoh misalnya anda beli saham ABCD di harga 1.000 sebanyak 10 Lot. Lalu beli lagi di harga 1.500 sebanyak 5 Lot. Maka nilai rata-rata saham anda yang awalnya 1.000 akan berubah menjadi:

((1.000 x 10 x 100) + (1.500 x 5 x 100)) / 1.500 =
(1.000.000 + 750.000) / 1.500 =
1.750.000 / 1.500 = 1.166,66

Jika saham kemudian harga saham naik jadi 2000 misalnya, maka profitnya adalah

1.166,66 / 2000 * 100% = 58,33%

Sementara average down akan membuat harga rata-rata saham menjadi turun.

Contoh misalnya anda beli saham ABCD di harga 1.000 sebanyak 10 Lot. Lalu beli lagi di harga 900 sebanyak 20 Lot. Maka nilai rata-rata saham anda yang awalnya 1.000 akan berubah menjadi:

((1.000 x 10 x 100) + (900 x 20 x 100)) / 3.000 =
(1.000.000 + 1.800.000) / 3.000 =
2.800.000 / 3.000 = 933.33

Jika saham kemudian kembali memantul dan naik ke harga 1.500 maka profitnya jadi:

933.33 / 1.500 * 100% = 62,22%

Itu kalau sesuai dengan rencana hehehe… Sementara kita gak pernah tahu seperti apa pergerakan harga pasar sebab ada jutaan kepala yang punya jutaan kepentingan masing-masing dengan jutaan rule sendiri yang berperan dalam pergerakan harga.

Kembali lagi, tugas kita adalah bagaimana merespon harga pasar. Kalau naik harus bagaimana kalau turun harus bagaimana. Mau average up bisa untung, mau average down juga bisa untung. Tapi harus ingat, avg up juga bisa rugi dan avg down juga bisa rugi 😀

Pentingnya punya Trading Rule

Trading Rule adalah aturan trading yang anda tentukan sendiri, anda buat sendiri dan anda laksanakan sendiri. Maka trading rule tiap orang pasti sangat beda tergantung gaya trading masing-masing.

Memiliki trading rule itu seperti punya SOP dalam bekerja. Dengan SOP anda tahu persis apa yang anda kerjakan setiap hari. Dan kalau ada masalah, penelusurannya juga akan sangat mudah.

Misalnya anda bisnis laundry. SOP-nya setelah dapat pakaian kotor dari konsumen, maka harus ditimbang lalu dicatat berapa beratnya pada form yang sudah disediakan. Hitung juga berapa PCS pakaiannya dan catat.

Trading rule bisnis laundry
SOP Bisnis Laundry

Lalu isi harga layanannya apakah cuci basah, cuci kering atau cuci setrika. Lalu catat nama konsumen dan berikan copy form ke konsumen.

Begitu seterusnya hingga masuk mesin cuci, proses pengeringan hingga proses setrika semua ada SOP yang harus dijalankan persis seperti yang sudah ditentukan dan harus dihitung jumlahnya di tiap proses.

Misalnya ada masalah mungkin pakaiannya hilang satu, maka bisa langsung dilacak hilangnya ketika melakukan apa sebab semua dihitung tiap perpindahan proses.

Itu baru proses sederhana di bisnis laundry. Sedangkan di saham rule trading bisa sangat beragam macamnya. Bahkan satu orang bisa punya beberapa rule trading. Saya melihat seorang suhu saham membagikan incaran dengan aneka macam rule.

Kalau ini semua tidak dicatat ya bakal bingung ketika tiba-tiba ada saham anda yang anjlok. Anda akan bingung menentukan langkah selanjutnya bagaimana. Maka akhirnya timbul pertanyaan klasik

“Kak, saham ABCD saya udah mines 50% nih, enaknya dijual atau hold ya?”

Ini menunjukkan bahwa yang bersangkutan saat beli sama sekali gak punya rencana. Boleh jadi ikut-ikutan, boleh jadi asal beli aja, atau dia udah punya rencana sebelumnya tapi mengkhianati rencananya sendiri.

Waktu beli niatnya cuma scalping. Nanti sore dijual. Eh ternyata abis beli saham turun, dia avg down. Lalu naik dikit tapi masih mines dan market close. Besoknya makin dalam turunnya, avg down lagi lebih gede. Lha kok malah ARB wkwkwk..

Berharap besok naik eh ARB masih berlanjut padahal udah gak ada duit lagi buat avg down lalu ganti rencana jadi trading jangka menengah katanya. Harga mantul-mantul hingga akhirnya terus turun sampai 50%. Mulai dah puyeng wkwkwk..

Yang seperti ini akan sangat sering anda jumpai di grup-grup saham. Orang-orang yang duitnya pada nyangkut gara-gara tidak punya rule trading dan lucunya, stoploss juga gak mau.

Jadi kan bingung sendiri toh? Stoploss gak mau, sahamnya nilainya turun juga gak mau eh naik dikit malah dijual. Lalu berharap apa sebenarnya? Memelihara saham merah?

Tapi kalau punya trading rule, pasti beda cerita.

  • Beli saham nih ABCD harga 1.000 sebanyak 10 lot dan udah direncanakan, kalau nanti turun sampai 900 saya tambah posisi 100 Lot jadi total 110 lot.
  • Kenapa milih 900? sebab itu adalah batas supportnya, jadi kalau mantul, maka yg 100 lot ini akan profit.
  • Kalau gak mantul, saya tunggu lagi di 800, itu adalah support ke-2. Sudah siap dana utk 200 lot.
  • Saya baru TP kalau udah profit minimal 10%. Saat itu saya pasang auto sell mengikuti arus harga saham.

Itu contoh ya.. bukan berarti harus seperti itu. Tapi itu gambaran trading rule saja bahwa anda harus punya rencana exit 2 arah. Kalau naik bagaimana? Kalau turun bagaimana?

Maka, jika kejadian yang manapun anda sudah ada rencana sehingga gak akan tanya di grup ini saham musti diapain hehehe..

Itu baru rule saat punya saham. Saat memilih saham juga mustinya punya rule. Saham apa yang boleh anda beli. Misalnya:

  • Harus yang masuk daftar ISSI. Nah, berarti kan non ISSI akan tereliminasi.
  • Harganya minimal 100. Akan berkurang lagi.
  • Value minimal harus 2 juta.
  • Harus rajin bagi deviden.
  • Jumlah saham beredar gak boleh lebih dari 50%.
  • Harga harus di atas EMA 30

Nah, rule-rule ini anda terapkan saat memilih saham. Disiplin pakai rule itu. Kalau ternyata ada yg lolos, misalnya udah sesuai rule kok tetep aja kena yang loss, anda periksa lagi rulenya, apakah ada yang perlu diperbaiki atau rule-nya perlu ditambah.

Dengan begitu, selama proses trading anda akan akhirnya akan menemukan sebuah rule yang lebih detil dan paling bisa memberikan profit maksimal bagi kinerja portofolio anda sendiri.

Siapa yang menentukan harga saham?

Sebenarnya siapa sih yang menentukan harga saham? Apakah harga saham itu kayak permainan dadu gitu jadi suka berubah-ubah sesuka hati atau harga saham itu adalah settingan elite global yang digerakkan sesuka hatinya atau apa?

Banyak trader yang beranggapan bahwa harga suatu saham itu ada yang menggerakkan. Maksudnya ada 1-2 kelompok orang yang menjadi motor penggerak suatu saham. Sehingga ketika dia pengen naik ya sahamnya naik, ketika dia pengen turun ya turun.

Tapi benarkah demikian?

Siapa yang menentukan harga saham?

Jawabnya adalah pasar. Iya, pasarlah yang menentukan suatu harga saham. Pasar artinya orang-orang atau semua orang yang kebetulan ada di pasar saat itu. Baik mereka belinya manual atau pakai system auto.

Bahkan saya yang dananya terbatas, bisa lho menggerakkan harga pasar hehehe… Caranya mudah, tinggal cari saham yang gak ada transaksi atau transaksinya sangat kecil hari itu.

Paling gampang cari aja saham yang harganya 50 dan lihat apakah ada yang menawarkan harga lebih tinggi misalnya 53. Nah, beli deh semua mulai yg nawarin harga 51 sampai 53. Kalau cuma ada 10 offer aja tiap harga kan murah tuh.

51 x 10 x 100 = 51.000
52 x 10 x 100 = 52.000
53 x 10 x 100 = 53.000

Selesai deh, modal 150rb-an anda sudah berhasil menaikkan harga dari 50 menjadi 53 hehehe…

Nah, di pasar yang lebih besar dan lebih ramai, tentu butuh dana yang lebih besar juga agar harga bergerak. Apalagi di saham-saham yang sangat besar kapitalisasinya, makin besar pula dana yang dibutuhkan. Maka people power adalah penggeraknya.

Bagaimana menentukan harga saham?

Untuk ini biar makin jelas, ada bagusnya pakai video. Saya sertakan video dari guru saya langsung biar lebih maknyus. Hanya 16 menit kok. Selamat menyaksikan

Proses Pembentukan Harga Saham

Dengan system seperti itu, akan sulit bagi 1-2 kelompok orang untuk menggerakkan harga saham. Meski cukup memungkinkan sih, hanya saja butuh banyak effort dan tentu ada kepentingan lain yang lebih besar dari sekedar menggerakkan harga.

Analisa Teknikal Saham

Analisa teknikal saham adalah analisa terhadap pergerakan harga saham. Gampangnya semua yang anda lihat dan anda putuskan setelah melihat chart saham ya disebut analisa teknikal.

Apa hubungannya pergerakan harga dengan kualitas perusahaan?

Pertama perlu kita tahu dulu alasan pertama kali kenapa orang beli saham. Yaitu untuk mendapatkan bagi hasil dari keuntungan perusahaan kan? Dalam hal ini deviden.

Tapi nilai perusahaan bukan cuma sekedar deviden ada juga aset. Jadi ketika anda beli saham pertama kali asetnya hanya senilai 10 milyar lalu setelah 10 tahun jadi 100 milyar, maka berarti ada pertumbuhan 10x lipat selama 10 tahun.

Sudah pasti nilai saham anda naik kan? Kok bisa?

Misalnya saat masih 10 milyar, harga sahamnya 1000 dengan jumlah saham 10 juta. Berarti nilai aset dan harga sahamnya sama yaitu 1x.

Nah, saat assetnya tumbuh jadi 100 milyar, sementara jumlah saham tetap, berarti tiap saham kan nilainya adalah 10.000.

Maka jika anda jual saham anda dengan harga 9.500 misalnya apakah ada yang beli? Ooo pasti ada dong sebab itu sangat murah banget. Makanya ketika asset perusahaan naik, biasanya harga sahamnya juga ikutan naik. Sebab orang juga pengen dapat cipratan asset itu.

analisa teknikal
Analisa tekninal saham

Nah, asset perusahaan bisa tumbuh kan karena bisnisnya jalan dengan baik. Maka ketika ada berita-berita misalnya perusahaan minyak menemukan sumur minyak baru, maka artinya beberapa tahun ke depan assetnya pasti nambah kan, sebab punya sumur minyak baru nih.

Atau ketika laporan penjualan terus meningkat, udah pasti akan ada pertumbuhan asset juga misalnya mesin baru, pabrik baru, dst.

Laporan dan berita itu datang silih berganti dan harga saham mengikutinya.

Makanya para analisis teknikal saham percaya, kondisi perusahaan akan tercermin dari harga sahamnya.

Contohnya jika saham itu mau ambruk, pasti orang-orang di lingkaran kekuasaan pemegang utama saham akan kabur duluan toh? Mereka akan rame-rame jual sahamnya. Akibatnya apa? Harga saham akan turun.

Atau misalnya perusahaan menemukan sumur minyak baru, pasti orang2 di lingkaran kekuasaan akan borong saham sebanyak-banyaknya duluan. Dan sudah pasti harganya jadi naik.

Barulah setelah mereka puas borong, dikeluarkan berita hehehe… Maka kalau beli saham hanya karena berita biasanya akan terlambat 😀

Membaca perilaku pasar

Selain membaca perilaku para penguasa di perusahaan, analisa teknikal saham juga membaca perilaku pasar pada umumnya. Bagaimanapun manusia itu terhubung satu sama lain. Ketika ada yang bergerak, maka akan ada yang mengikuti gerakannya.

Kalau tidak percaya coba perhatikan orang-orang di kereta api, secara tak sadar bisa sampai 3-4 orang posisi duduknya sama atau posisi tangannya sama.

Demikian juga dengan pasar saham. Ketika banyak orang rame-rame beli saham, maka biasanya akan banyak yang mengikuti sehingga harga jadi naik. Demikian juga saat rame yang jual, besoknya jadi banyak yg jual.

Maka kalau sering memperhatikan chart saham, akan ada banyak pola yang hampir selalu bisa dipastikan gerakan berikutnya seperti apa. Walau untuk membentuk pola itu terkadang tidak selalu berhasil.

Semua pergerakan itu entah dari orang yang punya dana besar atau para retail yang begitu banyak, akan tercermin dengan jelas di chart saham. Nah, tugas kita adalah menganalisanya. Itulah yang kemudian disebut analisa teknikal 🙂