Reuni 212 : Sebuah Persembahan Islam untuk Dunia


Empat hari telah berlalu sejak reuni 212 tahun 2018 ini selesai. Meski banyak alumninya yg tidak hadir, namun jumlah peserta justru meningkat pesat. Luas tanah yg dipijak lebih luas padahal jarak antar peserta lebih sempit mengingat reuni kali ini tidak ada acara sholat jumat bersama. Mungkin karena dilaksanakan hari ahad sehingga banyak yg bisa hadir menyempatkan diri. Belum lagi ada instruksi khusus dari DPP PKS agar kader2-nya hadir ikut meramaikan dan mensukseskan acara ini meski tanpa membawa bendera partai.

Sebagaimana acara-acara yang dibuat umat Islam lainnya, tentu saja ada orang-orang nyinyir yang tetap aja berusaha agar peristiwa sebesar ini hilang dan lenyap dari sejarah. Padahal belum pernah terjadi pengumpulan massa sebanyak ini tapi tetap tertib, rapi dan bersih. Seolah yang hadir adalah orang2 yg berpendidikan tinggi, seolah ini reuni sebuah universitas budi pekerti dimana semua mahasiswanya benar2 melaksanakan ajaran budi pekerti dengan semaksimal mungkin.

Yaa harus diakui ada 1-2 oknum yang mungkin lepas kendali, entah dengan alasan apa. Sempat ada terlintas juga riak-riak kecil sepanjang perjalanan acara terutama pasca acara. Manusiawi. Jika dibandingkan jumlahnya yg 10 juta lebih, bahkan bisa dianggap tidak ada.

Selama ini umat Islam selalu dituduh teroris, radikal, intoleran, dll. Jika ada pelaku bom beragama Islam, walaupun korbannya cuma dia doang alias orang bunuh diri pake bom, langsung saja cap teroris distempelkan bahkan sebelum nama pelaku dan latar belakangnya ketahuan. Begitu bom menyalak langsung stempel teroris.

Sementara ketika pelakunya bukan Islam atau belakangan ketahuan bukan Islam, cap itupun langsung dicabut begitu saja. 

Belum lagi tuduhan keji radikal, intoleran, dll. Padahal ketika aksi 212 mulai yang pertama, dilanjut reuni tahun 2017 dan sekarang reuni 2018. Tiga kali penyelenggaraan dengan peserta jutaan orang, hasilnya selalu sama, tertib, rapi, bersih dan sangat toleran.

Saat aksi tak sedikit non muslim yang datang. Asyik tersenyum bersama, menikmati kebersamaan, seolah ada bazar akbar di sana. Saling sapa saling bersenda gurau, gak ada perbedaan. 

Okelah kalaupun disebut radikal, bayangkan 10 juta orang radikal kumpul bareng di satu tempat. Sedangkan 1 orang teroris aja bisa bikin aparat blingsatan. Kalau ada 10 juta mungkin sekarang sudah terjadi perang di negeri ini.

Jadi sungguh lucu jika ada yang menganggap aksi 212 itu menjurus ke perang saudara seperti di syuriah atau menjurus pada tindakan terorisme, radikal, dll. Itu hanya bualan mereka saja untuk mengerdilkan acara ini.

Padahal jika mau sedikit saja menyingkirkan prasangka, bukankah ini aset negeri yang luar biasa. Mengumpulkan jutaan orang di satu tempat namun tetap aman dan nyaman. Berapa trilyun uang yang mengalir saat acara tersebut. Informasi menyebutkan acara ini membawa berkah bukan hanya bagi perusahaan angkutan dan gojek tapi juga rumah makan, warung, dll.

Bahkan jika acara ini bisa diagendakan setahun sekali, gak usahlah sampai 10 juta kayak sekarang, cukup 1 juta saja yang hadir kalau masing2 orang bawa 100 ribu saja, sudah 100 trilyun dana yg berputar. Pedagang asongan, penjual makanan minuman bahkan mungkin mainan anak2 akan meraih berkahnya setidaknya setahun sekali.

Aah.. andai saja itu terjadi. Sayangnya masih banyak yg lebih suka nyinyir dan membuang kesempatan ini jauh2 demi agar bisa terus nyinyir dan dengki.