Puasa Mengasah unsur Ilahiyah 1

Puasa Mengasah unsur Ilahiyah


Catatan Ramadhan Lutvi hari ke-2…

Apa yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya? Makan, bergerak, berkembang biak, bertahan hidup, semua makhluk hidup mampu melakukannya. Tapi ada satu yang bisa dilakukan oleh manusia namun tak bisa dilakukan oleh makhluk hidup lainnya bahkan tak mampu dilakukan oleh Malaikat dan Jin. Apa itu?

B E R K R E A S I

Berkreasi atau menciptakan sesuatu yang baru adalah kemampuan yang diturunkan langsung oleh Allah kepada manusia yang tidak Dia berikan kepada makhluk-makhluknya yang lain. Inilah unsur Ilahiyah yang Allah tiupkan kepada setiap manusia.

Berkreasi adalah kemampuan khusus yg diberikan Allah hanya kepada Manusia
Berkreasi adalah kemampuan khusus yg diberikan Allah hanya kepada Manusia

Lalu apa hubungannya dengan puasa?

Unsur Ilahiyah ini ternyata bisa diasah dan diperkuat. Salah satunya adalah dengan puasa. Kalau kita lihat karya-karya besar manusia, biasanya tercipta setelah perenungan yang dalam berhari-hari dan dalam kondisi perut kosong alias puasa.

Para ilmuwan, seniman, penulis-penulis hebat, menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan karya-karya yang bermanfaat bagi manusia dan selama proses penggalian ide itu biasanya mereka jarang makan alias berpuasa.

Para pembuat keris bahkan sudah menempatkan puasa sebagai bagian dari SOP sebelum keris dibuat.

Puasa mampu menajamkan hubungan kita dengan sang Pencipta. Pemilik karya-karya megah alam semesta. Sang Khalik yang lewat “tangan”-nya Dia menjadikan makhluk dengan ukuran yang hanya bisa dilihat menggunakan mikroskop sampai makhluk yang mampu merangkul seluruh alam semesta ini.

Apa jadinya jika kita punya koneksi langsung pada sumber segala karya cipta? Tentu ide-ide besar akan hadir dan kita dikuatkan untuk mewujudkan ide-ide tersebut.

Namun koneksi itu hanya bisa sangat kuat jika kita dalam keadaan lapar. Ketika perut kosong. Dan Allah memberi kita kesempatan untuk memperbaiki koneksi ini lewat ibadah puasa. Dan ternyata semua agama samawi memiliki ritual puasa. Ya.. karena memang hanya itulah cara mengasah hubungan dengan Sang Pencipta. Koneksi yang senantiasa kita butuhkan dalam menghadapi aneka macam problematikan kehidupan.

Maka sungguh sangat disayangkan jika selama siang hari kita dalam keadaan lapar, saat koneksi dengan Sang Pencipta dengan tinggi kok kita habiskan hanya untuk tidur sepanjang hari dan bermalas-malasan dengan alasan sedang puasa. Apalagi pakai dalil tidurnya orang berpuasa itu berpahala.

Justru karena tidur saja sudah dinilai ibadah, apalagi kalau beraktifitas, berkreasi dan membuat sebuah karya yang akan bermanfaat bagi banyak orang? Tentu pahalanya akan semakin besar daripada sekedar tidur sepanjang hari.