Meruntuhkan Ego 1

Meruntuhkan Ego


Catatan Ramadhan Lutvi Hari Ke-5

Jika anda punya badan yg tinggi besar, kuat dan jago berkelahi lalu ada anak yang kurus kecil kerempeng mengejek anda lalu mengajak duel apa yang anda lakukan? Sudah pasti akan langsung menghajarnya habis-habisan.

Jika anda orang yang kaya raya, mampu membeli segalanya eh ada orang miskin yang meremehkan anda dan pamer barang yang baru dia beli? Apa yang anda lakukan? Membeli barang yang lebih baik dan pamer ke dia?

Keinginan kita untuk lebih baik dari yang lain, merasa lebih hebat dari yang lain, merasa punya harga diri yang tak seorangpun boleh meremehkan adalah ego. Salah satu yang termasuk ego adalah merasa mampu membeli semuanya.

Ketika menjelang adzan Maghrib biasanya ada banyak sekali penjual menu berbuka. Terlihat enak-enak, segar dan lezat semuanya. Di kantongpun uang berlimpah. Seandainya membeli semua beserta meja jualannyapun pasti bisa.

Tapi benarkah kita butuh semuanya?

Ternyata yang kita butuhkan hanya sepiring makanan dan segelas es saja. Sisanya? Kadang kita paksakan masuk ke perut. Sayang jika dibuang. Akhirnya kekenyangan. Puasa bukannya menambah sehat tapi malah tambah penyakit akibat terlalu sering kekenyangan.

Saat puasa kita menahan diri untuk makan dan minum. Saat berbuka hendaknya kita menahan diri dari ego untuk memiliki semua makanan. Ego untuk memenuhi meja makan kita dengan aneka ragam makanan.

Coba anda perhatikan bagaimana kondisi meja makan anda sehari-harinya? Kenapa ketika Ramadhan kondisinya berbeda? Karena anda merasa sudah puasa lalu berhak mendapatkan layanan mewah? Apa karena anda puasa lalu berhak makan sebanyak-banyaknya?

Saat malam itulah ego kita diuji. Benarkah kita sudah benar-benar mampu mengendalikan hawa nafsu? Atau jangan2 kita hanya mampu menahannya sebentar untuk kemudian melepasnya tak terkendali di malam hari.

Kita butuh nafsu untuk membuat peningkatan-peningkatan dalam hidup. Tapi kita butuh nafsu yang dapat dikendalikan. Digunakan hanya saat diperlukan. Bukan nafsu yang tak terkontrol hanya karena rasa lapar. Jika dalam keadaan puasa kita gagal mengontrol nafsu, maka khawatirnya ketika kita benar2 dalam keadaan lapar krn tak punya makanan kita jadi pribadi yang berbeda, yang rakus, tamak dan menghalalkan segalanya demi terpuaskan nafsu. Na’udzubillah….