Mengubah Watak dan Kebiasaan


personalityMengubah watak atau kebiasaan orang lain dg kekerasan, ancaman atau hukuman itu nggak akan berhasil. Karena dia melakukannya dg keterpaksaan bahkan gak pernah tahu kenapa dia harus melakukan itu.

Mengubah kebiasaan itu menurut saya butuh 2 hal:

  1. Alasan
  2. Ketegasan

ALASAN

Sebelum menerapkan aturan, harus dijelaskan dulu WHY-nya. Kenapa dia harus melakukan itu. Ini akan mudah dilakukan oleh seorang Pengusaha. Apalagi yg jago kopiwriting.

Kalau orang udah tahu kenapa hrs melakukan itu dan apa akibatnya jika dia tidak melakukan itu, insyaaLlah dlm hatinya akan mulai ada niat untuk berubah, walau mungkin nggak sekarang.

KETEGASAN

Jika udah paham kenapa dia hrs melakukannya, selanjutnya ketegasan. Konsisten dg aturan. Ini akan sangat mudah dilakukan oleh seorang Profesional. Seorang profesional tdk akan tebang pilih dlm menerapkan aturan. Kalau sepakat ya udah jalani bersama, siapapun yg melakukan hrs terima konsekuensinya.

Di negeri ini, mungkin orang udah tahu alasannya. Tapi kemudian dirusak oleh aparat negeri yg gak tegas. Sama-sama mencuri, yang satu bisa bebas krn bayar, yg satu lagi dipenjara.

Yg nyuri 1 milyar dihukum 16 tahun, yg nyuri 16 milyar cuma dihukum 1 tahun. Tidak tegas, tidak profesional dan susah dijadikan patokan.

Akhirnya rakyat bingung. Mereka lalu berpikir bahwa yg jadi alasan melakukan atau tidak melakukan adalah HUKUM. Kalau mereka dekat aparat hukum ya bebas melakukan apapun, kalau gak punya koneksi ya jangan asal berbuat. Hukum tidak tegas, rakyat gak bisa menilai dg jelas bahwa jika gini, maka konsekuensinya gini.

MELETAKKAN SANDAL

merapikan-sandal

Kedua anak saya mungkin bisa jadi contoh tentang bagaimana sebuah hukum diterima oleh rakyat. Anak saya yg pertama, 3 tahun di pesantren. Di sana ada aturan untuk meletakkan sandal di rak sandal yang tersedia. Kalau gak diletakkan akan disita sandalnya.

Pesantrennya tegas, yg sandalnya tdk diletakkan di tempat yg benar, benar-benar di sita. Bahkan saking tegasnya, sandal yg jatuhpun kena sita. Jadi lucu, ada 1 sandal di bawah disita juga. Gak bisa bedakan mana sandal yg diletakkan dg sengaja di bawah dan mana yg terjatuh.

Dan sepertinya pihak pesantren juga tidak berhasil memberikan alasan kenapa harus merapikan sandal di rak. Tak hanya itu, ketegasannya juga saya nilai kurang, karena ketika waktu berkunjung, ada banyak wali santri yg naruh sandal seenaknya, tidak coba mereka rapikan atau tegur.

Alhasil, santri menilai bahwa meletakkan sandal pada tempatnya hanyalah aturan sekolah. Bukan kebutuhan hidup, bukan kepentingan santri sendiri dan yg parah lagi, dianggap bukan hal penting.

Anak saya yg kedua, sejak kecil saya biasakan meletakkan sandal di tempatnya. Pulang dari manapun kalau dia lupa saya suruh balik dan taruh sandalnya. Walaupun di saat bersamaan saya meletakkan sandal, saya sengaja tidak mengambil sandalnya dan membiarkan dia meletakkan sendiri.

Pernah suatu ketika saya lupa mengingatkan dan kebetulan sandalnya nyelip di bawah rak (mungkin karena kena tendang-tendang). Lalu saya bilang, wah itu tuh kalau gak mau ditaruh di rak. Dipakai tikus paling xixixi…

Dan alhamdulillah, sekarang walaupun tanpa disuruh dia meletakkan sandalnya di rak. Bahkan ponakan di rumah ikut-ikutan meletakkan sandal di rak krn kena provokasi dia hehehe…

MENGAJI

Dalam hal mengaji, anak saya yg pertama lebih disiplin dari yg kedua. Tanpa di suruh, dia sudah langsung ambil quran tiap abis maghrib dan subuh. Sementara yg kedua masih perlu disuruh-suruh.

Mungkin karena saya masih belum bisa menyampaikan alasan kenapa dia harus ngaji. Maklum masih kecil. Saya coba sampaikan sesuai umurnya nampaknya masih belum berhasil hehehe…