Menghafal tanpa Menghafal 1

Menghafal tanpa Menghafal


Catatan Ramadhan Lutvi Hari Ke-8

Masih membicarakan masalah Ramadhan bulan Al-Quran yang sebelumnya sudah kita bahas di sini. Bicara soal Al-Quran tentu tak luput dari pembahasan menghafal Al-Quran. Bicara soal menghafal, akhirnya keluar banyak metode menghafal Al-Quran. Manakah yang paling efektif?

Pertanyaan besarnya ternyata bukan mana metode yang paling efektif dalam menghafal. Bahkan ada ungkapan, menghafal Quran itu seruan Malaikat sedangkan ingin cepat menghafal adalah seruan syaitan.

Maka perlu mengubah mindset kita dalam berinteraksi dengan Al-Quran. Pikiran saya melayang pada saudara-saudara kita di Nahdlatul Ulama yang setiap Kamis malam senantiasa berkumpul di rumah2 warga untuk mengadakan acaranya Yasin Tahlil.

Dulu awal2 acaranya semua peserta membawa buku Yasin kecil yang mudah dikantong dan dibawa2. Tapi jika anda mengikuti Yasin Tahlil pada jaman sekarang, paling yang pegang buku Yasin hanya yg memimpin bacaan saja untuk memastikan bacaannya tepat. Sedangkan jamaah sudah hafal Surat Yasin walaupun mungkin tak pernah berniat menghafalkannya.

Surat Yasin dibaca berulang-ulang setiap pekan, bahkan boleh jadi lebih dari sepekan jika ada warga yang meninggal dunia atau ada acara syukuran. Lama-lama hafal tanpa pernah berusaha menghafalkannya.

Maka sesungguhnya setiap muslim itu mampu menghafal Al-Quran. Asalkan senantiasa mengulang dan mengulang bacaannya. Memperbanyak interaksi dengan Al-Quran.

Ustadz. Abdul Azis mengatakan, “Jangan membatasi membaca Al-Quran dengan satu juz sehari, 2 juz sehari, atau berapa juz sehari. Tapi infaqkan waktu antum hanya untuk Al-Quran. Misalnya 1 jam sehari untuk Al-Quran. Gunakan waktu itu untuk mengulang-ulang membaca Al-Quran”.

Salah satu metode menghafal adalah metode Tikrar. Metode ini membagi 1 halaman Al-Quran dalam 4 bagian Makro’. Dan satu bagian Makro’ dibagi lagi menjadi 2 bagian Maqtho’.

Kita tidak perlu menghafalkan apa-apa. Tugas kita hanya membaca saja. Pertama membaca 1 Maqtho’ sebanyak 40 kali. Lalu membaca Maqtho’ kedua sebanyak 40 kali. Jika sudah 2 Maqtho’ kita baca Maqtho’ 1 dan 2 alias 1 Makro’ sebanyak 40 kali.

Lalu lanjut Maqtho’ ketiga 40x, Maqtho’ keempat 40x dan baca Maqtho’ 3 dan 4 sebanyak 40 kali. Lalu dilanjut baca Maqtho’ 1 sampai 4 sebanyak 40 kali.

Lengkap-nya dapat dilihat di video ini:

Menghafal Al-Quran metode Tikrar

Sekilas seolah memang tidak ada usaha apapun dalam menghafal. Tapi dengan pengulangan-pengulangan tersebut ternyata tanpa sadar kita sudah menghafalnya sendiri.

Saya kemarin membuktikan bahwa hanya dengan membacanya saja sebanyak 30x sudah bisa hafal 1 Maqtho’. Padahal dengan metode ini, 1 Maqtho’ itu bisa dibaca berulang sebanyak 160x setelah digabung dg Maqtho’ lain.

Saya sudah pesan Al-Qurannya. Mudah2-nya bisa istiqomah membacanya. Karena yang penting itu mau membacanya berulang-ulang sesuai kurikulum yang diberikan. Tidak berusaha lebih cepat, tidak berusaha menghafal, hanya membaca saja sesuai ketentuan yang dirumuskan.

InsyaaLlah nanti akan saya ulas di sini bagaimana hasilnya. Berapa lama waktu yang diperlukan membaca 1 halaman? Dan apakah benar-benar hafal setelah membacanya berulang-ulang? Nantikan yaa…