Membangun Jembatan Otak 1

Membangun Jembatan Otak


Catatan Ramadhan Lutvi Hari Ke-11…

Al-Quran Tikrar yg saya pesan sudah tiba. Alhamdulillah kondisinya bagus karena dibungkus buble wrap. Tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana metode ini ternyata memang sangat mudah. Saya pikir awalnya tidak akan semudah ini. Saya mengenal beberapa metode menghafal tapi metode tikrar ini menurut saya paling mudah dan paling cepat.

Sesaat setelah saya buka bungkusnya, langsung saya terapkan pada salah satu ayat yang dulu pernah saya hafal namun sudah lupa sama sekali mengingat tak pernah dimuroja’ah.

Ternyata hanya butuh 15 menit saya sudah mampu menghafal 1/4 halaman. Dan setelah 4 waktu sholat, pada malamnya menjelang tidur saya sudah menyelesaikan 1 halaman Al-Quran. Artinya dalam waktu kurang dari sehari saya sudah menyelesaikan hafalan 1 halaman.

Mungkin karena ayat ini pernah saya hafal sebelumnya jadi masih ada bekas2-nya diotak sehingga cukup dipicu sedikit sudah langsung hafal. Kita lihat nanti ketika sudah sampai ayat2 yg saya memang belum pernah menghafalnya sama sekali. Kalau sekedar membaca sih udah sering ya krn tiap hari juga tilawah.

Saya jadi teringat sebuah video tentang bagaimana pikiran bekerja. Sayangnya saya tidak menemukan videonya lagi.

Kita mengingat sesuatu itu seperti orang sedang membangun sebuah jembatan utk menyeberangi jurang. Pertama dia harus melempar tali sekuat tenaga agar bisa mencapai tepi jurang satunya. Ini kadang perlu upaya berkali-kali hingga tapinya mampu mencapai seberang dan terkait ke batu atau kayu.

Melewati jembatan tali awal ini memang sangat sulit. Dia harus merangkak sampai ke seberang menyusuri tali. Ketika berhasil sampai seberang semuanya jadi lebih mudah. Tali baru ditarik lagi melalui tali yg sudah terpasang. Diikat lebih kuat di tiang atau pohon. Tali-tali baru terus berdatangan membantuk konstruksi jembatan yang lebih kuat dan kokoh. Dan hingga akhirnya terbangunlah jembatan tali yang kuat dan kokoh yang anda bisa berlarian di atasnya dengan aman.

Begitu jg dengan hafalan. Ketika pertama anda membaca, anda seperti melempar tali. Kadang nyangkut kadang gagal. Anda baca lagi, baca lagi dan baca lagi hingga mulai ada kata-kata yg nyangkut di otak. Anda baca terus, baca terus hingga terbentuklah sebuah jembatan yang kuat dan kokoh. Dan setelah kuat anda bisa dengan mudah mengubah-ubah gaya membaca, mengubah nada bacaannya, mau meniru syech manapun bisa.

Anda juga tidak akan mudah lupa karena pengaruh keadaan, misalnya grogi ketika dilihat banyak orang atau takut salah saat dipercaya jadi imam. Saat itulah jembatan ingatan anda sudah sangat kuat dan aman.

Saya yakin anda sudah hafal surat Al-Fatihah bukan? Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas pun pasti sudah hafal. Beberapa malah sudah hafal Yaasiin. Kok surat2 itu bisa dihafal sedangkan yg lain susah? Jawabnya karena yg lain tidak pernah diulang-ulang sehingga ibarat jembatan talinya hanya sedikit dan keburu lapuk sebelum ada tali baru dilemparkan.