belajar-syukur

Belajar Bersyukur


belajar-syukurIni kejadian yang tak sengaja terekam memory saya. Waktu itu keponakan saya merengek pada Abi-nya. Si Abi mengatakan akan memberi dia uang Rp. 5000,- untuk dipakai belanja di bazar esok harinya. Tapi si anak merengek minta Rp. 10.000,- Lalu dengan niat untuk mendidik Abi-nya bilang ya udah Abi tambahin 2.000 kalau besok sholat subuhnya tepat waktu. Si anak tetap merengek minta 10.000,-

Waktu itu saya nyeletuk (mungkin karena geregetan juga), “Kalau ndak bersyukur, jajannya dikurangi 2.000”. Dan dengan spontan Abinya setuju.. hehehe… Anehnya tiba-tiba saja si anak diam dan setuju dengan tawaran 5.000 + 2.000 kalau besok mau sholat subuh.

Kenapa saya spontan bilang gitu?

Karena anak sayapun saya perlakukan persis seperti itu. Rasa syukur dan sabar senantiasa saya tanamkan kuat-kuat keduanya secara berimbang. Seringkali kita menuntut anak kita hanya pada rasa bersabarnya saja. Contoh di peristiwa diatas, si Abi lebih fokus pada meminta anaknya supaya sabar menerima uang saku lebih kecil dari yang dia minta. Tapi beliau lupa, bahwa si anak juga harus ditunjukkan bahwa dia sudah menerima Rp. 7.000 yang harus dia syukuri.

Dengan celetukan saya tersebut si anak tersadar bahwa dia sudah akan mendapatkan 5.000 bahkan dengan bangun pagi dia dapat tambahan 2.000 lagi. Uang itu akan hangus dan makin kecil lagi nilainya kalau dia tetap merengek dan tidak mensyukuri pemberian itu.

Alhamdulillah.. celetukkan itu senada dengan firman Allah SWT:

“Dan jika kamu sekalian bersyukur atas nikmat yang Aku berikan, maka niscaya akan Aku tambah nikmat-Ku untukmu. Dan jika kamu sekalian kufur atas nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku itu sangat pedih”. (Ibrahim:7)

Pelajaran syukur yang ternyata sangat mudah diterapkan. Bukan cuma bagi kita, tapi bagi anak-anak kita. Kalau saya biasanya malah lebih kejam lagi. Suatu ketika, karena tidak punya uang cash, saya cuma memberi uang saku sebesar Rp. 1.000 pada anak saya (biasanya 2.000).

Spontan dia cemberut, lalu saya katakan, “Lho, kalau ndak bersyukur tak ambil lagi duitnya”. Senyumpun mengembang di bibirnya dan dia menerima pemberian itu. Alhamdulillah pulang sekolah-nya saya traktir dia es jus favoritnya yang nilainya 3x uang saku dia biasanya. Dan saya tak pernah menjanjikan apapun atas syukurnya menerima uang saku yang kurang dari biasanya. Bahkan pernah dia sekolah tanpa uang saku sama sekali dan tetap ceria.

Hati-hatilah dengan rasa syukur yang tidak kita tanamkan pada diri anak-anak. Dia akan jadi bom waktu yang bukan cuma menyusahkan kita nanti, tapi juga orang-orang disekitarnya. Betapa banyaknya kita temui orang-orang yang tidak bersyukur dengan apa yang sudah dia terima. Mengeluh hampir selalu menghias bibirnya. Protes ini protes itu, kurang ini kurang itu, tak pernah puas dengan apapun yang diterima.

Sayangnya banyak diantara kita yang cuma pandai dalam bersabar, tapi susah untuk bersyukur. Padahal nikmat apapun yang Allah berikan, jika mau diperhatikan sesungguhnya adalah nikmat yang sangat besar. Mau tahu contohnya? Tarik nafas anda dan tahan 1 menit saja. Masihkah anda tidak bersyukur?

“Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”. (diulang berkali-kali dalam surat Ar-Rahmaan)

Coba tanyakan pada diri kita sendiri, kenapa Allah mengulang-ulang ayat itu?