Nikmat di tengah musibah

Azab dan nikmat itu tidak ada


Nikmat di tengah musibahSering saya coba merenungi setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup saya. Mulai musibah yang saya alami sampai nikmat-nikmat yang saya dapatkan. Kemudian saya coba-coba menemukan jawaban, apakah peristiwa itu termasuk nikmat ataukah termasuk musibah atau azab?

Awal-awal jika saya mendapati peristiwa yang menyenangkan, saya langsung berkesimpulan ini adalah nikmat. Dan kalau peristiwa itu tidak menyenangkan saya sebut musibah. Tapi kemudian saya berpikir lagi lebih dalam benarkah nikmat itu nikmat dan musibah itu musibah? Karena seringkali sebuah nikmat justru adalah musibah bagi saya dan yang saya pikir musibah ternyata adalah sebuah nikmat.

Maka sayapun berkesimpulan, selama kita hidup di dunia ini, tidak ada yang namanya nikmat dan musibah. Bahkan ketika Allah menimpakan bencana besar pada suatu kaum, itu bukanlah azab. Karena boleh jadi ada orang-orang sholeh disana. Ada orang-orang yang sedang sujud saat musibah itu datang. Tapi bukan tidak mungkin juga ada orang yang sedang bermaksiat saat peristiwa itu terjadi.

Menurut saya nikmat sesungguhnya itu nanti ketika kita sudah memastikan diri sebagai penghuni surga. Dan musibah sejati adalah saat kita telah dipastikan menjadi penghuni neraka selamanya. Saya perhatikan begitu banyak orang yang gajinya mungkin jauh di bawah saya tapi bisa tetap tersenyum dan aktif beraktifitas. Dan tak jarang juga kita dapatkan berita bagaimana mereka yang hidup bergelimang harta justru begitu berat untuk tersenyum.

Sayapun sadar, bukankah ini semua hanyalah sebuah tayangan semu? Hanya bayang-bayang kosong yang ditunjukkan Allah untuk menguji bagaimana sikap kita. Harusnya bukan masalah kita dapat banyak musibah, bukankah itu sebuah kesempatan untuk mendapatkan pahala kesabaran dan sikap kita yang masih bisa mensyukuri nikmat lain di tengah musibah akan menjadi sebuah amal tersendiri.

Dan kita yang hidup dengan bergelimang kenikmatan dunia, harusnya juga bukan masalah karena kita bisa mendapatkan pahala besar atas shadaqah dan bergeraknya harta kita untuk membantu fakir miskin. Bukankah kita di dunia ini tujuannya cuma 1 saja. Yaitu alam akhirat dengan kenikmatan yang sejati?

Berarti ndak ada gunanya dong kita kerja terlalu keras kalau tujuannya cuma surga doang. Itu sih namanya taiasu alias berputus asa. Justru disitulah amal kita. Kerja keras kita adalah amal kita. Trus kalau kita ndak kerja, kita mau pakai apa untuk bisa mencapai surga? Ibadah doang 24 jam?

Saya pernah baca suatu cerita pada jaman Rasulullah SAW (kalau ada yang tahu hadist-nya tolong dikoreksi). Alkisah ada seorang ahli ibadah di masjid Rasulullah. Dia 24 jam ada disana. Tak pernah keluar masjid sama sekali. Lalu Rasulullah bertanya kepada para sahabatnya, “Bagaimana dia mencukupi kehidupannya?”. Para sahabat menjawab, “Kamilah yang menyediakan kebutuhan hidupnya ya Rasulullah”. “Sungguh, kalian lebih baik daripada dia”, sabda nabi.

Nah lho, yang memenuhi kebutuhan orang yang beribadah lebih baik daripada yang ibadah. Kalau analisa saya sih benar juga. Bukankah membantu orang beribadah berarti sama dengan beribadah? Memberi makan orang berbuka akan dapat pahala puasa yang sama dengan orang tersebut. Menyediakan keperluan berjihad sudah termasuk berjihad. Nah, kalau kita dapat pahala yang sama dengan orang itu ditambah pahala ibadah kita sendiri, bukankah itu artinya kita lebih baik?

Mungkin pemahaman inilah yang dimiliki oleh para sahabat nabi. Maka tak perlu heran ketika mereka menginfaqkan 50% hartanya untuk jihad fi sabilillah. Bahkan sahabat Abu Bakar as Shiddig r.a menginfaqkan seluruh hartanya di jalan Allah. Karena memang tak ada gunanya berlama-lama menyimpan harta. Begitu nyawa menjemput, seluruh harta yang kita kumpulkan bertahun-tahun dengan cucuran keringat, hanya akan jadi harta ahli waris kita saja. Bahkan bukan tidak mungkin harta melimpah itu hanya menjadi pemicu perselisihan antar saudara.. Naudzubillah..