F.A.Q seputar Pencegahan Covid

Sering kita dengar pertanyaan-pertanyaan ini terutama di sosmed. Sekilas pertanyaannya seakan benar, apalagi jika diberondongkan semua tanpa mereka mau dengerin penjelasan kita.

Sebab ya emang itulah satu-satunya agar pertanyaannya masuk akal yaitu terus berondong dg pertanyaan sampai yang ditanyain lama-lama ogah jawab dan taraaa dia jadi pemenang debat kusir.

Tadinya saya mau jawab pertanyaan2 ini di status pemilik akunnya tapi ya males sebab udah tahu hasil akhirnya dia gak akan percaya juga. Jadi ya mending buat konten blog aja lumayan bisa nambah pemasukan adsense. Ya toh?

Ok, ini daftar pertanyaannya:

May be an image of text that says "PERTANYAAN YG MASIH NGGANJEL DI BENAK BANYAK ORANG Jika masker ber FUNGSI, kenapa jaga jarak?! Jika jaga jarak ber FUNGSI, kenapa wajib pakai masker Jika keduanya ber FUNGSI, kenapa PPKM ?! Jika ketiganya ber FUNGSI, kenapa harus wajib vaksin Jika vaksin AMAN, kenapa tidak ada pasal perlindungan?! Jika banyak KIPI (gejala medis yg terjadi setelah vaksinasi covid-19 atau mati karena vaksin, kenapa harus di vaksin?! Jika vaksin ber FUNGSI, kenapa masih harus pakai masker, jaga jarak, PPKM ?!"

Kita mulai dari yang pertama:

Jika Masker berfungsi kenapa jaga jarak?

Sebab, masker yang dipakai orang-orang itu berbeda-beda kualitasnya. Beda kualitas tentu beda efektifitas pencegahannya. Ada masker yang mampu mencegah hingga 90%, ada yang bahkan cuma 30% doang.

Gak mungkin dong mau ketemu orang tanya dulu kualitas maskernya lalu di-test seberapa efektif masker itu mencegah droplet.

Maka, selain pakai masker, kita juga perlu jaga jarak. Siapa tahu lawan bicara kita maskernya bocor. Lha kondom yang katanya mencegah hamil aja bisa bocor kok, apalagi masker 😀

Pria Dengan Hoodie Abu Abu Dan Jilbab Oranye

Jika Jaga Jarak berfungsi kenapa pakai masker?

Kalau hanya jaga jarak, resiko tentu sangat besar. Jadi gak ada yang bilang jaga jarak doang berfungsi. Kecuali jaga jaraknya 10 meter. Sebab lontaran droplet mampu mencapai 8 meter dan bisa lebih jauh lagi jika postur tubuh orangnya cukup besar. Anda mau ngobrol sama orang dengan jarak 10 meter?

Nah, biar tetap aman, maka selain jaga jarak ya pakai masker. Jadi kalaupun ada yang muncrat, resikonya masih kecil.

Jika keduanya berfungsi, kenapa PPKM?

Kalau semua orang disiplin selama ketemu jaga jarak dan pakai masker, maka tanpa PPKM juga gak masalah. Namun kenyataannya, ada banyak momen yang membuat kita bertemu dan ngobrol tanpa masker.

Misalnya di kantor lalu makan siang. Udah betul selama kerja pakai masker dan jaga jarak. Eh pas di kantin atau warung copot masker toh? Masak makan pakai masker?

Nah, kebiasaan ngilangin stress, sambil makan sambil ngobrol toh? Apa pas ngobrol maskernya dipakai? Penularan yang paling sering terjadi justru ketika makan bersama. Itulah sebabnya pada prokes ditambah menghindari makan bersama.

Untuk mengurangi pertemuan saat bekerja inilah diterapkan PPKM. Setidaknya sampai rumah sakit mampu handle pasien corona yang berjibun.

Jika ketiganya berfungsi kenapa wajib vaksin?

Vaksin bukan untuk pencegahan corona. Fungsi vaksin adalah menyiapkan sistem imun tubuh agar dapat segera mengenali virus corona. Kita nggak tahu kapan akan kena, sebab corona gak pernah ngasih jadwal kapan akan berkunjung.

Lagipula PPKM tidak benar-benar memutus rantai penyebaran. PPKM hanya mengurangi saja agar tidak terlalu over sehingga rumah sakit kewalahan.

Jika herd imunity telah terbentuk lewat vaksin, maka sebagian besar populasi dapat menyembuhkan dirinya sendiri tanpa perlu bantuan tenaga medis. Cukup istirahat secukupnya di rumah.

Maka RS bisa fokus menangani pasien yang kondisinya memang kritis saja sehingga peluang terselamatkan lebih besar.

Foto stok gratis dalam ruangan, dari dekat, dokter

Jika vaksin aman, kenapa tidak ada pasal perlindungan

Pasal perlindungan itu seperti apa maunya? Jika terjadi hal-hal diluar kontrol medis, maka pemerintah memberikan perawatan gratis. Inipun sangat jarang terjadi. Bahkan tidak sampai 0,01% dari jumlah yang mendapatkan vaksin.

Error faktor ini tentu sulit dicegah, tapi kalau terjadi bisa segera ditangani. Itulah sebabnya RS jangan sampai kewalahan terima pasien gara2 kamu-kamu yang males menjalankan prokes.

Info lengkap dapat dibaca di sini: https://covid19.go.id/edukasi/masyarakat-umum/penanganan-kipi-untuk-program-vaksinasi-nasional-ditanggung-pemerintah

Jika banyak KIPI karena vaksin, kenapa harus vaksin?

Kata banyak itu berapa? Jika yang menerima manfaat sudah puluhan juta bahkan ratusan juta sementara yang meninggal katakanlah hanya 100 orang, maka mana bisa disebut banyak?

Berapa banyak korban pesawat terbang? Tapi kenapa pesawat masih tetap digunakan? Kalau pakai teori asal ada yang meninggal maka seluruhnya harus ditiadakan, maka kita gak akan bisa hidup.

Berapa banyak yg naik mobil lalu meninggal? Maka mobil dilarang?
Berapa banyak yg naik kereta lalu meningga? Lalu kereta dilarang?
Berapa banyak orang meninggal di kamar mandi? Apa terus semua orang dilarang ke kamar mandi?

Maka menentukan banyak atau sedikit itu harus pakai statistik dan harus jelas perbandingannya.

Jika vaksin berfungsi kenapa harus prokes dan PPKM?

Anda tahu berapa orang yang belum vaksin? Di negeri ini yang belum vaksin masih sangat banyak. Hanya 30% saja yg sudah mendapatkan vaksin dosis 1 dan yang udah lengkap malah baru 17%.

Apa anda mengira dengan 30% yg vaksin otomatis virus ilang? Hehehe… Gak gitu cara kerjanya bro. Agar tercipta herd imunity maka minimal 80% populasi harus memiliki sistem imun. Saat itulah penularan virus akan benar-benar bisa dicegah.

Maka, sebelum herd imunity tercipta, kita masih diminta untuk tetap jaga prokes, sebab walaupun sudah vaksin, tubuh kita mungkin sudah siap menangani, tapi kita masih berpotensi sebagai carrier yang bisa menyebarkan virus ke orang lain yang belum vaksin.

Ya walaupun tetap aja 20% yang gak vaksin itu akan ada potensi terkena, namun RS akan mampu menanganinya tanpa kewalahan.

Laporan Kinerja Agustus 2021

Menggunakan Trend follower saat kinerja market sideways memang cukup menguras equity. Demikian juga kinerja portofolio saya yang terus mengalami penurunan tipis-tipis selama beberapa bulan terakhir.

Namun, kita gak bisa menentukan apakah market sedang dalam kondisi sideways atau strong uptrend. Yang bisa kita lakukan hanyalah disiplin pada rule yang sudah kita tentukan sendiri.

Maka, inilah kinerja portofolio saya di bulan Agustus 2021 ini:

KInerja Portofolio Agt 2021

Bulan ini, portofolio saya turun sebesar -3.64% sementara sistem tapak naga turun hingga -4.65%. Kinerja IHSG justru naik sebesar 1.32%.

Laporan Hasil Trading Juli 2021

Alhamdulillah.. meski didera drawdown berkepanjangan, namun performa portofolio masih bisa plus.

Bulan ini porto saya kembali turun sebesar -1.25% sehingga Kinerja YTD menjadi 5.12% Nilainya masih lebih tinggi dari YTD IHSG yang baru mencapai 1.52% dan emas masih -0.26%.

Jika dibandingkan kinerja guru saya, masih kalah jauh. Walaupun bulan ini porto beliau juga turun sebesar -1.68% namun YTD-nya masih di angka 10.12% masih sangat lumayan banget 😀

Investasi dulu baru Belanja

Biasanya kita menabung atau berinvestasi itu setelah belanja macem-macem dan sisanya (kalau ada) barulah diinvestasikan. Sehingga mindset-nya tabungan adalah uang sisa. Masalahnya, bagi mereka yang penghasilannya pas-pasan, cara ini justru membuat mereka kesulitan untuk menabung. Sebab apa? Sebab uangnya selalu habis.

Ada lagi yang melakukan cara aneh untuk menabung yaitu dengan membeli barang-barang secara kredit. Misalnya motor. Lalu menganggap cicilan kredit itu sebagai tabungan dan motornya adalah asset.

Ya kalau dari motor itu kemudian dipakai untuk ngojek atau mobil disewakan yang hasil sewanya bisa buat nutupin cicilan sih okelah ya bisa dibilang asset. Tapi kalau sekedar ingin punya ya eman banget kan?

Guru saya Tung Desem Waringin pernah mengatakan, justru orang-orang yang keuangannya rentan itu WAJIB punya investasi dan WAJIB belajar mengelola uangnya.

Sayangnya, mereka yang hidupnya pas-pasan malah justru yang paling malas untuk sekedar mencatat keuangannya. Lebih nyaman dengan ucapan, duit saya pas-pasan apa yg mau ditabung atau diinvestasikan?

Saya pernah dalam situasi seperti itu. Pengen sih nabung atau investasi tapi uang selalu habis di akhir bulan hehehe.. Sama?

Akhirnya saya ubah, sebelum uang dibelanjakan, maka 5% pendapatan langsung disetorkan ke dompet Pluang. Dengan biaya transfer gratis ke virtual account dan menggunakan OY! atau Flip, maka asyik aja tuh transfer-transfer kapanpun tanpa biaya.

Maklum, wiraswasta gak ada gaji bulanan, sehingga pemasukan juga tidak pasti. Kadang banyak, kadang banyak banget. Kadang sehari sekali, kadang sehari berkali-kali. Maka, tiap dapat pemasukan langsung saya transfer 10% ke Pluang sebagai investasi.

Ternyata.. kebutuhan keluarga juga baik-baik saja tuh. Memang akhirnya jajan berkurang sih. Dan akhirnya kerja juga lebih giat sebab pikiran lebih merasa aman dan tinggal fokus ke depan saja.

Maka buat sampeyan yg selama ini kok kesulitan nabung atau investasi, cobalah dulu potong di depan utk investasi. Jika dapat gaji 3 juta, langsung transfer ke Pluang 150rb. Kalau gak sanggup atau ragu ya coba 100rb dulu. Pokoknya potong depan utk investasi.

Kalau nunggu sisa, biasanya malah gak ada sisa wkwkwk.. Soalnya duit sisa biasanya akan jadi barang2 yang gak penting.

Asumsi growth 5% per tahun

Dengan rutin invest 100rb/bulan atau 1,2 juta/tahun dan growth hanya 5% per tahun aja, maka dalam 15 tahun anda akan punya asset senilai 25 juta. Lumayan banget toh?

Dan biasanya kalau udah rutin nabung di awal, jumlah yg ditabung pasti akan terus nambah seiring dengan kemampuan pengelolaan uang yg lebih baik.

Ini aplikasi yg biasa saya pakai:

  1. Investasi emas Pluang: https://lutvi.com/pluang
  2. Flip: https://lutvi.com/flip
  3. OY! Indonesia: https://lutvi.com/oy

Jadwal Deviden 2021 (26/7 – 30/7)

Tidak terasa udah sepekan aja. Seperti biasa, saatnya membahas emiten yang akan ex-date pekan depan.

Hanya ada 2 emiten saja yang akan ex-date pekan depan yaitu:

ASBI yang akan ex-date pada tanggal 27 Juli mendatang. Deviden yang dibagikan hanya Rp. 10 saja per lembar saham. Jika dibandingkan dengan harga sahamnya, maka imbal hasilnya adalah 3,38%.

History Deviden ASBI

Kalau kita lihat sejarahnya, ASBI rutin membagikan deviden tiap tahunnya. Besarnya bisa dilihat rata-rata sekitar Rp. 10 – Rp. 12,5. Maka kalau mau dapat 5% ya setidaknya harus bisa beli di harga Rp. 200/lembar hehehe.. entah kapan bisa nyampe ke angka di atas 😀 Terakhir kali nyampe di 200-an pada Januari 2020 saat awal-awal pandemi.

Emiten selanjutnya yang akan membagikan deviden adalah ELSA. Deviden yang dibagikan sebesar Rp. 10,24/lbr. Kalau beli sekarang berarti dapat imbal hasil 3,76% dengan ex-date pada tanggal 30 Juli 2021.

History Deviden ELSA

ELSA juga rutin membagikan deviden tiap tahun sehingga bisa dijadikan sumber passive income. Tapi ya harus cari harga yang bagus biar imbal hasilnya cukup nendang.

Kalau bisa dapat di bawah harga 200 akan oke banget itu 🙂

Jadwal Deviden 2021 (18/7 – 23/7)

Pekan depan, akan ada 3 emiten yang ex-date pembagian deviden. Yuk kita lihat tabelnya:

Kalau kita lihat di tabel di atas, yang imbal hasilnya cukup lumayan adalah GGRM dan INTP.

ASRM rutin tiap tahun membagikan deviden walaupun secara imbal hasil gak bisa dibilang banyak sih. Rata-rata ya cuma 2-4% doang. Yuk kita lihat detilnya:

Saya sih gak tertarik. Pertama karena ini perusahaan asuransi, yang kedua ya karena imbal hasilnya dikit. Apalagi di tahun ini menyentuh rekor pembagian deviden terkecil.

Berikutnya Gudang Garam

Saya gak tahu datanya ini valid atau tidak sebab kok bisa rata terus angkanya hehehe.. GGRM cukup rutin membagi deviden. Hanya di tahun 2020 saja mereka absen.

Next INTP

Rutin tiap tahun membagikan deviden dan besarnya juga lumayan sih. Apalagi INTP udah mengalami banyak penurunan di 5 tahun terakhir. Jadi boleh dibilang harga yang saat ini termasuk murah

Kalau kamu udah punya saham jagoan belum?

Jadwal Deviden 2021 (11/7 – 16/7)

Pekan depan gak banyak emiten yang membagikan deviden. Tercatat hanya ada 1 emiten saja yaitu HOKI yang akan membagikan deviden sebesar Rp. 1 / lbr saham.

Dengan harga HOKI saat ini yaitu 191, maka imbal hasilnya kalau beli sekarang adalah: 0,52% saja. Sangat tidak menguntungkan bagi pemburu deviden hehehe.

Sejarah pembagian deviden HOKI

Kalau dilihat selama ini HOKI cukup rajin membagi deviden, sehingga bisa dibilang perusahaannya cukup sehat lah ya. Tentu harus dilihat indikator-indikator yang lainnya juga untuk memutuskan apakah mau beli atau nggak.

Jadwal Deviden 2021 (5/7 – 9/7)

Jadwal pembagian deviden untuk pekan depan telah keluar, bagi anda yang suka berburu deviden, bisa mulai cek emiten-emiten berikut ini. Untuk membelinya terserah pakai strategi apapun yang anda sukai:

Jadwal Ex-Date 5/7 – 9/7

Ingat ya, perhatikan ex-date-nya. Yang udah telat mungkin yang ex-date-nya 5 Juli ya, soalnya kan kemarin adalah hari terakhir bursa jadi udah selesai tuh day trade-nya.

Kalau dilihat dari imbal hasilnya, sepertinya yang cukup menarik adalah AMAG. Dengan posisi harga sekarang, maka imbal hasil AMAG sangat lumayan banget tuh. Tapi karena bergerak di bidang yang haram yaitu pinjaman riba jadi ya keuntungannyapun hasil riba hehehe.. Gak mau ah.

Di tempat berikutnya ada ADMF dan BLUE yang nilainya cukup maknyuslah. Bahkan ADMF ini rutin tiap tahun bagi deviden dan kalau dilihat imbal hasilnya juga rata-rata di atas deposito:

Sejarah deviden ADMF

Cuma sayangnya, ADMF ini juga bergerak di bidang pinjaman riba hehehe.. Jadi otomatis keuntungannya adalah hasil riba. hehehe…

Tinggal BLUE saja yang sayangnya lagi tidak ada history bagi deviden, jadi ini baru pertama kali. Ya mudah-mudahan tahun depan rutin.

Mencari perusahaan yang rutin membagi deviden memang tidak mudah, apapun bisa terjadi di masa mendatang. Jadi ya tetap harus cek dan ricek lagi berdasarkan indikator-indikator yang anda percayai.