Apa yang Berubah?


Catatan Ramadhan Lutvi Hari ke-28

InsyaaLlah Ramadhan tahun ini hanya menyisakan 2 hari lagi. Dan setelah itu, dia akan akan pergi meninggalkan kita. Ramadhan sudah sesuai sunnatullah akan datang dan pergi setahun sekali. Tak ada yang berubah.

Maka pertanyaannya bukan kapan Ramadhan datang kembali atau apakah tahun depan kita masih dapat berjumpa dengannya melainkan apakah Ramadhan telah mengubah kita?

Ramadhan adalah bulan latihan. Syaitan2 dibelenggu, pahala dilipatgandakan. Agar apa? Agar umat Islam semangat beribadah. Semangat memanfaatkan waktu hidupnya di jalan Allah.

Pertanyaannya, ketika kita usai menjalani training selama sebulan penuh, apa dampaknya bagi kita? Jika sebelum dan sesudah Ramadhan ibadah kita kok sama saja, maka berarti ada yang salah dengan Ramadhan kita. Masih ada 2 hari untuk merenunginya, sudahkah kita memaksimalkan waktu kita di bulan Ramadhan ini?

Saya sendiri tidak tahu bagaimana cara efektif mengukur iman. Namun, saya harus memiliki sesuatu yg bisa dijadikan indikator keimanan. Dan Allah sudah ngasih itu dalam bentuk sholat.

Makin ringan kita mendirikan sholat, artinya iman kita makin tinggi. Ketika hati ogah-ogahan atau merasa sholat sedang mengganggu waktu kita, maka iman berada dalam kondisi yg rendah.

Sholat2 sunnah juga bisa dijadikan indikator tambahan. Tatkala kita malas mengerjakan sholat sunnah, artinya iman tidak cukup power. Tapi ketika kita merasa ringan2 saja mengerjakannya, artinya powernya sudah cukup.

Nah, bagaimana sholat kita sebelum Ramadhan?
Lalu bagaimanakah sholat kita ketika Ramadhan usai nanti?

Tinggal kita bandingkan saja.

Jika sebelum ramadhan sholatnya bolong2, maka setelah Ramadhan harus utuh

Jika sebelum Ramadhan sholatnya full tapi suka telat, maka setelah Ramadhan harus lebih di awal waktu

Jika sebelum Ramadhan sholat sudah awal waktu tapi nggak di masjid, maka setelah Ramadhan harus di masjid.

Jika sebelum Ramadhan hanya sholat wajib saja, maka setelah Ramadhan harus nambah sholat sunnah rawatib.

Jika sunnah2 udah jalan, maka mulai belajar menata hati ketika sholat.

Demikianlah seterusnya sehingga tiap tahun selalu ada peningkatan dalam sholat kita dan mudah2-an itu menjadi cerminan tingkatan keimanan kita pada Allah