Apa kabar Iman?


Catatan Ramadhan Lutvi hari pertama….

Alhamdulillah… tahun ini masih diberi Allah kesempatan untuk ikut mencicipi keberkahan bulan Ramadhan. Ramadhan adalah bulan yg identik dengan perintah puasa. Dan puasa kaitannya erat dengan iman. Maka ijinkan saya memulai catatan pertama ini dengan soal iman. Karena hanya orang-orang beriman sajalah yang dipanggil oleh Allah untuk berpuasa. Lainnya? Hanya penggembira 🙂

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.

Gambar terkait

Allah awali perintah puasa dengan memanggil orang-orang beriman. Hai orang-orang yang beriman… yang gak beriman? Ya suka-suka mereka mau ikut mendengarkan atau mau meneruskan aktifitasnya.

Maka ketika secara sadar kita telah mempersiapkan diri untuk melaksanakan perintah puasa, saat itulah kita merasa terpanggil atas perintah ini. Dan saat itulah kita termasuk orang yang beriman.

Puasa adalah ujian paling efektif untuk mengukur keimanan. Karena puasa hanya bisa diketahui secara pasti oleh yang menjalankannya saja. Anda tidak akan tahu saya benar-benar puasa atau tidak. Bahkan anda tidak akan tahu pasangan anda benar-benar puasa atau tidak. Yang tahu hanyalah Allah dan pelakunya saja.

Disitulah iman diuji. Saat tak ada seorangpun yang tahu, saat keinginan untuk mencicipi makanan begitu besarnya, saat itu kita harus menahan diri. Bahkan perilaku menahan diri ini dibawa terus hingga saat berbuka. Walaupun sudah boleh makan dan minum, tapi orang beriman akan tetap menahan dirinya sehingga makan dan minumpun secukupnya.

Betapa banyaknya kaum muslimin yang menjadikan waktu berbuka sebagai waktu pelampiasan hawa nafsu setelah seharian dikekang. Saat adzan belum berkumandang, meja sudah penuh dengan makanan dan begitu adzan langsung dihajar habis2-an sampai perut kekenyangan.

Ba’da maghrib lanjut ronde kedua dan ba’da tarawih nambah 1 ronde lagi. Akhirnya jika di bulan biasa makan hanya 3 kali, di bulan puasa makan justru bisa 4-5 kali sehari.

Ini tentu sah-sah saja toh sudah halal. Namun berlebih-lebihan. Bukankah lebih elok jika makan sesuai takaran biasanya. Sehingga ketika bulan puasa, kita cukup makan 2 kali saja yaitu sahur dan berbuka. Bahkan orang2 sholeh sering makan hanya sekali saja usai tarawih. Pertimbangannya agar ketika sholat maghrib dan tarawih perut tidak kekenyangan.

Rasulullah sendiri mencontohkan berbuka hanya dengan kurma dan air saja. Cukup untuk sekedar ganjal perut hingga usai Tarawih