Share Ibadah = Riya?

Era sosmed benar-benar mengubah cara pandang seseorang. Jika dulu, kita melihat dunia hanya dari berita di televisi dengan kamera yang canggih dan gambar yang jernih sekarang kita bisa melihat berita secara live dengan kamera apapun yang ada melalui sosial media.

Jika dulu kita tahu informasi dari kota ataupun negara lain setiap pagi melalui koran yang kita baca. Sekarang kita bisa tahu informasi hanya sesaat ketika terjadinya kejadian tersebut.

Social media telah mengubah semua orang menjadi reporter, menjadi wartawan atas terjadinya suatu peristiwa.

Salah satu yang dilaporkan adalah kegiatan ibadah. Entah itu ibadah yang sifatnya massal seperti sholat Ied, Ibadah Qurban, pengajian, yasinan, dll. Sampai ibadah yang sifatnya personal seperti tilawah, sholat tahajud, puasa, dll.

Cukup kontroversi sebenarnya masalah ini. Banyak pihak yang menganggap sharing info sedang melakukan ibadah itu termasuk riya’ karena ingin diketahui banyak orang. Sementara ada juga yang menganggapnya itu sebagai sarana berbagi kebaikan dengan niat agar orang lain menirunya.

Menurut saya itu semua tergantung dari pelakunya sih sebenarnya. Menganggap semua yang posting kegiatan ibadah adalah riya juga salah karena boleh jadi dia lebih ikhlas daripada sholat kita yang tidak kita sebarkan.

Ketika anda mengatakan, ah sholat kok diomong-omongkan ke sosmed. Riya’ tuh. Nah, ketika ngomong gitu bukankah seakan mengatakan, aku lho sholat tahajud juga tapi gak ngomong-ngomong. Aku lho yang lebih ikhlas karena gak saya share.

Jujur saya juga tak tahu isi hati anda dan andapun takkan pernah tahu isi hati mereka yang share kegiatan ibadahnya. Tapi ada satu hal yang ingin saya sampaikan di sini adalah Riya’ itu begitu tipis batasannya.

Dalam pandangan dakwah, saya sangat mendukung mereka yang sharing kegiatan ibadahnya. Sedang sholat di masjid anu, sedang mengikuti kajian ustadz ini, barusan menyelesaikan target tilawah satu juz, dll.

Coba anda bayangkan jika ada begitu banyak orang sharing soal tilawah 1 juz misalnya. Dalam hati kecil pasti ada keinginan untuk meniru bukan? Wah teman-teman saya bisa tilawah 1 juz per hari padahal anaknya terbilang berandalan, saya pasti bisa.

Terus terang, sayapun tergerak untuk tilawah 1 juz, sholat dhuha dan sholat tahajud juga gara-gara banyak teman yang melakukannya. Ketika mereka sharing, seakan ada yang berbisik, aku kapan melaksanakan? Masak aku gak bisa?

Tapi memang sharing ibadah di sosmed itu cukup beresiko. Ya resikonya bisa terjebak off side eh riya’. Karena itu sebelum melangkah ke sana, pastikan anda cukup rajin ikut kajian-kajian. Punya guru untuk bertanya dan menasehati. Agar anda bisa tetap menjaga hati.

Kerja dakwah itu ibarat bersihkan got. Mau gak mau pasti akan terkena kotoran. Jika kita berdakwah bil hikmah, berdakwah dengan metode memberi contoh, ya cara paling efektif memang sharing kegiatan ibadah kita. Tapi resikonya ya itu tadi, kita bisa masuk dalam riya’

Maka sebagaimana usai membersihkan selokan, bersihkan kembali diri ini dengan istighfar dan jaga selalu hati dengan dzikir dan rajin hadir ke majelis ilmu.

Published by

Lutvi

Bukan Ustadz, bukan Dai apalagi Kyai. Juga bukan guru. Hanya sekedar santri miskin ilmu yang coba mengamalkan 1 ayat warisan dari para ulama. Saat ini diamanahi menjadi admin web WordPress Indonesia