Selokan Mampet

Selokan Negeriku

Selokan Negeriku

Apa yang kita pikirkan saat melewati sebuah kampung dengan selokan yang mampet dan di dalamnya bertumpuk sampah beraneka rupa? Pemandangan itupun kemudian dilengkapi dengan bau tak sedap yang mengiringi perjalanan kita menyusuri kampung tersebut. Apa yang akan kita lakukan kemudian jika kampung itu ternyata adalah kampung halaman kita sendiri?

Biasanya akan ada 3 pilihan ketika dihadapkan dengan situasi seperti itu:

  1. Membiarkan saja, bahkan kadang malah ikut menambah parah dengan membuang sampah di selokan yang sudah penuh sampah itu.
  2. Protes pada para aparat kampung kenapa kok lingkungan tidak bersih, kenapa sampah numpuk dan kenapa-kenapa yang lain
  3. Berusaha membersihkan selokan dengan peralatan apapun yang tersedia meski kemungkinan untuk bersih total sangatlah kecil

Saudaraku…

Negeri kita ini seperti sebuah kampung kumuh dengan selokan yang mampet oleh sampah-sampah ketidak jujuran, sampah korupsi, sampah rendahnya moral, sampah nafsu, sampah hilangnya keimanan. Penuh sekali hingga sulit rasanya kita membedakan mana tempat sampah dan mana selokan.

Rendahnya moral sudah menghiasi bukan hanya dalam hati para penjahat, para pejabat korup, para pemuda lacur, tapi sudah merambah ke siswa-siswa di sekolah bahkan guru-guru. Sampah2 itu pun menghias di layar kaca tiap rumah kita, mengajari anak-anak kita bagaimana menambah mampetnya selokan negeri ini.

Sebagaimana gambaran saya tadi, akhirnya ada 3 jalan yang kita pilih melihat kenyataan ini. Membiarkannya saja bahkan cenderung ikut serta di dalamnya dengan dalih,

Yang lain aja korupsi kok, ngapain kita nggak.

atau mungkin dengan pembenaran seperti ini:

Kalau ndak gini mas, nggak akan cepet urusannya

Pilihan kedua adalah memprotes pemerintah tentang kotornya lingkungan ini. Adakan demo dimana-mana untuk memerangi korupsi. Sebarin berita-berita dan bongkar kasus-kasus korupsi di media masa atau social media. Atau kalau perlu bikin poster dan seminar-seminar anti korupsi dan pergaulan bebas. Heboh, besar, dahsyat.. mengerahkan massa yang luar biasa banyak hingga memacetkan jalanan.

atau kita lebih suka ambil pilihan ketiga, tanpa banyak omong, tanpa banyak mengeluh langsung ambil cangkul, ambil peralatan yang ada di rumah atau dengan tangan kita sendiri kita ambil satu per satu sampahnya. Mungkin orang akan melihat kita penuh kotoran, penuh lumpur hingga mereka menuduh kita ikut-ikutan menambah sampah. Mungkin kita akan terlihat seperti orang konyol dan goblok karena menjalankan tugas yang seharusnya dilakukan oleh para pejabat kampung.

Saudaraku…

Hari ini kita saksikan betapa banyaknya mereka yang membuang sampah2 moral, betapa banyaknya mereka yang memprotes dan ngerumpi tentang korupsi dan kecurangan pejabat, tapi sangat sedikit di antara kita yang mau berkotor ria, mau berkeringat, mau bersusah payah untuk mulai membersihkan sampah-sampah itu.

Kita justru malah membenci mereka yang berusaha membersihkan selokan negeri ini dengan upaya-upaya yang bisa terpikirkan. Kita malah sibuk memprotes mereka. “Mana bisa kamu bersihkan selokan pakai tangan doang, mana bisa bersih”. Kita bahkan menghina mereka yang berupaya melancarkan kembali selokan kampung negeri ini. “Huh.. katanya Islam, tapi kotor badannya”.

Bahkan tadi malam ada yang mengatakan orang2 yang membersihkan selokan sebagai orang-orang yang LAYAK DIKASIHANI karena mau-maunya nurut sama elit mereka. Mau-maunya disuruh bersih-bersih selokan.

Saudaraku…

Silahkan engkau memilih yang mana… Tapi aku dan saudara-saudaraku di jalan Dakwah akan tetap memilih yang ketiga. Kami akan berusaha bersihkan negeri ini dengan segala kemampuan yang kami miliki. Sampah itu sudah begitu menumpuk. Bukan sebulan dua bulan, tapi sudah menumpuk puluhan tahun.

Kami memang bukan pesulap yang bisa membersihkan semua kotoran ini dalam sekejab. Kami bukan tukang sihir yang mampu menghilangkan sampah-sampah itu tanpa membuat badan kami kotor. Kami mohon maaf jika upaya kami melancarkan selokan negeri ini telah membuat sebagian baju putih kami ternoda. Kami akan cuci kotoran itu hingga kau tak mampu menemukannya lagi.

Terima kasih karena selalu mengingatkan dan memberitahu setiap ada noda-noda yang terpercik di baju kami. Mudah-mudahan celupan Allah akan mampu mensucikannya kembali ketika pekerjaan ini selesai sore nanti.

Teruntuk buat saudaraku di bumi dakwah yang mulia….

2 thoughts on “Selokan Mampet

  1. Saya setuju dengan pendapat penulis. Bersihkan semua kotoran dimulai dr Individu. Meskipun awalnya kotor namun akhirnya akan bersih apabila semua masyarakat punya tekad dan cara pandang yang sama. Seperti kata iklan… anak hebat adalah anak yang berani kotor :D

  2. Semuanya sebenarnya adalah tanggung jawab kita bersama dan alangkah indah dan bijaksana bila kita bahu membabahu pemperbaiki keadaan lingkungan kita seridaknya disekitar rumah dulu lah..
    terima kasih atas ulasannya, dan semoga makin banyak yang sadar akan kelestarian dan kebersihan lingkungan

Comments are closed.