Ketika presentasi Sedekah Rombongan di Surabaya, ada pernyataan yang mungkin sudah sering kita dengar, “Gpp sedekah sedikit yang penting ikhlas”. Sekilas pernyataan ini benar ya, bahkan ketika tim Sedekah Rombongan mengatakan, sebenarnya yang benar itu “Gpp sedekah gak ikhlas yang penting BANYAK”. Sebenarnya artikel ini akan sangat asyik kalau dibuat diskusi terutama dengan mereka para penganut sedekah dikit yang penting ikhlas.

Ikhlas itu apa sih?

Sedekah Ikhlas atau BanyakSebelum kita ngobrol ngalur ngidul rasanya perlu kita perjelas dulu APA ITU IKHLAS. Banyak yang salah kaprah dengan mengatakan Ikhlas itu TANPA PAMRIH. Bahkan saking tanpa pamrihnya, gak boleh berharap apapun walau secuil. Maka ketika ustadz Yusuf Mansur mengkampanyekan sedekah kemudian berdoa minta ini dan itu, banyak yang protes dan mengatakan sedekah seperti itu namanya tidak ikhlas.

Ok, biar kesannya lebih Ilmiah, saya berikan definisi Ikhlas yang sebenarnya:

Ikhlas artinya memurnikan tujuan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dari hal-hal yang dapat mengotorinya. Dalam arti lain, ikhlas adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam segala bentuk ketaatan. Atau mengabaikan pandangan makhluk dengan cara selalu berkonsentrasi kepada Al Khaaliq (Tazkiyatun Nufuus wa Tarbiyatuha Kama Yuqarrirruhu ‘Ulama As Salaf, Dr Ahmad Farid)

Nah, perhatikan definisi di atas. IKHLAS itu ada TUJUAN ada PAMRIH ada SESUATU YANG DIKEJAR yaitu ALLAH. Kita sedekah 1 juta dengan TUJUAN agar ALLAH BERI 10 JUTA. Maka kita sudah IKHLAS.

Kita baru dikatakan TIDAK IKHLAS apabila tujuan kita adalah MAKHLUK. Misalnya biar MASYARAKAT TAHU DIA DERMAWAN dan mau memilih jadi Anggota Dewan, maka dia sedekah 1 juta ke panti asuhan.

Perhatikan. Yang pertama, biar Allah memberikan duit 10 juta. Sedangkan yang kedua biar masyarakat memberikan suaranya. TUJUANNYA sudah beda. Walaupun sama2 duniawi, tapi meminta dan mengharapnya kepada 2 pihak yang berbeda.

Lalu bagaimana mengetahui bahwa kita sudah ikhlas atau belum?

Ikhlas itu indikatornya ada 2 menurut saya:

  1. Dipuji tidak bangga
  2. Dicaci tidak marah atau merasa terhina

Ketika kita nyumbang masjid 10 juta, lalu oleh panitia nama kita disebut dan kemudian orang2 bilang, “Wah Haji Lutvi (aamiin) nyumbang 10 juta, hebat bener” dan kemudian kita jadi berbangga diri walau tidak dinampakkan, saat itulah kita jatuh pada ketidak ikhlasan.

Atau misalnya, kita biasa nih nyumbang panti asuhan sembunyi2, transfer gitu aja nggak konfirmasi tiap bulan 1 juta. Lalu ada temen datang dan ceramah, “Ente tuh udah kaya, kok nggak pernah sedekah sih. Hati2, harta ente nanti jadi gak berkah Ji”. Jika saat itu kita ngomel walau di dalam hati alias tersinggung, maka rontoklah sedekah kita tiap bulan hehehe…

Mereka yang ibadah ikhlas karena Allah nggak akan bangga dengan pujian dan nggak akan marah atau hina dengan cacian atas ibadahnya. Lha yang menilai ibadah tuh Allah kok. Saat orang memuji, dia berdoa, “Ya Allah, banyak lho yang jadi saksi ibadahku. Kabulkan doaku yaa..”. Dan saat ada yang menghina, dia berdoa, “Ya Allah.. makasih udah datangkan orang ini. Aku jadi pengen sedekah lagi biar nasehatnya bisa aku jalankan”.

Balik ke Allah.. balik ke Allah lagi….

Jadi? Penting mana Ikhlas atau Banyak?

Menurut saya penting BANYAK. Karena mereka yang sedekah BANYAK, minimal dia dapat 3 kebaikan+1 kemungkinan besar:

  1. Kebaikan sedekahnya
  2. Kebaikan membantu orang lain
  3. Kebaikan silaturahim
  4. Kemungkinan besar pahala jariyah.

Misalnya nih tapi naudzubillah ya… Misal abis sedekah 10 juta, trus ada temen nanya, “Lu kok ndak pernah sedekah sih? Jadi orang jangan pelit bro!”. Lalu kita spontan bilang, “Enak aje lu, tahu ndak panti di sana kemarin tuh mau ambruk, udah ane kasih 10 juta buat benerin. Nggak perlu lapor ente”.

Dyaar!!!… karena marah, jadinya nggak ikhlas. Pahala sedekah hilang. Tapiiiii….. ada 2 pahala lain yaitu membantu orang atau lembaga lain dan silaturahim. Yang ini susah dihilangkan bos. Tapi syaratnya harus besar sedekahnya. Dan karena besar, sedekah kita jadi ada artinya. Bangunan rubuh jadi berdiri lagi, jadi bisa dipakai ngaji lagi, belajar lagi. Akhirnya dapatlah pahala ke-4 yaitu Jariyah. Yang ini nggak bakal bisa dirampok oleh TIDAK IKHLAS. Tiap tuh anak2 panti ngaji, kita dpt pahala ngaji. Mereka ngapalin quran di bangunan yang kita dirikan, kita dapat pahalanya.

Kalau ada panti mau rubuh kita bantu 100ribu ya nggak jadi apa2, buat konsumsi kuli aja kurang. Paling cuma dapat pahala silaturahim aja. Tapi biasanya kalau cuma 100rb, kita yg malu datang, jadinya malah dpt pahala sedekah doang. Eh, ternyata pahala sedekah yang sedikit itu, hangus juga gara2 marah dan gak ikhlas wkwkwk… gosong deh.

Jadi kesimpulannya, sedekahlah YANG BANYAK. Karena kita tidak pernah tahu apakah kita masih bisa menjaga keikhlasan hingga mati nanti. BANYAK itu RELATIF. Jika 100rb itu BANYAK menurut kita, maka berikan kepada orang yang merasa DAPAT BANYAK saat mendapatkan 100rb itu. Misalnya, bayarin sekolah 1 anak yatim+buku2-nya. Kasih syarat, dia musti ngaji di TPA kalau sore. InsyaaLlah sebulan 100rb cukup utk bayar sekolah + bayar TPA. Jika BANYAK itu 1 juta, ya kita modalin tetangga yang miskin di sekitar rumah. Kata temen di BMT, modal usaha dagang di pasar itu sekitar 500rb doang lho. Jadi 1 juta udah bisa ngasih kerjaan 2 kepala keluarga.

15 Responses so far.

  1. nm iqball says:

    makasih mas lutvi, atas pencerahan tg ikhlasnya. Sy ikhlas kok ngucapin makasihnya bkn karena dapat pertamax :)

    • nm iqbal says:

      Dari sini saya berpikir kalau sedekah yg sedikit, justru cenedung gosong deh ganjarannya. Sebab biasanya yg sedekah sedikit itu, mikirnya “gak enak” aja klo gak ngasih.

  2. Kangdoel says:

    Cukup mewakili pikiran ane tentang keikhlasan. Mudah2an artikel ini juga menjadi amal jariyah penulis.. Amiin

  3. danil says:

    wah mantap tausiahnya …jazakumullah khairn ust lutvi

  4. khamamah says:

    Bismillah semoga virus sedekah bisa menyebar sekaligus barokahnya amiin

  5. “Sedekahlah yang banyak karena kita ga tau kpn kita bisa menjaga keikhlasan”.saya pribadi lumayan sulit menerapkan ini ego takut ga akan tercukupi bila sedekah lebih karena melihat kantong yg pas2an padahal Janji Alloh ga pernah Ingkar dan selalu terbukti,tp bujukan ego manusia selalu lebih besar

  6. Jefry says:

    Sangat inspiratif Pak..
    Selama masih hidup dan mampu keikhlasan dalam bersedekah harus selalu ditumbuhkan

  7. bagus banget nih jadi nambah ilmu agama

  8. afif says:

    dipuji tidak bangga, kadang2 rasa bangga itu tetap ada ketika dipuji walaupun kecil, sulit sekali dihindari, bagaimana caranya?

  9. grandchief says:

    Like This :)

    kalau kata jargon Facebook

    Semoga bisa mengamalkannya

  10. Ramzi says:

    Bener banget ni sedekah haruslah ikhlas dan banyak kalau tidak begitu bagaimana sedekah itu bisa bermanfaat bagi masyarakat luas nantinya
    nice share :)

  11. klo menurut ane sich, lbh bagus sedekah yang banyak tapi ikhlas :lol:

  12. Tool.TL says:

    Untuk akhirat kelak baiknya memilih bersedekah yang banyak dengan diiringi keikhlasan dalam memberi supaya diakhirat kelak sedekah ini menjadi sebuah pahala besar yang akan menolong kita

Berdakwah Tanpa Suara, Menulis Tanpa Pena

Foto LutviNama saya Lutvi Avandi. Bukan Ustadz, bukan Dai apalagi Kyai. Juga bukan guru. Hanya sekedar santri miskin ilmu yang coba mengamalkan 1 ayat warisan dari para ulama.