Ramadhan Day #23 – Lailatul Qadr

Malam Lailatul Qadr adalah malam yang ditunggu-tunggu oleh jutaan umat muslimin. Konon katanya siapa yang ibadah di malam itu, maka dia ibarat ibadah selama 1000 bulan atau sekitar 83 tahun lebih. Sayangnya saya belum pernah menemukan hadist ataupun ustadz yang mengucapkan hadist tentang angka 1000 bulan itu. Setahu saya satu-satunya yang menyebut 1000 bulan hanyalah Al-Quran surat al-qadr:

Lailatul qadr lebih baik daripada 1000 bulan (ayat 3)

Inilah yang kemudian dijadikan patokan bahwa malam al-Qadr itu lebih baik 1000 bulan. Nah, masalahnya kemudian apa yang lebih baik dari 1000 bulan itu? Benarkah seperti perkataan para ulama yang dimaksud lebih baik dari 1000 bulan itu artinya dikalikan 1000 bulan? Maaf, saya kurang paham bagaimana hubungan antara lebih baik dari 1000 bulan dan dikalikan 1000 bulan.

Apalagi jika kemudian disambungkan dengan ayat setelahnya yang menyatakan bahwa di malam itu Al-Quran diturunkan. Ilmu saya yang masih rendah ini memahaminya bahwa malam Lailatul Qadr itu ya malam ketika Al-Quran diturunkan alias 17 Ramadhan. Itu kalau waktu itu para sahabat ingat persis tanggal ketika Al-Quran turun. Karena pada peristiwa Isra’ Mi’raj saja dimana waktu itu Islam sudah dikenal ternyata ada banyak perbedaan tanggal persisnya lho. Dan memang jumhur ulama berkeyakinan peristiwa Isra’ Mi’raj itu terjadi pada tanggal 27 Rajab.

Tapi dalam peristiwa turunnya Al-Quran ini, dimana dinyatakan jelas bahwa Al-Quran turun pada malam Al-Qadr dan di banyak hadist disebutkan bahwa malam Al-Qadr itu terjadi di 10 hari akhir bulan Ramadhan, saya jadi bingung berarti ada 2 kemungkinan:

  1. Malam Al-Qadr saat Al-Quran turun dan yang terjadi di tiap bulan Ramadhan adalah 2 kualitas malam yang berbeda. Maka otomatis pahalanyapun gak sama hehehe…
  2. Malam Al-Qadr saat Al-Quran turun dan yg terjadi tiap Ramadhan adalah malam yang sama yang datang tiap tahun. Maka otomatis Nuzulul Quran harusnya gak 17 Ramadhan melainkan di salah satu hari di 10 malam terakhir

Lha trus gimana dong jadinya? Kalau saya sih, daripada bingung sikat aja mulai tanggal 1 sampai 30 Ramadhan. Walau gak dapat 83 tahun seandainya memang gak ada, tapi kita dapat pahala ibadah sunnah yang setara dengan ibadah wajib dan pahala ibadah wajib yang ditingkatkan 700x lipat. Misalnya kita ibadah wajib doang deh, maka sudah seperti ibadah 700 bulan hahaha… Apalagi kalau berjamaah berarti 700×27 bulan. Itung sendiri deh. Belum sholat2 sunnah, belum dzikirnya, belum baca qurannya dan belum lagi kalau semua aktifitas kita kita niatkan untuk ibadah.

So, rugi banget kalau kita cuma ngejar 1 malam doang dengan harapan dpt pahala 1000 bulan. Mending kita sikat semua dari awal sampai akhir. Dan khusus 10 hari terakhir kita niatkan I’tiba’ atau meniru Rasulullah yang mengencangkan sarungnya di 10 malam akhir Ramadhan. Saya yakin tujuan beliau bukan ngejar Lailatul Qadr, tapi lebih kepada rasa sayang yang luar biasa pada bulan ini. Ibarat kekasih, ini 10 malam terakhir kita bersamanya. Masak trus kemudian kita sia2-kan malam2 itu?

5 Comments