Politik sebagai Sarana Efektif dalam Dakwah

Dakwah di negeri ini sudah berlangsung berabad-abad lamanya. Namun sayang sekali, dakwah di era modern ini justru berbeda jauh dengan metode dakwah pada jaman wali songo dulu. Padahal, banyak umat Islam dan ulama yang begitu membanggakan strategi dakwah wali songo. Bahkan sampai pada tahap menamakan diri sebagai Islam Nusantara.

Seperti apa toh sebenarnya metode dakwah para wali dahulu?

Yang sering kita dengar dan sering didoktrinkan adalah pembauran budaya. Islam dikenalkan melalui budaya seperti tembang, wayang hingga motif batik. Acara-acara nikahan, kematian, dll juga dikemas dan dimodifikasi agar bergeser dari kebiasaan hindu. Islam ramah kata mereka. Benarkah Islam dulu berkembang hanya dengan modal tembang, wayang dan batik saja? Ternyata tidak.

Para Wali tak hanya mengenalkan Islam lewat aneka macam budaya, tapi mereka juga berjuang di politik. Mendekati raja-raja, membantu perjuangan mereka menyejahterakan rakyatnya. Mengajarkan Islam pada anak-anak mereka. Bahkan menikahi putri Raja.

Kalau anda membaca sejarah wali songo, anda akan mendapati mereka sangat dekat dengan pusat kekuasaan. Entah sebagai anak raja, adipati, penasehat raja, bahkan panglima perang.

Ketika kekuasaan politik berhasil diraih, maka dakwah akan dapat tersebar dengan lebih massif. Amar ma’ruf nahi munkar dapat dilaksanakan dengan lebih efektif melalui perpu maupun perda. Misalnya, untuk menghindarkan generasi muda dari alkohol, tinggal bikin peraturan pembatasan alkohol atau bahkan pelarangan penjualan minuman keras. Menyelamatkan keluarga dari pornografi, bisa dilakukan dengan penutupan situs2 pornografi atau melacak dan menangkap pelaku2-nya untuk memberikan efek jera.

Bandingkan ketika umat Islam jauh dari politik. Yang ada ya kejadian seperti akhir-akhir ini. Ulama dikriminalisasi, mau takbiran dilarang, bikin pengajian dibubarkan, ceramah2 agama diawasi ketat dan penista2 agama bermunculan dengan berani karena pemerintah dan aparatnya tidak berpihak pada umat Islam bahkan cenderung memusuhi Islam.

Maka sudahi mengatakan ulama jangan berpolitik karena politik itu kotor. Itu adalah perkataan menyesatkan. JUSTRU Ulama ini harus ramai2 masuk dunia politik agar politik negeri ini bersih. Udah tahu kotor kok malah orang2 bersih gak boleh masuk. Terus kapan bersihnya?

Jika diibaratkan politik itu selokan kotor, bau dan mampet, maka butuh tangan2 bersih untuk terjun di dalamnya membersihkan selokan agar tak mampet lagi. Memang tangan2 bersih itu jadi sedikit kotor, tapi selokannya akan lancar dan bersih. Lama2 airnya juga akan bersih dan tangan yg kotor itupun akan ikut bersih kembali.

Demokrasi itu seperti pisau bermata dua. Jika kita manfaatkan dengan baik, maka akan sangat menguntungkan umat Islam. Tapi jika kita lalai, akan sangat merugikan umat Islam sendiri.

Ada 2 momen besar demokrasi di negeri ini. Tahun 2018 adalah pemilihan serentak kepala daerah. Pastikan kita semua jadi juru kampanye untuk calon yang berpihak pada umat Islam. Tanggalkan dulu sementara baju2 ormas. Asalnya track record-nya jelas membela Islam, mari dukung sama-sama dan kabarkan pada tetangga dan sanak saudara.

Tahun 2019 adalah puncaknya. Umat Islam harus menang. Pilih partai yang sudah jelas2 memihak pada umat Islam dan konsisten memihak pada umat Islam. Kalau yg plinplan mending ndak usah dipilih. Jadilah juru kampanye caleg2 yang memihak Islam. Kabarkan pada semua orang.

Mudah2-an 2019 nanti terpilih Presiden yang benar2 memihak pada umat Islam. InsyaaLlah Presiden yang Islami akan mampu mengayomi bukan hanya umat Islam, tapi juga seluruh rakyat negeri ini. Aamiin