Netral atau Memihak

Pagi itu saya dan pak RT harus menjadi mediator perselisihan dari dua orang warga. Masalah ketidaknyamanan atas kegiatan dari salah satu warga. Sebelum acara dimulai, Pak RT memberikan brieafing sebentar. Salah satu pesan beliau adalah kita kan cuma mediator pak, jadi harus tidak memihak alias netral.

Hmm… saya langsung nyeletuk. Sebagai wasit atau mediator, maka kita harus memihak pak. Memihak pada kebenaran. Kita ndak boleh netral, karena kalau netral,¬†artinya kita memberikan ruang bagi orang untuk berbuat salah.

Pak RT setuju dan alhamdulillah dari pertemuan 2 warga tersebut, tercapai kesepakatan dan dapat diselesaikan dengan baik walau salah satu pihak seolah dirugikan. Tapi kebenaran tetaplah kebenaran dan kebenaran haruslah dimenangkan apapun yang terjadi.

Di Harvard University, Massachussets –¬†universitas terbaik dunia dalam berbagai bidang dan merupakan salah satu universitas tertua dunia ada fakultas hukum terbaik di dunia.

Kalau anda datang ke fakultas Hukum Harvard University, dipintu masuknya terpampang jelas 3 tulisan tentang konsep keadilan, yaitu dari Agustino Hippo, Magna Carta dan dari Al Quran. Dari Al Quran? Benar. Bahkan, yaitu konsep keadilan berdasar surat Annisa ayat ayat 135 yang berbunyi :

??????????? ????????? ????????? ??????? ?????????? ??????????? ?????????? ??????? ?????? ?????? ???????????? ???? ????????????? ???????????????? ? ???? ?????? ???????? ???? ???????? ????????? ??????? ??????? ? ????? ??????????? ????????? ???? ?????????? ? ?????? ?????? ? ?? ???? ?????????? ??????? ??????? ????? ????? ??????????? ????????

“Wahai orang-orang yang beriman. Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Maha Teliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan.”
(QS. An-Nisa’: Ayat 135).

Bahkan diantara ketiga pilihan konsep tersebut, Al Quran merupakan yang terpanjang dan diletakkan pada bagian tengah dari dinding fakultas hukum.

Faculty members Harvard University ketika ditanya mengapa mengapa memilih menempatkan ayat Al Quran pada pintu masuk mereka, mereka menjawab bahwa mereka telah menelusuri berbagai konsep dan teori hukum yang ada dan tersebar didunia dan mereka sampai pada kesimpulan bahwa konsep keadilan yang diungkapkan oleh Quran surah Annisa adalah merupakan konsep yang terbaik, terlengkap dan terfair yang pernah ada dan mereka temukan.

Konsep adil sendiri dalam Islam bukan sama rata sama rasa sebagaimana komunis atau siapa yang terbanyak dia yang benar sebagaimana konsep liberal. Adil menurut Islam adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dan Islam meletakkan hukum Allah sebagai hukum tertinggi yang tidak dapat diganggu gugat dengan argumen apapun.

Maka dalam menghadapi kasus hukum, kita haruslah memihak. Memihak pada kebenaran. Memihak pada hukum. Jika dia salah, maka harus dihukum. Jika dia benar, harus dibebaskan. Jadi, ndak ada itu hukum kok berdasarkan suara terbanyak. Atau hukum tidak ditegakkan karena pilkada atau karena kasihan.

Prinsipnya: Equality Before The Law. Gak peduli siapapun, harus diperlakukan sama di mata hukum. Agar masyarakat merasa terlindungi. Karena siapapun yang berbuat salah, dia pejabat atau rakyat jelata, maka harus dihukum

Published by

Lutvi

Bukan Ustadz, bukan Dai apalagi Kyai. Juga bukan guru. Hanya sekedar santri miskin ilmu yang coba mengamalkan 1 ayat warisan dari para ulama. Saat ini diamanahi menjadi admin web WordPress Indonesia