Menjadi tamu Allah

Menjadi tamu Allah

Saya yakin setiap muslim sangat ingin pergi ke mekkah dan madinah baik menunaikan ibadah haji maupun umrah. Masalahnya tak semua orang mendapatkan anugerah untuk bisa datang ke tanah suci. Jangankan untuk menunaikan haji yang bukan cuma kendala biaya yang saat ini mencapai 35 juta atau 80 juta kalau Haji Plus, punya uang segitupun masih harus antri 11 tahun baru bisa berangkat atau nunggu 3 tahun kalau haji plus.

Sayangnya kendala itu kemudian menjadi sebuah pembenaran bahwa Haji hanya wajib bagi yang mampu. Benarkah?

Mungkin saya yang kurang paham ya, tapi saya sendiri belum pernah menemukan ungkapan di quran maupun hadist yang menyatakan haji itu hanya wajib bila mampu. Apalagi ukuran mampu ini kemudian diperberat dengan syarat-syarat dianggap mampu diantaranya mampu secara materi, fisik, tidak punya hutang dan ada cukup dana untuk keluarga yang ditinggalkan. Semakin jauh deh impian pergi haji.

Kalau menurut saya, haji itu WAJIB sebagaimana wajibnya sholat. Tapi wajibnya hanya sekali saja seumur hidup. Setiap muslim harus melakukan upaya semaksimal mungkin agar mampu pergi haji.

Bagaimana kalau tidak bisa?

Sebagaimana perintah Allah lainnya, misalnya perintah sholat, bila tak mampu berdiri ya kita lakukan dengan duduk. Jika tak bisa duduk ya berbaring, dst. Bahkan saat terbaring lumpuhpun tetap harus sholat jika masih sadar.

Demikian juga dengan haji. Setidaknya kita punya upaya mengumpulkan uang 5 juta dulu untuk mendaftar. Nah, masalah nanti pas hari H-nya gak bisa berangkat juga karena dana gak cukup atau umur yang tak nyampai, kita sudah tercatat berusaha untuk pergi haji.

Bahkan seandainya ada program haji backpacker dimana ada koordinasi yg baik dan ada penunjuk jalan atau guide-nya serta biayanya mampu kita tanggung maka haji jadi wajib hukumnya. Konon haji backpacker ini lebih murah ya hanya 12 jutaan kalau ndak salah.

Bagaimana jika benar-benar gak bisa?

Dalam sholat, jika kita benar2 tak mampu misalnya sakit keras hingga tak mampu gerakkan tubuh. Bahkan berkedip-pun sulit, tapi kita masih sadar, maka kita bisa sholat dengan hanya membayangkan saja. Tapi kalau masih bisa berkedip, kita bisa berkedip-kedip untuk sholat. Demikian juga dengan haji. Minimal kita harus terus berdoa, selalu rindu untuk pergi ke tanah suci.

Saya berkeyakinan, andai saja kita benar-benar tak mampu pergi haji tapi sudah ada upaya maksimal sesuai kemampuan diri, maka insyaaLlah walaupun tidak pergi ke tanah suci, kita akan dinilai telah menjalankan ibadah haji karena usaha kita. Sebagaimana seseorang yang berjihad, yang sudah menyiapkan segala keperluannya tapi kemudian karena udzur, dia akhirnya terhalang pergi ke medan jihad, maka Allah tetap mencatatnya sebagai seorang mujahid.

LabbaikaLlahumma Labaik…

10 Responses so far.

  1. Yang penting adalah niat yang tulus ikhlas dan dibarengi dengan usaha dan usaha, Insya Allah sampai baik lahir ataupun batin

  2. Bismillahirrahmanirrahim.

    Setahu saya Pak (dari berbagai kajian Islam dan buku)
    Pada dasarnya semua perintah / ibadah yang Allah perintahkan dalam Islam adalah sesuai kemampuan masing-masing orang. Sebagaimana Allah berfirman: “Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa”. (Artinya) Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya. (QS. Al-Baqarah: 286)

    Akan tetapi kenapa para ‘ulama sering menyebutkan rukun Islam yang ke lima: “Pergi haji bagi yang mampu”? Seolah-olah kewajiban yang lain tidak boleh sesuai kemampuan, atau mungkin bisa dijadikan alasan bagi seseorang agar tidak mau pergi haji.
    Ternyata bukan itu dasarnya.

    Semua kewajiban yang Allah perintahkan semuanya harus dilakukan sesuai kadar kemampuan masing-masing orang. Lebih-lebih lagi pergi haji, karena perintah ini sangat berat bagi kebanyakan orang.

    Ini bukanlah pendapat pribadi para ‘ulama tersebut, tetapi semata-mata berdasarkan firman Allah:
    Wa lillaahi ‘alannaasi hijjul bayti manistathoo’a ilaihi sabiilaa
    “…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah*.” (QS Ali ‘Imraan: 97)
    (* catatan penjelasan dalam Al-Qur`an terjemah Depag RI, orang yang sanggup adalah:
    orang yang sanggup mendapatkan perbekalan dan alat-alat pengangkutan serta sehat jasmani dan perjalananpun aman.)
    Sedangkan di ayat-ayat lainnya tidak disebutkan “tegakkanlah shalat” dengan tambahan kalimat “bila kamu mampu”, akan tetapi langsung “tegakkanlah shalat dan tunaikanlah zakat,” dan seterusnya.

    Begitu pula semata-mata berdasarkan sabda Rasulullah shollallohu’alaihi wa sallam dalam hadits shahih (dapat kita lihat di Arba’in An-Nawawi nomor 2):
    … wa tahujjal bayta inistathoo’a ilaihi sabiilaa …
    (artinya) “… dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah (Ka’bah) jika kamu mampu melakukan perjalanan padanya…” (HR. Muslim).

    Dalam kalimat-kalimat Allah dan Rasul-Nya terdapat hikmah dan isyarat-isyarat yang lembut. Subhanallah.

    Tetapi sesuai yang ditulis Pak Lutvi, tidak boleh kita menyalahgunakan ayat atau hadits untuk dijadikan alasan untuk tidak bercita-cita atau tidak mau (bukan tidak mampu) melakukan perjalanan ibadah haji yang agung ini.

    Dan agar ibadah kita diterima Allah syaratnya ada dua: harus ikhlas (murni, hanya mengharap ridho Allah) dan caranya harus sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah shollallohu’alaihi wa sallam.

  3. asepvidal says:

    sungguh indah kayanya gan kalo bisa sampai dipanggil untuk menjadi tamu Allah di baitullah

  4. Pengen banget pergi ke mekkah. Mudah-mudahan bisa umroh tahun depan…. main

  5. Miftahudin says:

    memang Niat,ilmu dan amal. satu paket menurut Imam Ghozali. jadi niatnya ada, ilmunya nimba, dan amalnya nabung haji.

  6. sepertinya kita perlu meniru “ghirah” saudara-saudara kita orang madura yang menjadikan ibadah haji adalah sesuatu yang HARUS dilaksanakan baginya.. sehingga tidak heran kalau banyak orang madura- meski secara ekonomui/materi “terlihat” pas-pasan tetapi bisa menunaikan ibadah haji….dan itu tidak satu dua orang…

    salam

  7. Pengen banget rasanya bisa ngangkatin emak naik haji…

  8. rizalar says:

    Bener juga tulisan kang lutvi ini, jadi kita harus kaya dan mengusahakan supaya bisa merasakan perjuangan para Nabi di bumi Arab.

    Nenek moyang kita kan dari Arab juga, artinya kita mudik kesana.

  9. Jefry says:

    Jika kita benar2 berkeinginan naik haji pasti ada jalan dan Allah SWT sendiri tidak akan diam saja. Insya Allah akan ada jalan keluar yang bisa mengantarkan kita kesana..

  10. niat, ilmu dan amal/usaha yg ditekadkan untuk melaksanakan haji, niscaya akan mengantarkan orang ybs utk mencapainya. saya punya teman, yg niat haji dan sdh mendaftar. sekarang ybs bersangkutan terpacu utk memulai bisnisnya demi persiapan menuju hajinya.

Berdakwah Tanpa Suara, Menulis Tanpa Pena

Foto LutviNama saya Lutvi Avandi. Bukan Ustadz, bukan Dai apalagi Kyai. Juga bukan guru. Hanya sekedar santri miskin ilmu yang coba mengamalkan 1 ayat warisan dari para ulama.