Mengadili dengan Tidak Adil


Sebenarnya tulisan ini lebih tepat sebagai bahan renungan saya pribadi. Mengingat, saya termasuk yang kurang bisa adil dalam menilai sesuatu. Tapi insyaaLlah dari hari ke hari saya coba memperbaikinya.

Ada kesalahan terbesar saat kita memberikan penilaian, yaitu TIDAK ADIL. Ruwetnya bangsa ini, saya lihat bukan hanya karena kesalahan pemimpin tapi juga ada kesalahan dari sebagian besar rakyat Indonesia.

Manusia memang cenderung tidak dapat berlaku adil jika hal itu sudah menyangkut dirinya sendiri. Ketika ada orang berbuat sesuatu kesalahan, maka kita hanya melihat sisi kesalahannya saja tanpa mau melihat sisi lain yang mungkin tidak langsung tampak. Namun, ketika kita berbuat kesalahan, kita ingin agar orang lain mau melihat sisi lain kenapa kita melakukan hal tersebut.

Sebagai contoh jika anda melihat ada orang menerobos lampu merah. Anda akan langsung memberikan putusan bersalah terhadap orang itu. Anda gak peduli dia melanggar karena apa? Anda gak mau tahu apakah dia sedang diburu waktu karena barusan mendapatkan berita bahwa penyakit ibunya kambuh dan harus secepatnya dibawa ke rumah sakit. Anda tak mau tahu apakah keluarganya sedang ada masalah yang menuntut dia hadir secepatnya dan alasan-alasan lain. Pokoknya yang salah adalah salah. Hukum harus adil pada siapa saja. Itulah yang anda katakan.

Namun, ketika suatu saat anda menerobos lampu merah dan orang lain menyalahkan anda, dengan serta merta anda mengatakan bahwa jangan melihat yang nampak saja. Saya waktu itu harus cepat ke rumah karena ibu saya sakit keras dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Atau anda beralasan bahwa anda sedang sakit perut dan harus secepatnya sampai rumah daripada keluar di tengah jalan. Tiba2 saja anda menuntut orang lain untuk mengerti bahwa anda melakukan pelanggaran karena “terpaksa”.

Dan ketika semua orang memiliki cara pikir dan cara pandang seperti anda, maka terjadilah keributan. Satu sisi anda mengatakan bahwa aparat tidak adil, tapi di sisi lain mereka mengatakan aparat sudah bijaksana.

Solusinya bagaimana?

Solusinya adalah membalik itu semua. Ketika anda melihat orang lain berbuat salah, maka coba temukan dulu kenapa dia melakukan itu. Apakah dia terpaksa atau memang sengaja. Kalau perlu tanya dulu kenapa melakukan hal terebut. Apa alasannya.

Seorang tokoh yang sangat vokal, tiba2 saja berubah haluan, boleh jadi karena terpaksa. Barangkali dia harus melakukan itu karena diancam akan dikriminalisasi. Atau mungkin keluarganya akan terancam jika dia tidak menuruti kemauan mereka.

Dan saat kita sendiri yang melakukan kesalahan, maka segera sadarilah bahwa orang hanya melihat apa yang bisa mereka lihat. Maklumi mereka yang memandang anda hanya dari satu sisi saja. Karena mereka semua adalah manusia juga seperti anda yang hanya bisa melihat dan merasakan melalui panca indera saja.

Cobalah terapkan ini. Jangan dulu diterapkan di kehidupan berbangsa dan bernegara deh, coba terapkan dulu di rumah. Bersama keluarga anda. Coba temukan alasan kenapa pasangan anda berbuat salah, kenapa anak anda berbuat salah. Dan maklumi serta maafkan. Demikian juga jika keluarga anda menemukan bahwa anda salah, sadarilah bahwa mereka hanya melihat satu sisi saja. Minta maaflah dan berjanjilah akan berusaha memperbaiki.