Meminta dan Pasrahkan


Senjata umat Islam adalah berdoa. Kalau ditanya ke umat Islam, pasti semua sepakat menjawab SETUJU tanpa ragu dan tanpa mikir. Betul?

Namun, kenapa umat Islam banyak yg terbelit masalah dan mencari solusi-solusi di luar ajaran Islam. Bukankah katanya doa adalah senjata umat Islam? Benarkah doa adalah senjata atau jangan-jangan hati kecil anda ragu bahkan tidak percaya kalo semua masalah bisa selesai dengan doa.

Banyak yg coba cari pembenaran.. Yaa.. berdoa pasti mas, tapi kan kita harus berusaha. Benarkah anda sudah berdoa atau jangan2 anda hanya sekedar berdoa standart hafalan yg maknanya pun anda gak tahu.

Jangan-jangan anda hanya membunyikan bacaan doa, tapi sama sekali tidak berdoa. Sama seperti burung beo yang melantunkan doa padahal dia gak paham apapun yang diucapkannya.

Anda berdoa Ya Robbi ampuni dosaku tapi dalam hati anda sedang berencana untuk ambil hutang riba atau menerima tawaran kong kalikong dari seorang pengusaha nakal?

Kalau menurut saya, doa itu adalah sarana berbincang dengan Allah. Dan kita wajib meletakkan kedudukan Allah setinggi2-nya. Ya anggap aja anda sedang bicara langsung dengan orang yg sangat berpengaruh dlm hidup anda. Pasti anda akan sangat hati-hati dalam memilih kata-kata.

Coba perhatikan doa-doa para nabi dan orang2 sholeh. Biasanya mereka lebih banyak memuji-muji Allah dan doanya sangat jarang untuk dirinya sendiri. Jika anda saat ini terbelit hutang misalnya, coba berdoa seperti ini.

“Ya Allah yang Maha Kaya, terima kasih atas segala nikmat dan harta yang telah Engkau karuniakan. Terima kasih ya Allah segala pemberianMu telah menghidupi keluargaku dan orang-orang sekitarku. Ya Allah ada seorang hamba-Mu yg aku pinjam hartanya dan saat ini beliau sangat membutuhkannya. Berilah hamba keleluasaan dan kecukupan untuk membantunya ya Allah. Hamba ikhlas, pasrah dan ridha menjadi saluran rahmat bagi seluruh makhlukMu”

Ya… tentu Allah tahulah kalau kita lagi butuh duit buat bayar utang. Tapi ketika anda berdoa dengan sudut pandang orang lain, feelnya akan beda. Karena pada kenyataannya, ngasih hutang ke orang lain itu berat lho. Dan jika kebetulan anda yang hutang, maka sadarilah hal ini dan insyaaLlah anda akan merasakan hal yang beda.

Ketika anda mengeluhkan hutang dan minta rejeki, maka energinya adalah negatif dan anda butuh.

Tapi ketika anda merasa berkecukupan dan ingin membantu orang yang menghutangi anda, maka energinya adalah positif dan anda sedang berlimpah.

Kita ini kan suka nutup2-in karunia Allah. Dibanding hutang yang kita tanggung, apa yang udah diberi Allah sebenarnya kan jauuuuuh lebih banyak toh. Kalau mau, sebenarnya bisa kan kita jual rumah lalu bayar hutangnya. Atau kalau terlalu banyak ya jual ginjal. Artinya, apa yang sudah Allah kasih, sebenarnya jauuh lebih besar dari yang kita butuhkan. Sayangnya, hanya gara2 ditagih hutang dan kebetulan gak mampu bayar, kita seolah jadi makhluk termiskin di dunia dan “mengkafirkan” (menutupi) nikmat Allah.

Apabila kalian bersyukur pasti akan Aku tambah ni’mat-Ku padamu tetapi jika kalian kufur sesungguhnya adzab-Ku amat pedih”. (QS 14:7)

Setelah berdoa dengan penuh kesyukuran, setelah itu pasrahkan. Udah, biarkan Allah berkehendak apapun yang Dia mau. Kalau mau ikhtiar ya ikhtiar sewajarnya. Silaturahim, sedekah, bantu orang, dan sejenisnya. Tambah tabungan energi positif ke alam semesta. Doakan terus orang yang menghutangi anda.

Bagaimana kalo hingga hari H doa kita gak dikabulkan Allah? Gak penting. Kenapa? Karena apapun yang terjadi setelah kita berdoa, pastilah itu yang terbaik untuk kita. Kadangkala kita ditunjukkan Allah kenapa kok Allah tidak mengabulkan sesuai keinginan. Kadangkala Allah tetap membiarkan itu sebagai sebuah misteri.

Bahkan Umar bin Khattab r.a itu katanya sangat senang kalau doanya tidak dikabulkan. Karena beliau yakin kalau doa gak dikabulkan sesuai kemauan kita, itu artinya Allah berkehendak untuk memberikan yang lebih baik dari yang kita mau.

Meminta… Pasrahkan dan apapun yang anda dapat Syukuri

Wallahu A’lam