Mau Bisnis Saham? Pahami Dulu ini!


Bicara tentang saham, sebagai orang awam biasanya kita langsung membayangkan keuntungan yang gede dan kerugian yang gede. Dengan mudahnya orang awam mengatakan “High Risk High Return”. Dari kesimpulan yang dibuat-buat sendiri, akhirnya takut-takut sendiri dan kemudian enggan bahkan anti dengan bisnis saham.

Bahkan kalau boleh saya simpulkan dari analisa kulit aja, orang lebih anti terhadap saham daripada MLM atau Asuransi. Benar atau Betul?

Maka sebelum saya bicara lebih jauh dan lebih mendalam soal saham, saya perlu memberikan wawasan tentang Money Management dan Risk Management dulu. Karena kalau dua hal ini tidak dipahami, mau bisnis apapun baik bisnis saham, bisnis makanan atau bisnis MLM pasti akan ambruk dan merugi.

Ini bukan soal Fear and Greedy (Ketakutan dan ketamakan), ini adalah soal pengelolaan uang yang kurang pandai atau boleh dibilang Gagal Mengelola Uang. Bad Money Management

Apa itu Money Management?

Money Management adalah pengelolaan dana kita. Kita harus melakukan alokasi dana dengan baik. Biasanya orang yang bangkrut di bisnis saham, karena gagal melakukan alokasi dengan dengan baik.

Punya modal 100 juta, dibelikan saham semua. Ketika saham turun, dia malah hutang untuk beli modal lagi (istilahnya average down), makin turun, jual mobil utk suntik dana lagi, lalu jual ini dan itu untuk nambah modal dengan harapan harga akan segera berbalik. Ditunggu dan ditunggu akhirnya harga naik dikit, turun lagi, sideways bahkan boleh dibilang tidur bertahun-tahun. Padahal uang pinjaman ada bunganya dan harus dibayar. Gak bisa bayar, jual ini dan itu, habis semua dan uangnya tetep nyantol di saham gak balik-balik.

Coba kalau ada money management, dana 100 juta dialokasikan dulu untuk resiko sebesar 10%. Artinya seburuk2-nya pasar, maka kerugian tidak boleh lebih dari 10% per bulan. Baru kemudian dihitung berapa Lot yg boleh dibeli dengan resiko kerugian 10% itu. Biar gampang kita pakai contoh saja

Dana 100 juta, resiko kerugian yang siap dihadapi: 10% = 10 juta.
Harga saham ABCD hari itu Rp. 1000
Stoploss (harga yg akan kita lepas jika turun) yg ditetapkan Rp. 800
Maka jumlah Lot yg boleh dibeli adalah:

= resiko/(harga -stoploss)
= 10.000.000 / (1000 – 800)
= 10.000.000 / 200
= 50.000 lembar / 500 Lot

Maka kita hanya boleh beli 500 Lot saja = 50 juta
Masih ada cash 50 juta

Jika misalnya prediksi kita salah sehingga harga saham jatuh, maka begitu mencapai titik harga 800, kita harus jual. Berapa kerugiannya?

= (1000 – 800) x 50.000
= 200 x 50.000
= 10.000.000

Sudah pas 10 juta atau 10% dari modal kita. Bulan depan, baru kita coba kembali dengan modal dana yang tersisa yaitu 90 juta.

Dengan disiplin memakai cara ini, jika ternyata gagal melulu, gak pernah berhasil beli saham bagus, maka hingga 50 bulan ke depan atau 4 tahun lebih kita masih tetap bisa berbisnis saham dan tentunya makin mahir dalam melihat tren.

Bagaimana jika salah melulu, gak pernah berhasil beli saham bagus? Maka mari kita lihat berapa lama dia akan bertahan jika tiap bulan rugi 10% dari modal di awal bulan?

Anda lihat gambar di atas? Di bulan ke 50, dia masih punya dana 57ribu. Ini kalau rugi terus lho selama 50 bulan atau 4 tahun lebih hehehe.. Tapi apa mungkin ada orang seberuntung itu? Bisa menebak terus dengan tepat selama 4 tahun berturut-turut kapan saham jatuh hehehe…. Kenyataannya sih yg menerapkan system ini, justru pertumbuhan modalnya mengalahkan IHSG.

Kok bisa?

Karena dia membatasi kerugian tapi melepaskan keuntungan setinggi-tingginya. Apalagi kalau anda perhatikan contoh saya di atas, menetapkan cutloss 20% dari nilai sebenarnya terlalu jauh. Biasanya mentok cuma di 10%, rata2 malah cuma 2% saja. Jadi kalau beli saham Rp. 1000, maka cutloss-nya Rp. 980, jadi kalau harganya turun jadi 980 dia akan jual sehingga kerugian cuma 2% saja.

Maka kalau rugi cuma 2%, kalau untung bisa 10% bahkan bisa lebih dari 50%. Nanti akan kita bahas lebih detil lagi tentang Risk Management. Ini baru tahap money management dulu

Sementara itu, anda boleh belajar saham dengan para pakar saham di tanah air melalui SyariahSaham.com atau via grup Telegram @SariKelapa.