Ketika Masjid bukan Milik Jamaah


Sering ke Masjid? Pernah memperhatikan laporan keuangan masjid? Biasanya laporan standar yang ada di masjid-masjid itu:

  1. Transport Ustadz pengisi sholat jumat
  2. Biaya listrik
  3. Biaya air
  4. Gaji marbot

Dari bulan ke bulan, pengeluaran rutinnya ya hanya itu saja. Apalagi masjid-masjid jaman sekarang sudah jarang memiliki remaja masjid. Kalaupun ada, hanya sekedar nama tapi tak ada pemuda yg aktif di sana.

Praktis masjid hanya tempat untuk sholat saja. Pengajian rutin jarang, apalagi kegiatan sosial. Padahal seluruh dana yg diinfaqkan jamaah itu adalah amanah dan ditunggu pahalanya.

Jika berkaca pada masjid di jaman Rasulullah saw. Tercatat jelas dalam sejarah bagaimana masjid benar-benar jadi pusat kegiatan umat. Bahkan banyak sahabat yang tak mampu, tinggal dan menginap di masjid.

Di dalam Muktamar Risalatul Masjid di Makkah pada 1975, hal ini telah didiskusikan dan disepakati, bahwa suatu masjid baru dapat dikatakan berperan secara baik apabila memiliki ruangan, dan peralatan yang memadai untuk:

  1. Ruang shalat yang memenuhi syarat-syarat kesehatan.
  2. Ruang-ruang khusus wanita yang memungkinkan mereka keluar
    masuk tanpa bercampur dengan pria baik digunakan untuk shalat,
    maupun untuk Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
  3. Ruang pertemuan dan perpustakaan.
  4. Ruang poliklinik, dan ruang untuk memandikan dan mengkafankan mayat.
  5. Ruang bermain, berolahraga, dan berlatih bagi remaja.

Semua hal di atas harus diwarnai oleh kesederhanaan fisik bangunan, namun harus tetap menunjang peranan masjid ideal termaktub.

Jika mengacu pada hal2 di atas, maka fungsi masjid akan benar2 untuk umat. Dana dari umat, dikembalikan lagi ke umat dalam bentuk berbagai layanan keagamaan dan sosial.

Tapi kenyataan yg ada justru bikin miris. Masjid seolah bukan milik umat, bahkan seolah bukan milik jamaah. Masjid hanya buka ketika waktu sholat, itupun cuma 1-2 jam saja kemudian ditutup.

Mau sholat dhuha atau tahajud di masjid? Gak bakal bisa karena ruang sholat dikunci bahkan pagar digembok.

Dulu musafir itu bisa singgah ke masjid untuk melepas lelah dan tersedia air untuk minum. Bahkan bukan cuma masjid, tapi hampir tiap rumah ada kendi untuk menyediakan minuman bagi para musafir.

Sekarang? Jangan harap. Kalaupun ada tempat minum, isinya hanya debu saja. Bahkan kalaupun ada airnya, tidak disediakan tempat minum. Kalaupun tersedia tempat minum, lokasinya di dalam masjid dan masjidnya dikunci hehehe…

Toilet masjid juga kadang lebih miris lagi. Ketika sholat dhuhur dan ashar dikunci. Bayangin tuh kalau pas lagi kebelet, harus pulang dulu. Alasannya lucu, masjid kok jadi toilet umum. Mungkin beliau lupa, bahwa Thaharah itu adalah bagian dari ibadah. Jangankan buang air, mandi lho bisa berpahala.

Lebih miris lagi, udah digembok eh ternyata jarang dibersihkan. Tempat wudhu masjid terkesan kumuh.

Takut rekening air naik? Trus buat apa saldo kas masjid yang ratusan juta itu kalau untuk bayar rekening air saja tidak mampu.

Apabila takmir tak mampu lagi mengelola keuangan masjid, tak mampu membuat kegiatan masjid, maka sebaiknya memang mengundurkan diri dan beri kesempatan kepada jamaah yang masih muda dengan pemikiran yang lebih fresh dan kreatif.

Memang akan jadi bahaya kalau jadi takmir itu terlalu lama bahkan bisa seumur hidup. Apalagi sampai terlalu ditokohkan sehingga tak ada yang berani mengkritik dan memberi masukan. Akhirnya kegiatan masjid cenderung stagnan. Itu-itu saja.

Padahal jaman sudah banyak berubah, metode dakwah juga harus menyesuaikan. Melibatkan generasi muda sangatlah penting. Mereka bisa memberikan ide2 yang sama sekali tak terpikirkan oleh generasi tua. Takmir hendaknya mau membuka diri dan cukup menjadi pengawas syariah saja agar kegiatan tidak terlalu melenceng dari kaidah agama.

Maka, jika anda sebagai takmir kok mengeluh jamaah sedikit, coba deh berkaca pada diri sendiri. Jangan2 anda sudah terlalu ditokohkan sehingga jamaah takut atau segan untuk memberi masukan. Coba tengok tiap waktu sholat berapa banyak pemudanya. Jika kosong, artinya memang masjid anda perlu reformasi besar-besaran. Segera lakukan sebelum terlambat. Karena jika takmir satu per satu wafat, sementara anak mudanya tidak ada yg ke masjid, maka tinggal tunggu waktu saja ketika masjid hanyalah bangunan kosong tak berpenghuni