Kerja Keras Adalah Energi Kita

Kerja Keras adalah Energi KitaKerja Keras adalah Energi Kita. Tak dapat dipungkiri lagi, seseorang akan memiliki extra energi bahkan sampai lupa waktu saat sedang bekerja keras. Bandingkan dengan mereka yang kerja malas. Seolah-olah waktu berjalan sangat lambat dan tak berakhir. Energinya serasa terkuras habis, lemah dan tak berdaya.

Beberapa pebisnis memang menyarankan untuk bekerja cerdas daripada bekerja keras. Tapi kalau saya ditanya, seseorang yang bekerja keras maka itulah orang yang cerdas. Justru mereka yang tidak bekerja keras yang cenderung tidak cerdas

Saat ini sebuah perusahaan perminyakan nasional tengah menggenjot semangat seluruh divisi dan timnya untuk bekerja keras. Anda lihat, bukti nyata menunjukkan bahwa Pertamina, sebuah perusahaan raksasa negeri ini menyarankan semua karyawannya untuk bekerja keras.

Kerja Keras adalah Energi Kita

Bila Pertamina mampu mengupayakan seluruh anak buahnya untuk bekerja lebih giat, maka kita akan mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kenapa? Bila seluruh tim Pertamina bekerja keras, maka energi yang timbul dari masing-masing individu akan semakin meningkat. Pada akhirnya, kekuatan energi gabungan dari seluruh divisi di Pertamina akan mampu membawa pedagang minyak plat merah itu menguasai pasaran.

Apalagi saat ini, era perdagangan bebas sedang terbuka. Kita bisa melihat perusahaan2 asing mulai mendirikan SPBU di jalan-jalan. Ini tentu membawa persaingan besar bagi Pertamina. Saat subsidi BBM benar-benar dicabut dan terjadilah persaingan fair, maka dana sudah bukan faktor utama memenangkan pasar lagi. Pertamina harus membuat gebrakan-gebrakan jitu untuk memenangkan pasar.

Dan cara terbaik untuk itu hanya dengan kerja keras. Karena

“kerja keras adalah energi kita”

Produk Pertamina saat ini juga tidak bisa dianggap remeh. Apalagi kalau Pertamina mau terus mengembangkan bio diselnya yang ramah lingkungan. Dan yang paling nampak nyata akhir-akhir ini adalah penertiban SPBU nakal. Dulu sudah jadi rahasia umum kalau pegawai SPBU suka mengurangi literan. Tapi sekarang hal itu amat sangat jarang ditemui. Mungkin masih ada 1 atau 2 pegawai yang nakal, tapi itu tinggal menunggu waktu saja sebelum mereka tertangkap.

Lagi-lagi Pertamina harus menjadi image ini dengan baik. Dengan apa? Ya dengan kerja keras. Selamat bekerja buat Pertamina dan seluruh timnya. Mudah-mudahan kita bisa menjadi raja dan penguasa di negeri sendiri. Hidup Produk Indonesia! Hidup Anak Bangsa!

Published by

Lutvi

Bukan Ustadz, bukan Dai apalagi Kyai. Juga bukan guru. Hanya sekedar santri miskin ilmu yang coba mengamalkan 1 ayat warisan dari para ulama. Saat ini diamanahi menjadi admin web WordPress Indonesia

71 thoughts on “Kerja Keras Adalah Energi Kita”

  1. Waduh, sepertinya Pak Lutvi bakalan menang nih, soalnya sekarang di google sudah urutan satu. Pak saya juga ikutan nih, boleh ikutan komen kan sekalian narik backlink. Ga pa pa ya Pak.

  2. wahhh hebat bener nehhh tempta kang lutvi dah nangkring terus di top search nya google kerja keras adalah energi kita, dan kerja keras adalah obsesi kita he,,,,, he…. selamat berjuang dan hadapi tantangan beroo

  3. Gak ada lagi yang bisa saya katakan, cuma “HEBAT MAS..!” satu-satunya kata-kata yang pantas..! Keep Spirit ya Mas..semoga menang..! Saya juga mau ikutan, tapi gak berharap menang..jauh panggang dari api…! heheheh

  4. Kalau saya sih milih dua2nya, “cerdas dan kerja keras”. karena Saya rasa hasilnya akan lebih optimal jika orang cerdas yang bekerja keras. 🙂

  5. Setuju banget pak.. Kerja keras bukan dilihat dari keringat atau tenaganya.. Seorang yang bekerja didepan komputer sama kerasnya seperti mereka yang bekerja di lapangan. karena memang keahliannya berbeda.

  6. saya hanya mendoakan aja semua mas lutvi selalu exsis,karena saya belum paham betul apa yang harus di lakukan.semoga ALLAH meridhoi NYA..Amin…

  7. kerja keras akan memberikan hasil positif dan maksimal pada diri kita sehingga akan berdampak positif dan baik bagi kita kedepan,,,hebat pertamina menyelenggarakan kontes ini,,,tetap kerja keras

    salam

    fikri

Comments are closed.