Kenapa Umat Islam Mudah Terjebak Hoax?

Sebenarnya bukan umat Islam saja sih, rata-rata orang Indonesia mudah terjebak hoax. Bahkan mungkin rata-rata manusia mudah kejebak hoax hehehe… Tapi berhubung saya orang Islam dan mayoritas orang Indonesia Islam dan saya bergaulnya dengan orang Islamdan niatan saya untuk mencerdaskan orang Islam, jadi saya pilih judul di atas. Bisa dipahami ya? Urusan umat lain atau warga negara lain biar diurus oleh sesamanya. Artikel ini akan fokus membahas jebakan2 hoax yang terkesan Islami 🙂

Sebenarnya, berita hoax ini sudah ada lamaaa sekali. Bahkan ketika saya masih SD, saya pernah mendapatkan kiriman surat dari seseorang dan isinya adalah berita hoax. Jaman dulu disebut Surat Kaleng 🙂

Kalau tidak salah ingat, dulu itu isinya info dari penjaga makam Rasulullah gitu yang mimpi didatangi Rasulullah saw dan ngasih sebuah petunjuk. Nah, di bagian akhir suratnya disuruh untuk menyebarkan surat itu ke 20 orang. Jika tidak dilakukan maka akan kena nasib sial, dll. Disebutkan juga soal tokoh-tokoh yang bernasib sial setelah menerima surat itu dan mengabaikannya.

Karena teknologi jaman itu cuma lewat surat, dan butuh biaya untuk menyebarkannya, orangpun ndak gampang terbujuk, walau banyak juga sih yang jadi korban dan mem-fotocopy hehehe… Alhamdulillah saya entah kenapa gak percaya dengan gituan, padahal masih SD waktu itu.

Jaman berkembang, saat ini teknologi begitu canggih sehingga orang dengan mudah menyebarkan informasi. Adanya BBM dan WhatsApp memungkinkan orang berbagi informasi ke begitu banyak orang. Jika dulu hanya maksimal 20 orang, sekarang bisa ratusan bahkan ribuan orang sekaligus.

Kenapa Umat Islam Mudah Terjebak Hoax?

Kembali ke bahasan kenapa umat Islam mudah sekali terjebak dan turut menyebarkan informasi hoax? Dari pengamatan saya di beberapa grup WA. Kebetulan saya gabung di beberapa grup WA dengan anggota yang sangat beragam. Ada yang melek politik, ada yang melek teknologi tapi banyak juga yang masih gaptek.

Ada orang2 biasa yang share hoax, bahkan ada juga ustadz yang share berita hoax. Lalu saya coba2 mengira-ngira apa saja sih penyebabnya. Dan berikut ini beberapa sebab yang bisa saya kumpulkan:

  1. Umat Islam itu terlalu baik. Bagi ustadz, kyai dan orang2 sholeh yang berkumpul dengan orang2 yang baik, maka cenderung mudah percaya dengan omongan. Dari banyak grup yang saya ikuti, paling cuma 2-3 orang saja yang berani nanya, “Itu sumbernya darimana ustadz?”. Yang lain? ya percaya aja, masak ustadz bohong. Dan memang nggak bohong, cuma nggak teliti saja dlm menyampaikan berita.
  2. Kurangnya wawasan. Mereka yang ahli, biasanya cenderung wawasan untuk bidang lain kurang terasah. Orang-orang seperti saya ini, yang gak ahli dalam bidang apapun, biasanya wawasannya luas walaupun dangkal hehehe…. Maka ketika ada ahli agama kok dapat info yang bernada ilmiah, misalnya ada kata-kata “menurut penelitian dari Prof. Anu, PhD dari universitas nganu di Amerika, ternyata air wudhu itu bisa menyembuhkan kanker”. Nah, dikasih kata-kata gitu, ustadz langsung aja percaya. Lha profesor kok yang bilang. Padahal nama profesornya aja gak terdaftar di universitas tersebut, gimana bisa melakukan penelitian?
  3. Enggan Crosscheck. Walaupun sudah ada mesin pencari canggih, tetap saja tidak semua orang punya waktu dan mungkin juga tidak punya kemampuan untuk melakukan penelitian terhadap artikel yang didapatkan. Kita beruntung karena ada beberapa pejuang anti hoax yang sedikit demi sedikit menginventarisasi aneka macam hoax yang beredar di masyarakat berikut penjelasan logisnya. Walaupun info hoax yang beredar jauh lebih banyak dan lebih cepat daripada inventarisasinya hehehe…
  4. Menganggap Hanya Share. Banyak juga umat Islam yang merasa tidak perlu bertanggung jawab atas info yang dia bagikan. Dalihnya, “Saya kan cuma share saja”. Padahal, ketika anda share, apalagi copy paste, maka orang akan menganggap anda yang memberikan informasinya. Atau minimal orang akan anggap anda sudah meneliti artikel itu dan valid. Apalagi jika anda seorang publik figure. Misalnya ustadz, kyai atau tokoh masyarakat.

Bahaya Share Hoax Tanpa Klarifikasi

Kalau orang yg suka bohong share sesuatu, orang masih curiga. Lha kalau seorang tokoh masyarakat yang share, orang akan langsung percaya dan melakukan share lagi ke teman-temannya.

Ketika teman-temannya tanya info darimana itu, dijawab ustadz anu yang ngasih tahu. Wah langsung deh mereka percaya dan share lagi ke teman-temannya yang lain lagi. Begitu seterusnya dari 10 orang jadi 100, lalu jadi 1000, 10.000, dst. Dan pergerakan ini sangat cepat karena untuk share tinggal pencet forward saja di WA. Sehari, 1 info bisa nyebar ke puluhan ribu orang.

Ketika perjalanan ke Jakarta beberapa waktu lalu, Polres Bojonegoro mencegat rombongan kami dan memaksa kami balik masuk ke kantor Polres. Ada seorang anggota rombongan yang kemudian share peristiwa itu. Dan subhanallah.. belum juga kami keluar polres, saya udah terima info itu bukan dari rombongan tapi dari grup kader di Kecamatan tempat saya tinggal. Dan kata teman-teman yg lain, mereka juga dapat info dari teman di kampungnya yg gak ikut perjalanan. Cepat sekali bukan?

Maka, penting sekali untuk melakukan klarifikasi sebelum share berita. Apalagi jika dlm kontennya menyebut salah satu tokoh atau public figure.

Langkah-langkah agar terhindar dari Hoax

Sebagai bonus, saya akan berikan beberapa tips agar anda terhindari dari share berita hoax:

  1. Ketika dpt info di grup, facebook atau dimanapun segera reply dan katakan “Mohon sabar, jangan keburu share. Saya pastikan kevalidannya dulu ya”
  2. Manfaatkan google, gunakan kalimat di artikel yang sedikit unik dan jarang dipakai di artikel lain.
  3. Jika info itu menyangkut pejabat publik, maka cari beritanya. Pejabat publik kalau ngomong pasti nyebar ke berbagai berita. Baca beberapa link berita untuk tahu maksud kata-kata beliau yang sesungguhnya apa.
  4. Berlatihlah membedakan mana BERITA dan mana OPINI karena jurnalis jaman sekarang suka mencampur adukkan dua hal ini.
  5. Jika hoax, copas berita2 terkait hoax itu untuk menetralisir.

Para perawi hadist itu, ketika dapat kabar suatu hadist, mereka ndak langsung nyebarin. Tapi diteliti dulu bahkan siap berjalan selama 3 bulan hanya untuk menemukan sanad-nya.

Bayangkan jika dulu para perawi hadist itu banyak-banyakan meriwayatkan hadist, pasti hari ini kita akan sholat pake hadist-hadist hoax alias palsu.

Hari ini, anda adalah perawi-perawi sejarah. Ada banyak kyai dan ustadz gaptek di luar sana yg akan langsung percaya kata-kata anda tanpa bisa nge-check hanya gara2 anda bisa facebookan dan dianggap paling update dalam memberikan informasi.

Bertanggung jawablah dan jangan gampang bilang, “Saya cuma share doang”.

Published by

Lutvi

Bukan Ustadz, bukan Dai apalagi Kyai. Juga bukan guru. Hanya sekedar santri miskin ilmu yang coba mengamalkan 1 ayat warisan dari para ulama. Saat ini diamanahi menjadi admin web WordPress Indonesia