Ibadah Giat vs Ibadah Cerdas

Secara umum umat Islam sepakat bahwa tujuan hidup di dunia ini adalah untuk mencari bekal di akherat. Meski pada kenyataannya kebanyakan justru mengejar dunia hingga lupa akherat. Tapi tetap ketika bertanya di hati yang terdalam kita semua sadar bahwa kita kelak akan meninggal dan akan dimintai pertanggung jawaban di hari akherat nanti.

Satu-satunya yang bisa menjadi bekal kita di hari akhir ternyata bukanlah harta yang kita tumpuk di dunia. Bukan pula jabatan yang tertinggi dan bukan juga teman-teman hebat yang kita miliki. Yang bisa menjadi bekal kita hanyalah amal ibadah yang kita lakukan selama di dunia.

sujud

Jika kita sudah sepakat soal ini, berarti untuk meraih sukses di akherat, caranya cuma 1 yaitu memperbanyak amal ibadah selama di dunia.

Kita sering mendengarkan berbagai ceramah yang intinya memperbanyak ibadah, giat ibadah, tirakat, dsb. Saya tak menyalahkan hal itu, tapi dibanding umat terdahulu, kalau cuma berbekal itu saja, mungkin kita gak akan selamat di hari akhir nanti¬†(na’udzubillah…).

Maka kita perlu melakukan lompatan usaha atau lompatan ibadah. Gak bisa lagi kita sekedar bermodal GIAT atau RAJIN IBADAH. Kita harus menjadi CERDAS IBADAH. Apalagi jika waktu kita untuk beribadah tidaklah sebanyak para ulama atau kyai. Maka ibadah cerdas adalah solusinya.

Ibadah cerdas adalah ibadah yang fokus pada ibadah-ibadah yang punya nilai kali. Contohnya memberi makan orang berbuka, ganjarannya sama dengan pahala orang tersebut. Jika kita ngasih makan orang 10, maka sama seperti kita puasa 10 hari. Inilah faktor kali.

Contoh lagi dibanding banyak berdzikir, saya lebih suka milih banyak tilawah. Karena dzikir itu sekali dzikir pahalanya 1. Sedangkan tilawah, hitungannya per huruf. Tilawah Alif Laam Mim dan baca Subhanallah 3x pahalanya sama.

Contoh yang lain adalah sedekah jariyah. Misalnya kita sedekah sarung ke seseorang, maka setiap kali orang itu sholat pakai sarung kita, kita dapat pahalanya. Hebatnya lagi walaupun kita meninggal, selama sarung itu dipakai kita masih dapat setoran pahala. Enak nggak tuh?

Ada 3 amalan yang tidak terputus meski pelakunya meninggal:

  1. Sedekah Jariyah
  2. Ilmu yang bermanfaat
  3. Anak sholeh yang senantiasa mendoakan orang tuanya

Kalau bisa, kita punya koleksi ketiganya.

Tentang sholat misalnya, sholat sendiri cuma dapat pahala 1, sedangkan sholat berjamaah nilainya 27x sholat sendiri. Belum lagi pahala berjalannya, karena setiap langkah dihitung pahala. Belum lagi ketika di masjid kita salaman dg saudara kita yang lain, maka bergugurlah dosa-dosa kita. Maka, sayang banget jika sholat kita cuma di rumah doang.

So, mari mulai menambah tabungan kita, meningkatkan dengan faktor kali. Kita gak pernah tahu seberapa banyak dosa yang telah kita lakukan baik sengaja maupun tidak. Kita juga gak bisa memastikan apakah istighfar kita diterima Allah atau tidak. Tapi semoga dengan upaya maksimal kita dalam ibadah, setidaknya kita bisa menyeimbangkan timbangan amal kebajikan nanti. Syukur-syukur jika amal kebajikannya lebih banyak. Aamiin…

Published by

Lutvi

Bukan Ustadz, bukan Dai apalagi Kyai. Juga bukan guru. Hanya sekedar santri miskin ilmu yang coba mengamalkan 1 ayat warisan dari para ulama. Saat ini diamanahi menjadi admin web WordPress Indonesia