Damping putra-putri anda saat nonton “Assalamualaikum Beijing”

Karena heboh di media sosial dan grup-grup Whats App, akhirnya saya bersedia nonton film ini bersama istri. Promonya sih ini film Islami dengan pesan-pesan moral yang baik. Namun menurut saya, orang tua tetap harus mendampingi putra-putrinya saat menonton film ini karena jika dilepas begitu saja akan cukup bahaya juga.

Memang dalam film itu tidak ada adegan ciuman. Bahkan pelukan aja cuma sekali itupun setelah Asma dan Chu Wen menikah. Di awal-awal film-pun si ChuWen ini bertanya apa boleh pegang tangan? boleh cium? boleh pelukan? Dan semua dijawab tidak boleh oleh Asma.

Tapiii… sepanjang film kita bisa melihat kedua insan ini berjalan berduaan di berbagai obyek di Beijing. Bahkan ada adegan boncengan dengan sepeda ontel juga.

Saya coba berikan sinopsis dikit ya.

poster-resmi-assalamualaikum-beijing-407x600Film ini berkisah tentang Asmara Nadia, seorang kontributor kolom di sebuah Tabloid. Di awal film sepertinya Asma akan menikah dengan Dewa tapi ternyata Dewa ini berzina dengan gadis lain hingga gadis itu hamil. Maka batallah pernikahan itu dan asma menyuruh Dewa menikahi gadis tersebut (kalau ndak salah namanya Anita).

Beberapa bulan paska gagalnya pernikahan tersebut Asma mendapat tugas ke Beijing untuk melakukan repotase kegiatan keislaman di sana. Di Beijing Asma punya sahabat bernama Sekar yang punya suami bernama Ridwan.

Ketika Asma melakukan kegiatan repotase dan naik bus, ketemulah dia dengan Chu Wen. Awalnya Asma mengira kalau Chu Wen ini orang china biasa yang gak paham bahasa Indonesia. Sehingga di bus itu dia asyik ngomongin ChuWen saat ditelpon Sekar.

Sebenarnya Asma sudah disiapkan Guide seorang cewek. Saya lupa namanya. Tapi guide ini dalam film cuma mendampingi Asma sehari saja. Nah, di hari berikutnya tiba-tiba guidenya diganti Chu Wen ini. Alasannya guide sebelumnnya sakit. Cuma kok ya sakit terus sehingga guide itu gak balik-balik hehehe…

Nah selanjutnya ya adegan jalan-jalan si Asma dan Chu Wen di Beijing termasuk pertanyaan Chu Wen soal pegangan tangan, ciuman dan pelukan itu. Di sinilah yang orang tua perlu menjelaskan bahwa gak cuma pegangan tangan, ciuman dan pelukan saja yang gak boleh, tapi jalan bareng non muhrim juga gak boleh apalagi cuma berduaan saja di negeri orang lagi.

Mungkin karena di Beijing ya makanya kita lalu menganggapnya wajar dan mau gimana lagi. Tapi sebagai seorang muslimah tetap harus meminta guide seorang wanita, bukannya laki-laki.

Oh iya, ada adegan lagi ketika Chu Wen menceritakan isi buku tentang Ashima. Saat ini si Asma nempeel banget dengan Chu Wen. Demi apa coba? Mungkin itu buku komik ya jadi musti dempet2-an gitu kalau baca -_-

Tapi kalau mau diambil positifnya sih memang ada. Semua film kalau mau diambil positifnya juga pasti ada. Namun untuk film Islami setidaknya harus ada penjelasan orang tua perihal film tersebut. Saya khawatir anak-anak muda yang belum banyak paham tentang syariat Islam akan menelannya mentah-mentah.

“Ooo… ternyata boleh toh pacaran dalam Islam, cuma gak boleh pegangan tangan, gak boleh ciuman dan gak boleh pelukan tapi jalan bareng boleh, berduaan boleh, baca buku bareng boleh, boncengan boleh”. Padahal dlm pacaran tahap awalnya ya memang seperti itu. 1-2 bulan cuma jalan bareng, setelah dekat dan mulai tak terpisahkan syetanpun mengajak untuk mencoba hal yang lebih jauh. Lalu kita sebagai orang tua mau ngawasin gimana kalau kita ijinkan anak gadis kita dibawa ke luar kota dengan alasan tuh di film Assalamualaikum Beijing malah sampai ke luar negeri.

Saya mengapresiasi mbak Asma Nadia dan kru film pembuatan film ini. Karena dibanding film lain, film ini lebih aman 🙂 Tapi karena ada bumbu Islami itu yang menjadikan film ini justru agak berbahaya terutama bagi remaja yang masih galau boleh tidaknya pacaran.

Jadi kita harus gimana soal film ini? Kalau ada dana lebih ya silahkan nonton, kalau nggak ada ya nggak usah dipaksakan. Kalau putra-putri sudah nonton, beri penjelasan bahwa film itu ditujukan untuk mereka yang pacarannya sudah kelewat batas. Sementara yg belum pacaran mending gak usah coba-coba deh. Tetaplah jomblo hingga menikah, insyaaLlah berkah 🙂

Published by

Lutvi

Bukan Ustadz, bukan Dai apalagi Kyai. Juga bukan guru. Hanya sekedar santri miskin ilmu yang coba mengamalkan 1 ayat warisan dari para ulama. Saat ini diamanahi menjadi admin web WordPress Indonesia

2 thoughts on “Damping putra-putri anda saat nonton “Assalamualaikum Beijing””

Comments are closed.