Anak saya punya buku yang di dalamnya menceritakan tentang ciptaan-ciptaan. Kebetulan yang ditunjuk oleh buku itu adalah ciptaan Allah yang biasanya kita kenal yaitu Matahari, manusia, bunga, air, dll. Nah, karena di dalam buku itu ada benda-benda yang biasanya kita katakan ciptaan manusia, maka saya tanyakan pada anak saya, “Kalau sabun ciptaan siapa?”

Karena hampir seluruh buku mengatakan ciptaan Allah dan gak dikenalkan ciptaan manusia, maka anak sayapun otomatis mengatakan Ciptaan Allah. Eh.. istri saya mencoba membenarkan,”Bukan nak, kalau sabun ciptaan manusia” Maka terjadilah diskusi antara saya dan istri. Saya katakan, sudah bener itu sabun ciptaan Allah. Manusia gak bisa ciptakan apa-apa.

Ciptaan Siapa?

Ciptaan Siapa?

Kalau sabun, mungkin agak sulit memahaminya karena bahan-bahannya sudah pengolahan ke sekian kalinya dari wujud alam-nya, jadi saya bawa istri ke “ciptaan manusia” yang sangat mudah dilihat wujud aslinya yaitu KURSI.

“Hayoo kalau kursi ciptaan siapa?”
Tentu istri jawab, “Ciptaan manusia”
Saya katakan lagi, “Kalau kayu?”
“Ciptaan Allah”
“Nah, gimana kalau kayu itu saya duduki. Sekarang kayu itu ciptaan siapa?”
Bingung deh istri saya hehehe…

Apakah hanya dengan menduduki kayu, kita sudah bisa dibilang sebagai pencipta kursi? Apakah dengan memotong kayu lalu menyusunnya sedemikian rupa kita sudah dianggap pencipta?

Ketika saya cerita hal ini di twitter, ternyata ada yang nyeletuk, maksudnya itu Ciptaan Allah tapi lewat tangan manusia. Nah, sayangnya di buku-buku pelajaran agama mulai TK sampai SD semua mengatakan bahwa kursi, meja, dll itu ciptaan manusia.

EFEK SAMPING CIPTAAN MANUSIA

Mungkin ada yang bertanya, “Ngapain juga sih memperdebatkan ini ciptaan siapa. Itu kan pelajaran TK”. Tapi tahu ndak, anak TK itu ada dalam Masa Keemasan. Apapun yang kita ajarkan pada mereka, akan langsung masuk dan terekam kuat dalam bawah sadar. Demikian juga saat kita mengatakan, “Rumah adalah ciptaan manusia, mobil ciptaan manusia, duit ciptaan manusia, dsb” maka secara otomatis alam bawah sadarnya merekam dengan sangat baik.

Akibatnya?

Sepuluh atau dua puluh tahun setelah itu saat si anak TK ini dewasa dan ingin mobil, kira2 siapa yang dicari?

PENCIPTA MOBIL !!

Dan karena dia yakin 100% pencipta mobil adalah manusia, maka dia akan mencari manusia. Dia mencari dealer, dia mencari manusia yang bisa bantu belikan mobil, dst. Dia akan kerja, menghamba pada manusia agar manusia itu bisa memberi dia mobil atau setidaknya uang untuk beli mobil.

Wahai guru-guru TK Pahami ini!! Anda telah menciptakan manusia2 baru yang lebih yakin pada manusia lain daripada pada pencipta yang sebenarnya yaitu ALLAH.

Anda masih tak percaya itu akibat salah mengajari siapa pencipta mobil? Oke, coba tanya diri sendiri deh. Saat kita butuh mobil kita cari siapa? Cari dealer kan? Nah, sekarang kalau kita butuh pasangan, siapa yang kita cari? Pasti pencipta pasangan yaitu Allah karena di TK kita diajari pencipta manusia adalah Allah. Saat ada hujan lebat, kita bilang apa? Ya Allah kok hujan sih (itu kalau protes) atau Ya Allah alhamdulillah hujan (itu kalau lagi butuh hujan). Kenapa?

Tepat! Karena waktu TK kita diajari hujan itu ciptaan Allah.

Kalo kita dikasih mobil.. kira-kira bilang apa? Wah terima kasih ya pak. Terima kasih sama manusia. Kenapa? Karena yang ciptakan mobil manusia.

EFEK POSITIF CIPTAAN ALLAH

Tapi apa yang terjadi jika kita bilang, SEMUA CIPTAAN ALLAH. Pas pengen mobil, otomatis otak akan cari siapa yang bikin mobil. Karena percaya yang bikin mobil Allah, maka kita akan cari Allah. Dan karena Allah gampang dicari, maka tinggal gelar sajadah, dhuha dan minta sama Allah.

Berarti kalau mau mobil kita berdoa trus mobil turun dari langit gitu?

Nah, ini ucapan orang sinis. Saya akan balik bertanya, trus kalau minta sama manusia anda akan langsung dikasih gitu? Ooo tidak bisa. Anda harus kerja dulu bertahun-tahun, nabung baru bisa beli mobil. Atau mengajukan kredit dulu ke bank dan harus bayar sekian juta tiap bulan supaya mobilnya lunas. Saat ini punya cash-pun butuh proses hingga mobil itu datang ke rumah kita.

Demikian juga ketika kita minta sama Allah. Ada yg langsung dikasih, begitu doa mobil datang. Ini serius karena saya mengalaminya sendiri. Doa pagi, setengah siang mobilnya datang. hehehe…

Ada juga harus nunggu beberapa hari (ini juga pernah saya alami)

Ada yang harus nunggu 2 pekan (saya udah cerita yang ini kan?)

Ada pula yang nunggu bertahun-tahun karena harus nabung mengingat dosa kita lebih banyak dari amal. Atau amal yng kita persembahkan masih terlampau kecil dibanding permintaan.

Ok, berarti kalau udah tiba waktunya Allah datang trus ngasih mobil gitu?

Emang kalau beli mobil biasanya, president direkturnya yang nganter mobil? Yang adil dong kalau membandingkan. Allah amat sangat jauh kedudukannya di atas CEO produsen mobil terbaik sekalipun. Kalau cuma ngirim mobil, cukup utusan-utusannya aja. Bisa jadi utusan itu juga manusia sama seperti kita. Sebagaimana yang ngantar mobil saat beli di dealer juga sopir yang kelasnya jauh di bawah kita. So what gitu loch!

Tapi mas, kalau anak saya jawab ciptaan Allah disalahkan dong sama gurunya

Trus? Gue harus bilang WOW gitu? Ya biarin toh disalahkan sama orang gak ngerti. Emang guru itu Allah atau nabi yang nggak punya salah. Trus kalau anak kita disalahkan gara2 dia menjawab benar maka dengan sim salabim aturan dunia ini ikut berubah? Ya ndak lah.

Kalau perlu tunjukin deh artikel ini ke gurunya anak-anak. Ajak dialog seperti saya dan istri. Kalau perlu lagi bawa kayu yang bisa dipakai tempat duduk lalu tanyakan kalau ini ciptaan siapa? hehehe…

Terakhir buat yang ngeyel, coba saya tanya, Mobil ciptaan siapa? Kalau anda jawab ciptaan manusia berarti anda nggak tahu gimana mobil dibuat. Saat ini hampir 100% mobil dibuat dengan teknologi robot. Manusia cuma pegang komputer doang. Berarti mobil ciptaan robot dong? Kan yang bikin robot. Kalau anda bilang, kan yang mengendalikan robot manusia. Bukan juga, yang mengendalikan adalah komputer. Kalau dibilang yang ngendalikan komputer kan manusia? Lha saya tanya, trus yang mengendalikan manusia siapa?

9 Responses so far.

  1. Muha says:

    Haha.. mantap dan setuju sekali. Saya sendiri mengerti bahwa semuanya ciptaan Allah, tapi lebih sering lupanya, hihi. Atau lebih tepatnya ga sadar.

    Konsepnya luar biasa, pingin apa aja minta ke Yang Maha Pencipta.

    Syukron pak :-)

  2. febrian hadi says:

    Bener dah. Makasi sudah diingetin :)

  3. nita says:

    mantab renungannya pagi ini, setuju banget thanks pencerahannya

  4. Bismillahirrahmanirrahim.

    Allah Ta’ala berfirman (artinya):

    “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”

    (QS. Ash-Shaaffaat: 96)

  5. triawan says:

    iya bener juga ya… mantab banget artikelnya mas..

  6. fauzionline says:

    diputer- puter nih kata- katanya

  7. fachrul says:

    yg dimaksud ciptaan untuk mobil, sabun, kursi, itu mengarah ke artian “yg membuat (pembuat)” mas, bukan diartikan seperti Allah menciptakan manusia, matahari, ataupun bulan. “Pencipta sabun” itu berarti seseorang yang membuat sabun pertama kali, “Pencipta Lagu Indonesia Raya adalah WR Supratman” itu berarti atau dalam takaran arti pembuat lagu Indonesia Raya itu adalah Bp. WR Supratman. Saya jadi ingat, sebuah cerita guyonan, ada seseorang yg mencuri tp tidak merasa bersalah sm sekali, ketika orang tsb ditanya, kenapa kok tidak merasa bersalah setelah mencuri, dia menjawab “semuanya ini milik Allah kok”.
    Salam.

    • admin says:

      Belum tahu ya? Sekarang tuh para musisi sudah sadar kalau mereka bukan pencipta. Maka istilah yang dipakai sekarang adalah PENGGUBAH. Jadi WR Supratman bukan pencipta, tapi PENGGUBAH.

      Kalau pencipta sabun disebut membuat sabun pertama kali, lagi-lagi keliru karena pembuat pertama disebut PENEMU bukan PENCIPTA

      Dan tahu ndak kalau sekarang pembuat mobil bukan disebut pencipta mobil tapi PERAKIT Mobil atau DESAINER Mobil.

      Hanya GURU TK dan SD saja yang masih berpikiran JADUL dengan enggan mengubah istilah PENCIPTA menjadi PENGGUBAH, PEMBUAT, PERAKIT, DLL.

  8. Jefry says:

    Sayangnya guru2 TK tidak dibekali ilmu agama yang cukup mumpuni, padahal sangat baik bila sedini mungkin seorang anak mengenal siapa Tuhannya. Insya Allah setelah dewasa mereka akan menjadi manusia berakal pintar dan religiius..

Berdakwah Tanpa Suara, Menulis Tanpa Pena

Foto LutviNama saya Lutvi Avandi. Bukan Ustadz, bukan Dai apalagi Kyai. Juga bukan guru. Hanya sekedar santri miskin ilmu yang coba mengamalkan 1 ayat warisan dari para ulama.