Server KPU diserang Hacker?

No System is Safe

Itu adalah prinsip yang dipegang oleh para hacker dan cracker. Hacker adalah orang-orang yang melakukan penetrasi ke system dengan tujuan untuk mengetahui kelemahan suatu system dan kemudian melakukan tindakan antisipasi keamanannya. Sedangkan cracker beda lagi, mereka melakukan penetrasi ke system guna untuk merusak system tersebut.

Tadi malam dikabarkan ada serangan hacker ke server KPU. Beritanya cukup heboh dan ada berbagai macam versi. Salah satu yang terbaru adalah ini: Continue reading Server KPU diserang Hacker?

Netral atau Memihak

Pagi itu saya dan pak RT harus menjadi mediator perselisihan dari dua orang warga. Masalah ketidaknyamanan atas kegiatan dari salah satu warga. Sebelum acara dimulai, Pak RT memberikan brieafing sebentar. Salah satu pesan beliau adalah kita kan cuma mediator pak, jadi harus tidak memihak alias netral. Continue reading Netral atau Memihak

Strategi dibalik Aksi Boikot

Boleh dibilang, saat ini kita dlm kondisi perang. Perang di jaman ini bukan menggunakan peluru atau rudal, tapi menggunakan opini. Tujuan akhirnya ya kekuasaan. Karena penguasa, punya semua sumber daya untuk menjalankan misi-misinya sendiri.

Jika kekuasaan dipegang non muslim, sudah pasti misi agamanya lebih didahulukan daripada misi agama lain. Soal alasan, ah gampang banget bikin alasan yang “masuk akal” apalagi jika didukung oleh media. Alasan paling konyolpun bisa dipakai. Gak perlu mikir lama-lama.

strategi-perang

Continue reading Strategi dibalik Aksi Boikot

ISIS dan PKI

Mengamati berbagai pemberitaan di media online baik dari media mainstream maupun yang underground saya kok jadi bingung ya dengan sikap pemerintah saat ini. Entah sehebat apa ISIS itu hingga upaya pencegahannya begitu luar biasa. Bagaimana mungkin sebuah rumah yang isinya cuma seorang wanita dg 3 anak kecil-kecil digerebek densus, sementara di lain pihak sekelompok anak muda dengan terang-terang membentangkan bendera PKI.

bendera-pki

Continue reading ISIS dan PKI

Pertarungan Pengkhianat vs Korban?

pengkhianatInspirasi artikel ini datang dari membaca beberapa ejekan lucu dari kubu Poros Jusuf Kalla kepada Poros Prabowo bahwa isi koalisi Prabowo mengumpulkan partai atau barisan sakit hati dari kelompok yang ditolak atau dihianati. Kalau dilihat sekilas ejekan ini ada benarnya, namun sayangnya fanboi Jokowi yang mendukung Poros Jusuf Kalla tersebut tidak sadar bahwa hal ini berarti kubu Jusuf Kalla diisi oleh kumpulan penghianat yang tidak bisa dipegang omongannya, tipe pagi tempe, sore tahu. Continue reading Pertarungan Pengkhianat vs Korban?

Selokan Mampet

Selokan Negeriku
Selokan Negeriku

Apa yang kita pikirkan saat melewati sebuah kampung dengan selokan yang mampet dan di dalamnya bertumpuk sampah beraneka rupa? Pemandangan itupun kemudian dilengkapi dengan bau tak sedap yang mengiringi perjalanan kita menyusuri kampung tersebut. Apa yang akan kita lakukan kemudian jika kampung itu ternyata adalah kampung halaman kita sendiri?

Biasanya akan ada 3 pilihan ketika dihadapkan dengan situasi seperti itu:

  1. Membiarkan saja, bahkan kadang malah ikut menambah parah dengan membuang sampah di selokan yang sudah penuh sampah itu.
  2. Protes pada para aparat kampung kenapa kok lingkungan tidak bersih, kenapa sampah numpuk dan kenapa-kenapa yang lain
  3. Berusaha membersihkan selokan dengan peralatan apapun yang tersedia meski kemungkinan untuk bersih total sangatlah kecil

Saudaraku…

Negeri kita ini seperti sebuah kampung kumuh dengan selokan yang mampet oleh sampah-sampah ketidak jujuran, sampah korupsi, sampah rendahnya moral, sampah nafsu, sampah hilangnya keimanan. Penuh sekali hingga sulit rasanya kita membedakan mana tempat sampah dan mana selokan. Continue reading Selokan Mampet

Percaya Diri vs Sombong

Hari ini begitu mudahnya orang menuduh orang lain “sombong” padahal seringkali yang bersangkutan mencoba untuk menunjukkan kepercayaan dirinya. Bahkan yang lebih lucu lagi, saya pernah ditanya seseorang pertanyaan yang saya tak bisa menjawabnya. Karena gak tahu ya saya jawab maaf saya nggak tahu. Eh tiba-tiba dia SMS, “Ditanyain gitu aja gak mau jawab, orang kalau udah sukses pasti sombong”. Dyarr… ini yang edan saya atau kebetulan di SMS orang edan? wkwkwk…

Jika kita menjalani hidup berdasarkan pendapat orang lain, maka selamat datang di kehidupan yang serba menyusahkan. Apapun yang kita lakukan pasti bisa di cela. Ketika kita berkata, “Saya adalah programmer top Indonesia” orang akan berkata, “Sombong banget”. Lalu saat kita berkata, “Saya cuma programmer biasa” maka orang akan berkata, “Orang kok lemes gak punya semangat dan kepercayaan diri” hehehe…

Jadi harus gimana dong?

Allah mengajari kita lewat kalimat yang menjadi SYARAT MUTLAK masuk Islam. Laa ilaaha illallah… Muhammadan Rosulullah.. Tidak ada Illah kecuali Allah. Illah itu apa? Illah itu pembimbing, yang dicintai, yang dipanuti, yang ditakuti pokoknya yang segala-galanya bagi kita. Tempat kita meminta perlindungan sekaligus memohon harapan.

Kembali ke soal sombong. Sombong itu artinya apa sih? Jika mengacu pada peristiwa perintah sujud kepada nabi Adam dimana saat itu Iblis enggan menuruti perintah karena merasa lebih baik maka sombong adalah:

MERENDAHKAN ORANG LAIN DAN MENGANGGAP DIRINYA LEBIH DARIPADA ORANG TERSEBUT

Jadi, jika ada dalam diri kita merasa lebih yang diikuti dengan merendahkan pihak lain, maka itulah bentuk kesombongan. Lebih disini tidak harus lebih baik lho, sering kali justru lebih buruk. Contohnya seperti ini:

Ada seorang pengusaha mengatakan, “Saya biasa sholat dhuha 8 rakaat dan sedekah minimal 20% dari penghasilan”. Lalu kita mengatakan, “Gitu aja diomongkan. Dasar riya'”.

Nah, perkataan seperti ini menunjukkan kesombongan kita. Merasa dirinya LEBIH IKHLAS dari pengusaha itu. Dan boleh jadi juga menunjukkan kalau dia lebih buruk artinya mungkin dia malah dhuhanya cuma 2 atau 4 rakaat itupun bolong-bolong atau sedekahnya cuma 2,5% doang ­čÖé

Contoh lain:

Ada mobil lewat depan kita, lalu teman kita berkata, “Wah pak Bejo pakai mobil mercy sekarang”. Lalu kita nyeletuk, “Mentang-mentang punya mobil baru tuh dipamer-pamerin. Dasar orang kaya sombong”.

Dalam kasus ini, kita sudah merasa LEBIH RENDAH DIRI dari pak Bejo. Ada juga merasa LEBIH MISKIN, merasa LEBIH LOW PROFILE, merasa LEBIH JELEK mungkin? Pokoknya kalau merasa lebih daripada orang lain yang diikuti dengan merendahkan pihak lain, maka kita sudah masuk dalam kesombongan.

Bagaimana dengan orang yang membanggakan diri?

Bangga dengan diri sendiri itu harus, bahkan wajib. Tapi jangan merendahkan orang lain. Tak perlu membuat perbandingan, karena ketika ada pembanding, saat itulah kita sudah jatuh pada kesombongan. Contohnya gini, kita tulis di profil twitter:

“Saya adalah programmer top Indonesia, pengusaha online dan menguasai PHP, HTML, MySQL dan Javascript.”

Itu adalah bentuk kepercayaan diri. Sedangkan jika seperti ini:

“Kalau cuma gitu aja sih, saya juga bisa”

Itulah bentuk kesombongan. Jadi selama ada pembanding, maka disitulah letak kesombongan. Bagaimanakah jika terjadi persaingan. Misalnya dalam urusan proyek. Maka gunakan bahasa yang dipakai antara Jin Ifrit dan Ulama saat nabi Sulaiman menawarkan tender memindah singgasana ratu Balqis. Apa kata Jin Ifrit?

“Saya dapat memindah singgasana sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu”

dan apa kata Ulama?

“Saya dapat memindah singgasana sebelum matamu selesai berkedip”

Lihat? Keduanya menggunakan kalimat kepercayaan diri. Sama sekali tak ada upaya menjatuhkan pesaing. Seandainya saja semua pengusaha dan politikus menggunakan konsep ini, pasti negeri ini akan sangat jauh berkembang.

Capres A : “Saya punya rencana untuk menjadikan rupiah menguat hingga Rp. 2500/USD”
Capres B : “Saya akan buat negeri ini jadi negeri pengekspor beras terbesar di dunia”
Capres C : “Program saya akan menghasilkan 2 juta pengusaha baru dalam 5 tahun ke depan”

Wow… menyenangkan bukan kalau pemilu isinya seperti itu. Kita kemudian jadi males ketika kemudian mulai ada kampanye negatif, saling menjatuhkan dan mengungkap aib kompetitor. Akhirnya energi untuk meningkatkan kualitas negeri habis hanya untuk menyerang dan menyerang balik ­čÖü

Bersainglah seperti perlombaan lari. Semua berhasil sampai finish yang membedakan hanyalah kecepatannya saja

Iblis dijamin masuk neraka karena sombong. Apakah kita juga mau ikut-ikutan?

Pontianak Kota Damai!!

Peristiwa pemasangan spanduk berisi penolakan keberadaan Front Pembela Islam (FPI) di Kalimantan Barat, yang nyaris memicu terjadinya kericuhan antara FPI dan mahasiswa membuat masyarakat Kalbar pada umumnya dan Kota Pontianak khususnya menjadi sedih.

Sebab, ibukota provinsi Bumi Khatulistiwa tersebut selama ini selalu terjaga keamanan dan ketertibannya.

Tokoh masyarakat Kalbar sekaligus rohaniawan, Barnabas Simin, mengatakan bahwa seharusnya pemerintah dapat mengayomi dalam melindungi warga negaranya.

Selain itu, ia juga menilai keberadaan FPI merupakan lembaga sah dan resmi karena memiliki badan hukum yang sah dan kuat. “Sama seperti hal organisasi Pemuda Dayak maupun Pemuda Melayu,” kata Barnabas Simin di Pontianak.

“Damai itu indah. Mereka dilindungi oleh UU. Tidak ada seorang pun yang melakukan intervensi. Namun, jika lembaga itu diplot dalam membangun daerah, sudah sepatutnya mereka mengikuti hal tersebut,” tambah dia.

Menurut Barnabas , masyarakat bisa memilah-milah peristiwa yang terjadi itu. Sebab, persoalan tersebut  bukan masalah suku, agama maupun ras yang ditonjolkan. Namun, hanya perbedaan pendapat.

“Seperti firman Allah, memberikan berbagai macam suku dan bangsa akan memberikan sebuah keindahan di dalam hidup. Agama itu merupakan pilihan,” tuturnya.

Pada umumnya, jelas Barnabas, Provinsi Kalimantan Barat itu terdiri 18 suku yang ada yang ada di wilayah ini. Tiga di antaranya merupakan suku terbesar. Yakni Suku Dayak, Melayu, dan Tionghoa. Dan sudah seharusnya, suku mayoritas dapat mengayomi kepada suku yang minoritas.

“Selama kita sebagai umat beragama dan beriman, kita selalu menempatkan diri kita menjadi orang beriman untuk menjadi warga bangsa Indonesia, umat yang beragama, dan menjadi warga yang baik,” ujarnya.

Barnabas cukup menyesalkan adanya tindakan yang sangat luar biasa tersebut. Ibarat api yang kecil menjadi besar. Karena itu, ia berharap agar persoalan kecil itu dibuat hilang dan api besar setidak-tidaknya menjadi sebuah api kecil. “Jangan sampai, perdebatan itu membuat masyarakat Kalbar secara keseluruhan menjadi rugi,” tuturnya.

Untuk itu, kata Barnabas, dirinya mengimbau kepada seluruh warga Kalbar khususnya umat Kristiani dan Dayak agar dapat menahan diri agar tidak terpancing provokasi isu negatif. Selanjutnya, tenaga pendidik juga meminta agar seluruh masyarakat Dayak maupun Melayu agar tidak turun ke Kota Pontianak.

“Kota Pontianak ini bukan untuk kelahi. Bukan tempat bertikai. Tetapi kota ini merupakan kota damai,” kata Barnabas.

[BUKTI] SalingSapa.com sudah beli Lisensi

Jujur saja, saya sebel banget dengan pembuatn thread di kaskus. Entah karena dia gak punya anak atau karena sebel karena bukan dia yang diekspos media sehingga bikin tuduhan keji seperti itu. Tapi biarlah, Allah punya cara sendiri untuk memberikan keadilan.

Seperti diketahui saat ini Muhammad Yahya Harlan tengah dikeroyok banyak orang gara-gara media yang asal aja ngecap. Anak SMP kelas 1 itu harus menghadapi kata-kata dari mulut yang seharusnya layak disumpal dengan kotoran kambing biar diam.

Pertama yang harus saya sampaikan adalah. Para pengkritik itu sudah bego sejak awal. Sudah tahu ini anak SMP, ya jelas gak akan bikin benar-benar dari nol lah. Saya sendiri waktu tahu salingsapa.com dari acara Majelis Adz-Dzikra langsung tahu kok kalau si Yahya menggunakan script gratisan sebagai mesin utamanya. Continue reading [BUKTI] SalingSapa.com sudah beli Lisensi