Bugs Hunting

Bugs atau serangga memang cukup mengganggu dan menyebalkan. Apalagi serangga yg tidak kasat mata, tapi keberadaannya dapat kita rasakan seperti kulit kepala yg gatal atau badan yg gatal. Tapi kali ini kita tidak sedang membicarakan bugs yg itu, kita akan bicara tentang bugs pada software.

bugs

No..no..no.. jangan dibayangkan ada serangga beneran yg menggerogoti software kita, lho. Hmm… saya jadi teringat adik ipar saya yg jualan asesoris HP termasuk flashdisk. Kebetulan flashdisk yg dia jual yg model tanpa tutup, jadi cuma digeser-geser gitu aja.

Nah, suatu hari ada seorang mahasiswa datang ke counter dan membeli flashdisk. Setelah ditunjukkan, mahasiswa itu protes, “Nggak ada tutupnya mas?”
“Nggak ada”, kata pegawai yg jaga counter
“Wah punya saya yg pakai tutup aja kena virus, apalagi gak ada tutupnya”
Dia pun nggak jadi beli dan ngeloyor pergi.

Tuh pegawai cuma bisa melongo lalu ketawa ngakak. Lha masak virus bisa masuk flashdisk gara-gara nggak ada tutupnya wkwkwk…

Nah, bugs pada software itu ibarat virus pada flashdisk. Jadi please.. jangan coba-coba semprot laptopmu dengan pembasmi serangga hanya gara-gara developernya bilang ada beberapa bug di software yang kamu punya. Jadi itu cuma istilah saja berdasarkan sifat-sifatnya. Kalau yg suka bikin komputer sakit dan menular ke komputer2 lain, itu namanya virus, nah kalau yg cuma bikin jengkel aja, itu namanya bug.

BUGS HUNTER

Mencari bugs itu bukan perkara mudah. Mengingat kesalahannya kadang sangat kecil, sangat remeh tapi bisa bikin software berjalan dengan kurang optimal. Butuh banyak waktu untuk menemukan seluruh bugs pada software. Biasanya gak semua bugs bisa ditemukan, atau kadang malah nemu 1 bugs, berhasil diatasi, eh muncul bug baru lagi.

Buat kita yg end users alias pengguna software, kita kadang gak tahu bahwa software yg kita pakai sebenarnya masih ada masalah. Biasanya asal softwarenya berjalan seperti yang kita bayangkan, maka kita anggap software itu sudah bagus.

Tapi dari sisi developer yg tahu persis ada masalah di sana, akan jadi PR yg harus cepat diatasi dengan segera. Jika berhasil, maka developer akan merilis update terbaru softwarenya dengan bugs yang sudah ditemukan dan diatasi sebelumnya.

Jadi, jika pengembang software-mu misalnya WordPress, sering update, jangan manyun. Justru itulah wujud nyata jika mereka terus bekerja mengembangkan software ini hingga mendekati titik sempurna.

Saya pribadi sebenarnya lebih suka update minor daripada update mayor. Update minor biasanya hanya menangani bug2 yang berhasil ditemukan saja, sedangkan update mayor biasanya menambah fitur-fitur software. Masalahnya ketika ada tambahan fitur, berarti akan ada tambahan bugs 😀

Nah, segitu dulu deh sharing soal bugs. Saya juga 2 hari ini nemu bugs di software bikinan saya. Musti cepet di basmi… Jumpa lagi di artikel selanjutnya.

Published by

Lutvi

Bukan Ustadz, bukan Dai apalagi Kyai. Juga bukan guru. Hanya sekedar santri miskin ilmu yang coba mengamalkan 1 ayat warisan dari para ulama. Saat ini diamanahi menjadi admin web WordPress Indonesia